Sabtu, 06 Agustus 2011

Hanya Brahman Yang Ada, tak ada yang lain.


Hanya Brahman Yang Ada, tak ada yang lain.
Dicuplik dan diterjemahkan oleh Ngurah Agung dari: Essays on the Upanishads.
Kabir Sahib: Sebuah Pelajaran Universalitas Keagamaan, Carilah Tuhan
di Dalam Dirimu

Kabir Sahib seorang Guru suci Kenamaan (1440-1518 M) yang hidup di
Benares dan mengkhotbahkanpraktek Yoga Surat Shabda.Kabir Sahib
menerangkan secara terperinci apa yang telah lihat di dalam tubuh. Ia
berkata “ Aku kan menceritakan kepadamu apa yang telah Tuhan tempatkan
di dalam tubuh.Tubuh kita adalah sebuah istana, dimana jiwa adalah
bagaikan seorang istri tercinta dan Tuhan adalah suaminya. Mereka
berada dalam rumah itu selama berabad-abad, tetapi tak pernah saling
bertemu” . Ini adalah pengalaman semua orang suci di berbagai agama
monotheisme yang telah menjelajah Jalan Rohani dan telah bertemu muka
dengan Tuhan.

Tubuh ini terbagi menjadi empat alam, yaitu Pinda/tubuh jasmani/
bendawi: Anda, alam bendawi-rohani:Brahmanda ,alam bendawi-rohani yang
lebih luhur dan Sach Khand, alam roh murni yang terluhur dan paling
sempurna. Sach Khand adalah alam satu2nya yang kekal
Bagaimana kita dapat naik ke Sach Khand? Kabir menjawab “ tutuplah
mata,telinga dan mulut dan dengarkan suara jangkerik”. Tutuplah mata
jasmani anda dan lihatlah dengan mata rohani. Demikian pula,tutup
telinga jasmani anda dan dengarkanlah dengan telinga rohani. Bila anda
telah melakukan hal itu dan perhatian kita terkumpul di pusat mata,
maka cahaya akan tampak. Jalan rohani ini/ sant Mat dimulai dari mata
ketiga ini. Guru Nanak berkata /” jala menuju Tuhan adalah
sepersepuluh tebal rambut. Para Suci yang lain menyebut jalan ini
lebih halus atau lebih sempit dari lubang jarum. Dalm islam jalan ini
dilakukan dengan zikrulloh ismul adhom= simran dan bhajan Nam dhun
atmak-nama Tuhan yang tak dapat dikatakan/ atau asma ul husna yang ke
seratus seperti Ruzbihan Baqli dan Para Sufi Qadiri-Chistiya India
Selatan

Pemujaan sejati adalah merenungkan Nam
Tanpa Nam tidak ada pemujaan
Kita memandikan berhala dari luar
Namun jika sebaliknya kita mencuci pikiran
Maka pembungkus ego akan lepas
Dan kita memperoleh keselamatan
Oleh Guru Nanak


Kisah kematian Kabir Sahib

Suatu pagi setelah memberi penjelasan/kajian pelajaran kepada para
muridnya yang beragama hindhu dan muslim, Kabir beristirahat di
gubuknya dengan sebuah intruksi bahwa dia tidak boleh diganggu selam
istirahat. Ketika sampai sore hari , Kabir tidak kunjung keluar,
beberapa muridnya ragu dan hendak melihat beliau dan menanyakan
kondisinya. Ketika melihat bahwa sang guru sudah meninggal tergeletak
dengan kain yang menutupi tubuhnya, para muridnya, dari kalangan
muslim dan hindhu saling berdebat. Ada yang menghendaki di kubur
secara islam, ada yang menghendaki dikubur secara hindhu. Setelah
melewati perdebatan yang panas dan melelahkan. Sultan Vir Baghela
Singh menghendaki secara hindhu sedangkan Nawab Bijli khan menghendaki
secara muslim. Akhirnya muridnya hendak menganbil jasad sang Guru
Kabir, apa daya Jasad sang guru telah menghilang dan ganti menjadi
kumpulan bunga yang segar.inilah akhir dari perdebatan di antara
murid2nya. Kabir Sahib menekankan pelajaran bathin bagaiman seharusnya
manusia bertemu Tuhhannya selam masih hidep di dunia,zdia tidak peduli
dengan formalitas keagamaan yang bersifat formal baik hindhu ataupun
muslim.semua agama mengajarkan kebaikan kebaikan ,tetapi yang penting
menurut Kabir Sahib temuilah Tuhanmu selagi masih hidup


Jumpailah Tuhan Kekasihmu Di Dalam Dirimu Sendiri
Oleh Kabir Sahib

Pandanglah kekasimu dengan mata rohani
Di tempat dimana Ia bersemayam
Lepaskan nafsu berahi.ketamakan,kemarahan, dan kesombongan
Gantikan dengan pengendalian diri
Pengampunan,kebenaran, dan kepuasan
Wahai pikiran yang licik,hindarilah mabuk dan makanan daging
Dan dengan menunggangi kuda pengetahuan
Tinggalkanlah sandiwara palsu yang fana ini

Setelah melakukan Dhoti,Neti dan wasti
Duduklah bersila dalam padmasana
Setelah khumbak selesai,mulailah dengan rechak
Dan setelah membersihkan ganglion bawah itu
Selesailah seluruh tugasmu

Padma berkelopak empat melai merekah di taman muladhar
Disan suara “kilyng”terdengar ,warna merah merona
Disan ,Dewa Ganesha yang kesaktiannya terwujud
Melalui ridhi dan sidhi, di atasnya kipas meliuk-liuk

padma berkelopak enam
Terletak di ganglion seks
Disana Nagin hidup terjungkal
Hancur leburkan dia hingga mati
Disana irama Onkar terdengar
Kata itu selalu diulang-ulang

di pusar,padama merekah,delapan jumlah kelopaknya
Di ats singgasana putih,Wisnu bersinar megah
Suara merdu “hiring” mengalun,dari mulut dewa yang cemerlang
Daripadnya Syiwa dan Laksmi, si Kembar, selalu bergantung

padma berkelopak dubelas,merka di ganglion jantung
Disan tampakbentuk Syiwa,Jung dan Gauri
Iram sabda seperti”Sohang” mengalun
Pekikan kemenangan keluar. Dari para Ganas

padma berkelopak dua terletak di kerongkongan
Disan ,Dewi Avidya meresapi dengan dirinya
Brahma,WIsnu dan Syiwa mengipasinya
Dan keluarlah aluna lagu “Shirhyng”

di atas situ wahai saudara.
Pandanglah padma Madu Surgawi
Dua bentuk terlihat- putih, dan yang lain bercorak hitam,
Di balik mata ia terletak
Disana Nij Man memerintah dalam kebesaran

terungkap sudah rahasia padma padma itu
Dalm batas Pinda ,semua ciptaan ini terletak
Sekarang, hadirilah satsang
Dapatkan guru sejati
Yang akan mengulang-ngulang Satnam
Dan Ia akan menunjukkan jalannya

tutup matamu,mulut dan telinga
Dengarlah suara cengkerik/jangkrik
Sebagai iram Anhad
Satukan kedua manik matamu, masuk;lah ke dalam
Pandanglah taman berbunga

satukan bulan dan matahari
Renungkan Sukhman
Bersatulah dengan Firman di Tribeni
Dengan menyeberangi alam itu
Ilusi akan menjauhimu

Gong dipukul,siput laut ditiup
Dan mengalunlah musik ilahi
Dari padma berkelopak seribu
Terangnya bagaikan pasar malam
Yang penuh dengan lampu
Disana pencipta tinggal
Penguasa dari semua yang ada di bawahnya
Masukilah terowongan bengkok
Keluarlah dari sana

Dak”ni ,Sak”ni berteriak nyaring
Kaki tangan Yama dan malaikattul maut
Menjerit dan memekikj
Mendengar Satnam,mereka semua lari
Bila Firman Satguru kau ucapkan

Dalam batas alam surga
Terdapat sumur terbalik
Daripadanya ,para Gurumukh dan Mistik
Minum sekenyang-kenyangnya
Tetapi mereka yang tidak berguru
Tidak mmemiliki ragi rohani
Sehingga mereka tetap kekeringan dan kehausan
Kemurungan menyelimuti pikiran, ia tinggal di kegelapan

Trikuthi adalah istana
Sumber pengetahuan
Diman petir dan genderang menjadi tandanya
Warna merah matahari senja
Memancarkan kemilauan
Padma berkelopak empat ada disana
Dimana lagu Onkara selalu berkumandang

Barangsiap mencapai alam ini
Seorang Sadhu sejati lah ia
Rahasia kesembilan pintu tubuh
Terungkap baginya
Ia sekarang melejit melewati pintu ke sepuluh
Yang selalu terkunci

Svetsun treletak diatas nya
Mandilah di Mansar
Temuilah para Hansa, jadikan dirimu Hansa
Sekarang,hidup dari madu, minumlah itu selalu

Suara Harpa dan mandolin, kecapi semua nya terdengar
Dimana Akshar Brahm senantiasa bertahta di Sunn
Cahayanya seperti 12 matahari
Memancar dari masing-masing Hansa
Kata “Rarankar” memancar dari padma berkelopak delapan

Lautan Maha Sunn penuh dengan bahaya
Tanpa Satguru, tidak ada yang meneukan jalan keluarnya
Serigala dan singa mencari mangsanya: Ular ular siap mematuk
Di san suara Sehaj Achint
Mengelegar, mengalun dan mengimbau

Di Par Brahm wahai saudara
Terdapat padma berkelopak delapan
Di sebelahnya kanannya ada yang berkelopak dua belas yaitu Achint
Dis ebelah kirinya adalah Sehaj yang berkelopak sepuluh
Begitulah susunan padma padma itu

kelima Brahm, semua terbungkus dalam telur.
Dan kelima-limanya, kitasebut Neh-akshar.
Di sana tersembunyiempat alam
Yang dihuni oleh para tawanan Purush.

Pandanglah titik pertemuan dua gunung,
Dari Bhanwar Gupa, para Suci menyambut Para Hansa.
Di sana satguru bertahta.

Di sana 88.000 pulau diciptakanoleh sang Pencipta
Tempat-tempat bertatahkan batu permata yang melingkar.
Di sana lagu seruling dan biola terus terdengar.
Dan kata “Sohang” selalu berkumandang.

Bila perbatasan sohang telah kau lewati, wahai Saudara,
Masukilah alam Sat Lok.
Di sana bau-bauan yang harum senantiasa memancar,
Sungguh gaib dan tak terlukiskan.

Masing-masing hansa bermandikan cahaya enambelas malaikat matahari.
Dan musik seruling menabjubkan selalu terdengar.
Kipas para hansa melambai-lambai
Di atas mahkota raja.
Begitulah istana Raja itu, yakni Sat Purush.

Sinar sepuluh juta matahari
Dan sepuluh juta bulan terlihat suram,
Bila dibandingkan dengan kecermelangan
Satu helai rambut-Nya.
Di sana Alakh, Tuhan yang tak terlihat, memerintah.

Di atas situ, istana yang penuh takjub
Dihuni dan dipelihara oleh Agam Purush.
Dengan penuh kemulian.
Setiap pori-Nya memancarkan kecermelangan.
Di hadapa-Nya,
Cahaya setrilyun matahari seakan padam.
Begitulah cahaya-Nya,
Tak terlukiskan, tak terpahamkan.

Di atas itu, wahai saudara, terletak akeh Lok.
Yang dihuni oleh Anami Purush.
Hanya merekalah yang mengetahui, yaitu
Yang telah mencapainya.karena tiada kata-kata yang dapat
mengungkapkannya.

Dengan demikian, rahasia tubuh manusia telah diungkapkan.
Semua ciptaan ini terdapat dalam tubuh kita ini.
Dengan sengaja, maya telah menebarkan jeratnya,
Ia adalah pencipta cerdik yang langka.

Maya dengan cerdiknya telah menciptakan
Sandiwara palsu yang dipantulkan ke Pinda.
Mula-mula ia menciptakan duplikatnya di anda
Yang kemudian dipantulkan ke Pinda.

Aku terbang laksana burung dengan sayap Firman,
Kata Kabir; Aku bebas, Satguruku telah membebaskanku.
Kesadaranku bangkit.
Hanya Firmanlah yang berkumandang
Dan setelah melewati Pinda dan Anda,
Aku menemukan rumah Sejatiku.

note :
apa itu Sach khand ?
yaitu alam al Haq atau kebenaran abadi/kedamaian/kebahagiaan.di maqam
ini jiwa memiliki cahaya seperti enambelas matahari. Bila Jiwa telah
mencapai ala mini, ia akan bebas dari kelahiran dan kematian / samsara
–istilah hindhu.Para suci yang dating di dunia ini tiidak mendirikan
agama baru dan mereka tidak mencampuri agama-agama yang sudah ada.
Mereka selalu menasihat untuk bertemu dengan sang pencipta selagi
masih hidup. Para suci mengasihi semua bangsa dan semua agama, karena
mereka yakin bahwa setiap orang mempunyai jiwa murni dan cemerlang
dalam dirinya.
Sach khand terdiri dari tiga alam yaitu alakh loka/alam tak
terlihat,ghibul ghuyub ; agam loka yaitu alam yang tak terjangkau ;
anami loka yaitu alam tanpa nama,tempat bersemayam sang pencipta.
Tentang anami loka ini, para suci hanya terdiam dan bungkam tanpa kata-
kata.Ia tidak mempunyai awal dan akhir.tidak munkin dijelaskan dengan
kata-kata . Semua alam tadi adalah warisan jiwa kita yang merupakan
harta karun di dalam diri setiap manusia.

Kabir Sahib mengatakan bahwa Ia telah memberikan penjelasan yang
terperinci kepada kita tentang alam-alam rohani yang luhur di dalam
diri kita. Seluruh harta yang tak ternilai itu telah disediakan Tuhan
di dalam tubuh kita. tetapi kuasa jahat yaitu Kal, bersama-sama dengan
kekuatan Maya/ilusi ,telah menebar jaringan yang luas dan rapat untuk
menghalangi perkembangan spiritual jiwa. Perjuangan Kal untuk menahan
perkembangan jiwa manusia, maka Kal melakukan tapabrata sebanyak dua
kali, yang pertama tapabrata selamatujuh puluh yuga/silkus waktu
kemudian yang kedua, tapabrata selama enampuluh empat yuga. Kal
sungguh2 dalam perjuangan nya untuk menghadang setiap jiwa yang akan
menaiki tangga spiritual.

FILSAFAT YANG TERKANDUNG DI DALAM YAKSHOPAKHYANA


Oleh:
Sri Swami Krishnananda Sarasvati. 
Kebaikan dan kejahatan saling berlawanan, baik di dalam setiap individu maupun di seantero alam objektif ini. Pertempuran antara keduanya  merupakan suatu perjuangan berlanjut demi kemenangan Kebenaran atas Ketidak-benaran. Kebaikan adalah bergeraknya ego ke arah Kebenaran, apakah itu melalui pemikiran, ucapan pun tindakan. Pada sisi lain, kejahatan adalah proses penegasan ego melalui pemeliharaan-diri dan proklamasi-diri. Semakin dekat ego dengan Kebenaran, semakin besar cahaya yang diterimanya dari Kebenaran. Oleh karena itu, kebaikan dibimbing oleh Ketuhanan. Kuasa kebaikan senyatanya adalah kuasa dari Sang Atman di dalam. Kuasa, kebesaran dan kemuliaan dari sosok individu sama sekali bukanlah kepunyaan dari individu itu sendiri. Mereka pinjaman dari Sang Atman, dari Sang Diri-Jati; individu hanya dilewati untuk suatu ciptaan agung, meskipun sesungguhnya ia tidaklah besar. Hanya rasa bangga dan kesombongannya sajalah yang membuat seseorang merasa bahwa ia punya kebesaran, pengetahuan ataupun kekuasaan. Proklamasi-diri kerdil ini harus enyah secara total sebelum Ketuhanan bisa direalisasikan.
Kisah tentang penampakan Yaksha di dalam Kenopanishad menggambarkan pemadaman dari rasa bangga-diri ini. Pemadaman rasa bangga-diri ini sangat diperlukan, sebelum realisasi dari perwujudan Ketuhanan itu sendiri terjadi. Penghentian total individualitas— melalui sebentuk pemutusan ego menggunakan pengetahuan —diperlukan sebelum realisasi Diri-Jati terwujud. Tanpanya, seseorang tidak layak bagi pengalaman yang teramat agung ini.
Di dalam kisah ini, Yaksha mewakili Brahman Yang Tertinggi. Agni mewakili suara atau sabda. Vayu mewakili prana atau daya-vital ataupun pikiran. Indra mewakili ego itu sendiri. Dan Dewi Uma mewakili pengetahuan. Namun, untuk Kesaksian Agung itu, sabda dan prana tidak dapat berbuat apa-apa. Pikiran tidak bisa berpikir; para dewa degan kemegahannya tidak mampu mengguncangkan hanya sehelai jerami. Sabda dan prana dikatakan mendekati Yaksha atau Brahman, tetapi mereka tidak mampu memahami mahluk itu. Sabda memang dapat menyatakan, prana-pun dapat mempertunjukkan, dan pikiran dapat berpikir tentang suatu aspek dari Kebenaran, suatu aspek tentang  penjelmaan-Nya dalam Yaksha itu misalnya. Tetapi sabda, prana dan pikiran tidak bisa mengetahui Kebenaran ini. Mereka boleh saja menunjukkan kesombongan mereka di dalam berusaha memahami Kebenaran, tetapi usaha mereka akan gagal kendati hanya untuk memahami yang berhubungan dengan aspek terkecil-Nya— seperti seutas jerami yang disajikan di hadapan mereka itu— sekalipun. Ini dimaksudkan untuk mengatakan bahwa setetes pengetahuan intuitif-pun tidak diberikan kepada sabda, prana ataupun pikiran guna memahami-Nya. Mereka kembali tak berdaya di hadapan-Nya.
Ketika Indra atau ego, mendekati Makhluk Ilahi itu, ia lenyap; ia menarik format manifestasinya. Tidaklah mungkin bagi ego untuk datang secara langsung berhadap-hadapan dengan Yang Absolut. Ini tak-ubanya sebuah boneka garam yang masuk ke dalam samudra. Tidaklah mungkin bisa mempertahankan wujud apapun. Wujud akan lenyap dari penglihatan. Lebih dari itu, karena ego adalah pusat kesombongan dan kebanggaan diri, Beliau tidak akan menjelmakan-diri-Nya di hadapan ego. Pada sisi lain, kalaupun ego tetap berusaha untuk mengetahui Kebenaran ini misalnya, dimana ia tidak mengalami kegagalan, dengan sangat tekun mengupayakannya, atas kemurahan-hati-Nya, Dewi Pengetahuan akan diturunkan juga kepadanya.
Pengetahuan diwakili oleh Dewi Uma; beliaulah Kuasa Ilahi yang nampak duluan; bukan Beliau Sendiri. Pengalaman yang pertama bukanlah Ketuhanan itu sendiri, melainkan berasal dari sattva-guna. Sebuah guna adalah suatu gaya dari Prakriti, dan oleh karena itu, ia digambarkan sebagai wanita, sebagai sosok Sakti, atau suatu ekspresi Ketuhanan. Dewi Uma-lah yang memberitahu Indra tentang Yaksha, ketika Indra ada dalam status sattva, ego dibersihkan dari semua bentuk kebanggaan diri dan iapun bisa mengenali sifat alami Tuhan. Ini masih selangkah di bawah Pengalaman Ilahi. Manakala Dewi Uma-pun lenyap—yang adalah manakala sattva-guna ditransendensikan juga—sifat alami dari Yaksha-pun terungkap. Hadir perwujudan Brahman ketika semua gunatamas, rajas dan sattva—berturut-turut dibuang. Di dalam Pengalaman Diri-Jati, ego hancur.
Indra berbicara tentang pengetahuan Brahman kepada Agni dan Vayu. Ini merupakan penggambaran dari pengalaman di dalam tentang disampaikannya pengetahuan itu dengan menyalurkannya kepada ucapan, pikiran, dan yang lainnya. Fungsi-fungsi eksternal hanya mungkin bila dikarenakan oleh pengalaman di dalam—oleh Agni, Vayu dan Indra—yang dianggap sebagai yang terbaik di antara para dewa; tidaklah mungkin bagi fungsi-fungsi kita yang lainnya untuk menyatakan Makhluk Ilahi itu, kendati hanya sedikit saja. Hanya ucapan, prana dan pikiran atau ego sajalah yang mempunyai sejenis hubungan dengan-Nya, meskipun ini tidak bisa juga sepenuhnya menyatakan-Nya.
Pelajaran lain yang juga diberikan oleh kisah ini adalah, bahwa Brahman Itu Ada. Jika Beliau tidak ada, maka hal lain mesti ada. Apa yang lain itu? Mungkin saja alam semesta atau dunia dipegang orang sebagai ada. Dan karena alam semesta adalah suatu koleksi dari individu-individu, maka ini berarti bahwa individu adalah riil. Akan tetapi nyatanya individu ini hanyalah suatu titik-tekan dari sang ego. Jika ego adalah riil, maka ia haruslah berhasil dalam setiap usahanya. Namun faktanya tidaklah demikian. Dan ini secara konstan menunjukkan kalau ia sebetulnya tidaklah riil. Lebih dari itu, ego setiap saat mesti tunduk; apakah itu dikarenakan oleh agen-agen internal ataupun eksternal.
Suatu hari nanti, semua ego akan terkikis habis. Duka-cita di dunia ini adalah pengalaman atau pembelajaran akan proses pengikisan ego itu. Tidaklah perlu bagi-Nya untuk menjelma ke dalam sebentuk wujud yang luar biasa besar untuk menundukkan ego seseorang. Dia akan menjelmakan-diri-Nya dengan pasti, dalam  sebentuk wujud yang dibutuhkan oleh sejenis egoisme tertentu. Ego yang tinggi kadarnya memerlukan kuasa-kuasa yang lebih tinggi, dan yang lebih rendah hanya butuh kuasa-kuasa rendahan demi penaklukannya. Dia nampak mengambil sebentuk wujud tertentu bukan lantaran berkeinginan untuk mewujud seperti itu, melainkan wujud itulah yang dibutuhkan oleh orang-orang sebagai rekan pendamping ego-nya dalam rangka mengintegrasikan diri mereka dengan cara ditiadakan oleh wujud jelmaan itu. Dengan kata lain, setiap bentuk pengalaman adalah ungkapan suatu kebutuhan yang dirasakan di dalam.  
Kegagalan ego untuk menyatakan kemerdekaannya menunjukkan bahwa Kesujatian haruslah non-ego. Non-ego berarti tak terbatas, yang memastikan fakta akan keberadaan Brahman Yang Tertinggi. Brahman nampak sepertinya bisa dipahami dalam tataran ucapan, pemikiran dan dan tindakan. Terasakan adanya sejenis pengetahuan akan realitas manakala fungsi-fungsi individu ini berlangsung dengan senang-hati. Ini adalah arti dari visi Yaksha oleh Agni dan Vayu.
Namun, pengertian akan Brahman melalui fungsi-fungsi individu ini hanya dangkal saja; bahkan ketika Agni dan Vayu dapat menyaksikan Yaksha itu mereka tidak bisa memahami-Nya. Ketika fungsi-fungsi individu ini dikalahkan, dimana mereka kembali dengan menanggung malu, menerima kekalahan mereka—yaitu ketika mereka merasa tidak besar lagi dan oleh karenanya menghentikan usaha mereka lebih lanjut—Indra atau ego memulai penyelidikannya sendiri akan Brahman. Tetapi ego tidak bisa punya pengetahuan Brahman—kendati yang superfisial—seperti yang dipunyai oleh fungsi-fungsi eksternal lainnya itu sekalipun. Ketika ego mendekati Brahman, saat itu nampak seperti terjadi kehilangan semua objek pengetahuan; Yaksha lenyap dari penglihatan. Indra mempermalukan dirinya sendiri; ego mesti binasa, jika sifat alami-Nya hendak diungkap. Makanya, disini ego nampak kurang dibanding fungsi-fungsi lain. Ia nampak tidak seberuntung fungsi-fungsi lainnya, yang setidak-tidaknya  mengalami visi akan Yaksha itu. Tetapi sesungguhnya, lenyapnya pengetahuan objektif ini merupakan tanda dari kehadiran Pengetahuan Absolut. Proses pemutusan individualitas nampak seperti matinya segenap kesadaran, meskipun itu merupakan pintu gerbang menuju kesadaran abadi. Kebahagiaan yang terbesar didahului oleh sakit yang terbesar pula. Panunggalan Absolut senantiasa didahului dengan hancurnya multiplisitas dan dualitas. Objek persepsi harus luluh; Yaksha mesti sirna kalau Brahman hendak terrealisasikan. Kemunculan dari keserbatahuan adalah suatu status tengah-tengah, di antara pengalaman individual dengan Pengalaman Absolut, dimana status pertengahan itu diwakili oleh kemunculan Dewi Uma.
Perlu dicatat juga bahwasanya, kemunculan Yaksha hanya terjadi setelah menangnya para dewa atas para asura; yang berarti bahwa, pengetahuan itu hanya mungkin setelah kemenangan dari kebajikan atas kejahatan —yang adalah tatkala kecenderungan-kecenderungan hewani sepenuhnya tertaklukkan.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa, kecuali pengetahuan Brahman, semuanya hanyalah hal yang remeh-temeh saja. Kemuliaan dunia ini kurang dari seutas jerami. Yang terbesar di antara para dewa sekalipun tiada artinya di hadapan Brahman. Bahkan raja dari para dewa (Indra) tidak ada apa-apanya di hadapan-Nya. Kisah ini juga menunjukkan bahwa sangat sukar untuk menyadari Brahman, bahkan yang terbaik di antara para dewa saja gagal dalam usaha mereka. Lebih jauh lagi, itu menunjukkan kalau Agni, Vayu dan Indra hanya menjadi besar melalui pengetahuan Brahman. Brahmajñana adalah kebesaran dan kemuliaan tertinggi. Adalah sia-sia untuk berpikir bahwa individu manapun punya kuasa untuk bertindak atau untuk menikmati.

Kamis, 04 Agustus 2011

YOGA ~ SATU-SATUNYA JALAN


Yoga; kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahkan yang disebut Hatta-Yoga telah sejak dahulu mendunia, sampai ke-dunia Barat. Yoga merupakan sistem yang amat luas spektrum manfaatnya di segala aspek kehidupan manusia.
Dari usianya yang panjang; mendahului semua ajaran agama dan kepercayaan, ia seakan telah menjadi ‘Agama Universal’; walaupun ia sama sekali bukan agama, menurut pengertian kita selama ini. Yoga hanyalah suatu konsep universal untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Esa; asal-muasal dari segala sesuatu, sebab dari segala sebab yang berakibat.
Dapat ditelusuri dan dibuktikan bahwa semua Nabi, Maharshi, Bhagawan Besar yang dikenal umat manusia adalah seorang Yogiçwara. Yoga adalah jalan (marga) menuju kesempurnaan untuk kembali kepada asal dengan sempurna, untuk selama-lamanya.

Keagungan YOGA.

Yoga merupakan Shakti dari Yang Maha Kuasa. Semua peradaban besar, sekte serta kepercayaan apapun (termasuk Babilonia dan Mesir Kuno) mengindikasikan adanya pemanfaatan kekuatan Yoga. Dikatakan, bahwa Yoga diajarkan untuk pertama kalinya oleh Hyang Çiwa Natharaja, seorang pertapa di pegunungan Himalaya, pada sekitar 7000 tahun yang lampau. Beliau dikenal sebagai Dewa Çiwa oleh umat Hindu, itulah penghormatan besar (yang pertama) bagi seorang Yogi sebagai hasil dari usahanya didalam memuja dan berbhakti pada Yang Esa.
Setelah itu disusul oleh Avatara, yang diyakini sebagai “inkarnasi Tuhan ke dunia”. Sri Krishna, yang diperkirakan hidup sekitar 3500 yang lampau, adalah Avatara di Jaman Dwapara. Avatara yang terakhir hingga kini, terakhir terlahir lebih dari 2500 tahun yang lampau di suatu negara kecil di Timur Laut India, bernama Kapilavattu (Kapilawastu).
Pada suatu ketika pernah datang Iskandar Zulkarnaen ke lembah Sindhu; sang Kaisar mencatat bahwa saat itu telah berkembang Yoga dengan semaraknya. Bahkan disebutkan, Sang Kaisar sendiri meninggal akibat kutukan dari seorang Yogi, yang menjadi marah demi mengetahui negerinya dan bangsanya dirampok dan dibantai oleh Zulkarnaen. Kaisar Zulkarnaen, yang juga dikenal sebagai Iskandar Yang Agung nan perkasa telah mati muda akibat kutukan dari seorang Yogi di Lembah sungai Shindu.
Tiada maksud saya untuk mengatakan bahwa Yoga itu untuk mengutuki orang, tetapi saya bermaksud menyampaikan bahwa Yoga telah diketahui eksistensi dan keampuhannya oleh dunia-barat sejak ribuan tahun yang lampau. Betapa perkasapun seorang Kaisar, tidaklah dapat dibandingkan dengan seorang Yogi yang hidup sederhana sebagai pertapa.

HINDU dan BUDDHA sebagai INSPIRATOR.

Seorang filsuf besar Yunani Pythagoras (580-500 SM) bahkan menunjukkan adanya pengaruh ajaran Hindu, jauh sebelum jaman Nasrani dan lebih jauh lagi dari jaman Islam di Timur-Tengah. Kenapa Timur-Tengah mempunyai peradaban dan agama yang jauh di belakang peradaban di India?
Setelah ribuan tahun keberadaan Hindu dan Buddha, peradaban dan agama Nasrani (Kristen) baru terlahirkan di Timur-Tengah. Menurut hemat saya, kebudayaan tinggi kurang berkembang dalam alam dengan kondisi geografis yang tidak ramah. Ketidakramahan iklim gurun, seperti di Timur Tengah menyulitkan makhluk hidup apapun untuk bertahan hidup. Kalau untuk hidup saja sulit, bagaimana sempat memikirkan masalah rokhani.
Awal-awal peradaban tinggi di Nusantara ditunjukkan oleh kedatangan Aji Çakka di awal tahun-tahun Masehi. Ada yang menyebutkan bahwa sekitar tahun 78 Masehi telah berkembang peradaban dan telah dikenal huruf dan ilmu astronomi serta kalender di Nusantara. sedangkan tahun Hijriah baru dimulai kurang lebih 500 tahun kemudian.
Jadi Budaya Nusantara telah eksis dan berkembang kurang lebih 500 tahun sebelum kelahiran Islam di tanah asalnya. Dari sini bisa kita lihat betapa budaya kita telah demikian tuanya dan telah mengalami perkembangan yang terus menerus disempurnakan dari tahun ke tahun hingga kini.
Memang sejak abad ke-16 terjadi perubahan radikal melalui cara-cara kekerasan/barbaris terhadap budaya Nusantara yang mapan ribuan tahun lamanya, yang dimotori oleh “Sembilan Wali” (secara mithologis).
Sejak itu pula secara ber-angsur budaya nusantara yang telah sedemikian tinggi —seperti yang bisa kita lihat pada Prambanan dan Borobudur itu— semakin surut dan terdesak. Hingga kini, dianut hanya kurang dari 3% (tiga persen) warga negara Indonesia.

Tragedi KEMANUSIAAN dan SLOGAN SAKTI.

Tragedi budaya pernah terjadi di tanah tumpah darah kita tercinta Indonesia. Para leluhur kita telah menjadikannya besar, dan para leluhur kita pulalah yang telah memporak-porandakan kebesaran itu. Demikianlah drama manusia di sepanjang peradabannya. Ada kalanya pasang, ada kalanya surut, ada kalanya terang, ada pula saatnya gelap.
Berbicara masalah gelap, dan surut, kegelapan masa pembrontakan PKI dulu (34 tahun yang lalu) kini terulang kembali dengan ribut-ribut reformasi. Semakin lama, sejak dicetuskan, ia kini kian menjadi wabah penyakit ketimbang obatnya sendiri. Ini tampak dengan jelas melalui kerusuhan-kerusuhan, penjarahan-penjarahan kebrutalan-kebrutalan yang merendahkan martabat kemanusiaan, bahkan kesulitan ekonomi yang parah, akibat dari ulah sementara pihak provokator pengacau yang berkedok “Reformasi”.
Setiap jaman mempunyai “Kata Sakti”, bila pernah ada selogan “Revolusi” dan “Nasionalisme” yang melahirkan Negara Republik Indonesia Merdeka. Menyusul didengungkan kata sakti “ANTI-KOMUNIS” dan “PEMBANGUNAN”. Dan kini, sedang kita alami apa yang tersebut “ANTI-KKN” dan “REFORMASI”.
Masing-masing jaman ada slogan saktinya, dan masing-masing jaman punya pemimpinnya. Jaman apa berikutnya lagi? Biarlah jaman yang menjawabnya. Kita harap jaman itu jauh lebih baik; walaupun ketika itu terjadi, saya dan saudara telah tiada, dikenang sebagai almarhum kakek/nenek atau sebutan lainnya.

YOGA, anugerah kekal-abadi bagi MANUSIA.

Yoga; hingga kini tetap eksis dan tidak akan pernah almarhum. Kenapa? Sebab ia milik kita, milik manusia. Selama umat manusia menghuni bumi ini, selama itu pula ada Yoga; agama universal untuk seluruh umat manusia.
Hinduisme, Buddhisme, Nasrani, Jnanaisme, Islam, ajaran Taurat, Kong Fu cu, Taoisme, Sinto dan lain-lainnya dapat mengalami pasang-surut (bahkan mungkin bisa punah), namun Yoga tidak. Selama ada manusia di muka bumi ini selama itu juga Yoga tetap bertahan; bahkan diyakini bahwa alam semesta beserta isinya, tercipta melalui Tapa-Yoga dari Yang Maha Pencipta. Kenapa? Karena Yoga itulah yang memungkinkan proses Penciptaan, Pemeliharaan dan Pralina itu; Yoga satu-satunya jalan untuk kembali pada-Nya.
Yoga istilah yang bagi sementara orang terdengar seram, dan membuat jerih. Padahal sama sekali tidak demikian adanya. “Yoga”; istilah yang selama ini berkonotasi hebat dan hanya dijalani oleh orang-orang tua, atau para “sulinggih” (alim ulama-Hindu), sebetulnya tidak lebih dari ilmu praktis yang amat rasional, logis dan ilmiah secara kejiwaan.
Apabila dijalankan amatlah praktis dan mudah dilakukan bagi siapa saja (asal manusia), kecuali binatang (dalam arti luas). Inilah satu-satunya syarat bagi pemraktek sistem Yoga ini, yaitu syarat utamanya adalah “Manusia”. Sebab “hanya Manusia, yang bisa ber-Yoga”. Tentu saja Anda bukan binatang; saya tahu persis itu. Hingga kini belum pernah saya dengar binatang yang bisa membaca huruf latin, entahlah kelak saya tidak tahu.
Yoga sistem praktis tidak jauh dengan “Technical Manual” yang amat aplikatif didalam IPTEK, yang sangat akrab dengan kita semua. Tidak lebih dari petunjuk praktis pengendara sepeda motor bahkan sepeda gayung. Apabila kini hampir semua orang dapat mengendarai sepeda dan sepeda motor; saya yakin “setiap orang dapat mempraktekkan Yoga”. Namun apabila monyet/simpanse bisa mengendarai sepeda, Yoga hanya bisa dipelajari dan dilaksanakan oleh manusia, hanya itu bedanya, tidak lebih dari itu. Oleh karena itu Anda tidak perlu berkecil hati karenanya. Apalagi “Japa-Yoga”, dapat diterapkan bahkan bagi mereka yang buta huruf sekalipun (tentu dengan bimbingan).

Awalnya perlu GURU.

Di awal tulisan ini, saya coba memperkenalkan apa yang disebut dengan Japa-Yoga, Yoga praktis untuk siapa saja. Tidak ada batasan umur, tingkat intelektual, agama, suku, ras (SARA pokoknya), jenis kelamin dan kebangsaan. Kemudian dijelaskan mengenai syarat-syarat untuk mengikuti jalan ini, yang jelas “manusia” adalah syarat mutlak. Tentu saja sehat jasmani dan rohani, sebab yang sakit ingatan, buta atau tuli-bisu tidak mungkin dapat mengikutinya.
Guru atau pembimbing sebetulnya dapat diperoleh dimana saja ditempat (kota maupun desa) Anda berada. Namun yang umumnya sulit adalah mengetahuinya, kecuali Anda tanyai semua penduduk desa atau kota dimana Anda tinggal, dan tentu itu tidaklah mungkin.
Jadi khusus Japa-Yoga ini segala kemudahan Anda bisa peroleh karena amat-amat sederhana dan praktis. Kalau untuk sekolah taman kanak-kanak pun perlu bayaran, Japa-Yoga tidak perlu uang bayaran, bahkan untuk mendaftar sekalipun. Asal dapat diyakini Anda “sehat lahir batin”, langsung diterima sebagai peserta Japa-Yoga. Memang sedemikian mudahnya bagi Anda, itulah Japa-Yoga.

HATI-HATI, JANGAN MUDAH TERKECOH!

Apabila kemudian Anda juga diperkenalkan dengan Japa-Yoga, namun syarat-syaratnya sulit dan aneh-aneh, maka berhati-hatilah kawan sebab itu bisa saja ajaran sesat yang menyelewengkan Yoga untuk kepentingan-kepentingan pribadinya. Oleh karena itu, berhati-hatilah kawan. Apalagi dimana krisis moneter seperti ini, pikiran orang jadi macam-macam dan aneh-aneh.
Mengenai hasil yang dapat Anda harapkan “terutama” adalah kesehatan Anda secara jasmani dan rohani menjadi betul-betul “prima”. Penyakit-penyakit yang secara medis tidak terdeteksi, apalagi diobati, termasuk “penyakit perasaan” dan “penyakit pikiran ringan” dapat disembuhkannya.
Dengan menggunakan peralatan seadanya yang Anda miliki, hanya itu. Namun secara menyeluruh, spektrum dari hasil amat luas, bisa segala macam aspek kehidupan kita sebagai manusia. Jadi amatlah luas lingkupnya.
“Setiap pencapaian atau hasil tergantung usaha kita sendiri”; tidak mungkin kita ke Jakarta dengan tiket Surabaya. Atau hampir tidak mungkin ke Jakarta dengan berjalan kaki bukan? Apalagi hasil-hasil yang bersifat spiritual, tentu dibutuhkan kesungguhan dan tekad yang kuat, disamping ketabahan dan kesabaran yang memadai.
Untuk belajar awalnya harus dengan bimbingan Guru atau pembimbing (instruktur). Tempatnya bisa dimana saja, asal ada pembimbing senior. Namun sebaiknya adalah; ketemu dengan Guru barang sekali saja, setelah itu lewat surat, faximille atau telepon dan sarana komunikasi lainnya yang memungkinkan; hal itu bisa-bisa saja.

AMAT SEDERHANA dan benar-benar PRAKTIS.

Jadi amat praktis; asal pernah ketemu dengan Guru, walaupun Anda ada di Kanada atau Peru sekalipun dapat dibimbing lewat telepon. Bertemu Guru itu penting dan mutlak perlu; hanya itu syarat untuk belajar; dan untuk menemui beliau tidak ada birokrasi maupun dipungut bayaran apapun.
Ber-Yoga sendiri di rumah, dimungkin apabila telah bertemu dan mendapat restu Sang Guru. Apabila hal ini dilanggar walaupun Anda jauh dari Guru Anda, beliau akan mengetahuinya. Aturan ini hanyalah demi keselamatan dan kebaikan Anda. Bukan siapa-siapa; jadi tidak ada birokrasi disini. Demikian juga kolusi dengan Sang Guru tidak mungkin; sebab beliau tidak menarik bayaran juga beliau tidak butuh apa-apa dari Anda; Andalah yang butuh beliau.
Nah... prakteknya secara garis besar adalah duduk dengan tenang dan berkonsentrasi pada sesuatu. Sesuatu itu dapat “berbentuk atau tidak berbentuk”, setelah Anda diberikan objeknya oleh Sang Guru secara langsung Anda dapat melakukannya sendiri.
Berselang beberapa lama, Anda akan diberikan petunjuk-petunjuk berikutnya, sampai Anda dapat melakukannya sendiri dan tanpa bantuan intensif dari Pembimbing atau Guru Anda. Demikian prakteknya, amat sederhana bukan?
Kini marilah kita mulai menyimaknya satu-per-satu di dalam uraian yang lebih lengkap. Perlu dipahami sebelumnya bahwa, tulisan ini tidak mengantarkan Anda kemanapun apalagi kepada tujuan akhir. Tulisan ini hanya memperkenalkan apa itu Japa-Yoga; selanjutnya Anda dapat menghubungi pembimbing terdekat atau guru secara langsung, bilamana belum memilikinya. Saya ingatkan kembali bahwa dalam Yoga, tidak ada sama sekali yang disebut “KKN”, murni “reformasi” di dalam diri Anda sendiri.

APAKAH JAPA-YOGA ITU?

Singkatnya, Japa-Yoga adalah praktek Yoga (yoga-sadhana) dengan menggunakan Japa. Yoga adalah upaya menghubungkan dan menyatu dengan Yang Maha Esa. Sedangkan Japa adalah mantra pendek yang diucapkan dengan bersuara ataupun di dalam hati, secara berulang-ulang.
Japa dapat berupa apa saja berbentuk (rupam) ataupun tidak berbentuk (arupam). Japa tentu dipilih sedemikian rupa, sesuai dengan yang dianggap paling sesuai bagi seorang Sadhaka; yang jelas, Japa merupakan sepatah kata atau lebih, yang umumnya merupakan nama/sebutan Tuhan.
Japa ataupun Mantra umumnya menggunakan bahasa sansekrta. Bahasa kawi, untuk di Indonesia, kwalitas spiritualnyapun tidak kalah dibanding bahasa sanskrta. Ia mempunyai banyak persamaan dan kedekatan dengan bahsa induknya. Bukankah sansekrta merupakan nenek moyangnya bahasa-bahasa di dunia?
Untuk pemahaman mengenai Yoga, berikut disuntingkan uraian dari Swami Satya Prakas Saraswati berikut ini.
Yoga adalah penghubungan, pengaitan atau persatuan jiwa individual dengan Beliau Yang Maha Esa, mutlak dan Tak Terhingga.
Jadi gagasan tentang Yoga bertolak dari adanya banyak satuan-satuan individual yang sadar, biasanya dikenal dengan sebutan “diri-jati”. Diri-jati umumnya berhasrat untuk dihubungkan dengan Tuhan. Perpisahan diri-jati bersifat sementara dan disebabkan oleh ketidaktahuan atau avidya, sebagai akibat dari ikatan-ikatan terhadap Prakrti.
Jadi, sebetulnya bukanlah Tuhan yang terpisah dari kita, melainkan kita yang terpisah dari Beliau. Keterpisahan ini bersifat “Uni-direksional”, yakni hanya mengenal satu jurusan; maksudnya, “kitalah yang melupakan Beliau, bukan Beliau yang melupakan kita”. Secara proporsional, demikianlah kondisi kita yang belum menemukan Diri-jati.

YOGA HARUS DILATIH.

Kita berdiri jauh dari Beliau sejak lama; oleh karenanya untuk mendekati Beliau lagi tidaklah mudah. “Divergensi”, kita dari Beliau harus diganti dengan “konvergensi”, dengan perkataan lain kita harus bergerak “menuju” Beliau.
Yoga menyediakan kita suatu proses untuk mencapai konvergensi itu. Untuk itu diperlukan latihan yang intens dan senantiasa “waspada” di pihak kita. Dapat diibaratkan, kita sedang berenang ke hulu dengan melawan arus.
Tidak ada dispensasi untuk memperpendek jalan; upaya ini memerlukan suatu disiplin. Anda dapat menipu siapa saja, tetapi Anda tidak dapat menipu diri sendiri, apalagi Tuhan. Nah, demikialah seharusnya pandangan kita dalam melangkah di jalan ini.
Banyak di antara kita,yang dapat dengan cepat menangkap ajaran, sementara lebih banyak yang agak lambat. Memang ada yang seolah-olah terlahirkan sebagai “Yogi” ataupun “siddha”, sementara orang lain memerlukan banyak waktu hanya untuk mempelajari awal dari Yoga. Ini berkaitan erat dengan sancita karma masing-masing.
Jenis penyatuan, yang dimaksudkan dalam ilmu Yoga sukar untuk digambarkan. Mungkin lebih mudah untuk mewujudkannya secara mandiri melalui praktekm langsung. Akan tetapi, janganlah berkecil hati. Setiap usaha betapapun kecilnya, tetap ada manfaatnya.
Mendekati Beliau dengan Cinta dan Bhakti, amat menjanjikan. Beliau akan membantu Anda dalam setiap langkah Anda menuju Beliau. Kita semua disayangiNya. Dalam Upanisad, antara lain disebutkan:
“Diri Tertinggi ini tidak dapat dicapai dengan perintah saja.
Juga tidak melalui intelek atau dengan banyak belajar.
Beliau hanya dicapai oleh mereka yang Beliau pilih.
Kepada orang demikian, Beliau menganugrahkan Diri-jati”.

Dan apakah yang terjadi, bilamana suatu penggabungan, seperti yang dimaksudkan dalam sistim YOGA telah terwujud? Disinipun Upanisad membantu kita seperti berikut ini.
“Seperti sungai mengalir ke dalam samudra.
Lenyap, meninggalkan nama dan wujud.
Begitulah yang mengetahui, bebas dari nama dan wujud.
Memasuki Pribadi Suci, lebih tinggi daripada yang Tinggi”.

Mereka yang mencapai tahap tertinggi dalam Yoga, menjadi penguasa diri sepenuhnya, mencapai bentuknya yang murni, tak ternoda dan tak tercemar oleh modifikasi-modifikasi Prakrti; ia sebagai penikmat Kebahagiaan Utama.

YOGA ~ JALAN SATU-SATUNYA.

“Just as one thread penetrates all flowers in a garland,
so also one Self penetrates all these living beings. Behold the one Self in all.
Serve all. Love all. Give up the idea of diversity.
You will be established in Brahman.
When one Atman dwells in all living beings, then why do you hate others?
Why do you use harsh words?
Why do you try to rule and dominate others?
Why do you exploit others? 
Why are you intolerant?
Is this not the height of folly;
is it not sheer ignorance?”
~Sri Swami Sivananda.
Dengan hadirnya wacana dari Sri Swami Sivananda, yangsaya kutipkan dari “Sivananda Day-to-Day”, maka serial posting “Yoga ~ jalan satu-satunya” pun saya akhiri sampai disini.
Menerapkan Dharma, tak berarti hanya mempelajari kitab-kitab suci, ataupun hanya mengandalkan kekuatan fisik semata. Ia jauh dari itu, ia mesti didasari ‘pengetahuan’ (vidya) yang memadai. Pengetahuan mana tidak kita peroleh hanya melalui menghafal berbagai kitab/ pustaka suci. Praktek langsung dalam berbagai Sadhana adalah pengabdian itu sesungguhnya. Disanalah kita menemukan apa itu yang disebut Sanatana Dharma.
Semoga kita semua senantiasa dibimbing dalam jalur Dharma dan senantiasa melangkah menuju pada-Nya.
________________
*Tulisan ini merupakan kumpulan serial tulisan yang dikirimkan ke milis Hindu-Dharma Net pada sekitar pertengahan bulan Oktober 1999, dan disunting kembali pda tanggal 1 Agustus 2006.

Sabtu, 30 Juli 2011

Kesehatan Dan Kebahagiaan Melalui Meditasi Oleh Yang Mulia Dr. Hammalawa Saddhatissa MA, PhD. D Litt


Saya percaya bahwa meditasi sangat diperlukan dalam kehidupan. Meditasi merupakan praktek yang sangat penting. Bisa kita katakan bahwa manusia terdiri dari batin dan jasmani. Maka jika orang ingin menjalani suatu kehidupan yang sehat secara fisik, ia harus mempraktekkan latihan-latihan fisik dan merawat tubuhnya. Kalau tidak, tubuh akan menjadi lemah. Sejak kecil orang harus sudah mempraktekkan latihan fisik untuk mempertahankan kesehatan yang optimal. Demikian pula dengan pikiran. Sama halnya bahwa orang harus mempraktekkan latihan fisik untuk menjaga agar tubuh tetap sehat, ia juga harus berlatih meditasi untuk memperoleh pikiran yang sehat. Meditasi berarti pengembangan pikiran. Pikiran itu bersifat seekor kera yang terus-menerus melompat kian kemari dan tidak pernah tinggal diam. Pikiran mengejar persepsi-persepsi indria. Jika kita ingin mengendalikan dan memanfaatkannya, pikiran harus dilatih. Ini penting jika kita menginginkan agar pikiran berguna bagi kita. Untuk menggunakan pikiran, mengontrolnya dan mengonsentrasikannya pada obyek tertentu, pertama yang harus dilakukan adalah berlatih meditasi, misalnya meditasi dengan obyek nafas dan dengan cinta kasih universal.

Untuk memperoleh dan mengembangkan kesadaran mental, ada berbagai macam metode. Salah satunya adalah meditasi. Orang yang ingin mengontrol pikirannya harus mengembangkan sifat-sifat positif. Jika seseorang memiliki sifat egois dan keras kepala, ia harus mengembangkan cinta kasih universal dan toleransi lewat meditasi dengan obyek itu. Untuk mempraktekkan jenis meditasi yang tinggi ini, yang bertujuan mengembangkan sifat-sifat positif, kita harus duduk di tempat yang tenang dan terpisah serta mengembangkan pemikiran yang baik, serta terarah dengan baik. Sebelum melakukan ini ia dapat membaca bacaan yang sesuai, yang dapat membantunya untuk membangkitkan pemikiran-pemikiran positif. Kita harus selalu ingat bahwa jika kita tidak mempersembahkan cinta kasih kita kepada orang lain, kita tidak dapat mengharapkan mereka untuk mengasihi kita.

Kita harus mulai dengan mengarahkan pikiran yang dipenuhi kasih sayang terhadap orang yang paling kita sukai, tetapi bukan yang berlawanan jenis, karena bisa merangsang nafsu indria. Ini adalah fase pertama dalam jenis meditasi cinta kasih. Setelah itu, kita harus mengarahkan pikiran kita untuk orang kedua yang kita sayangi. Kemudian pada tetangga, lalu semakin meluas pada setiap orang yang mungkin kita kenal, dan akhirnya pada semua makhluk di dunia. Demikian juga kita harus mengarahkan pikiran yang penuh cinta kasih kepada musuh-musuh kita. Dengan cara ini kita meningkatkan spritualitas dunia. Kita juga harus mengarahkan pikiran cinta kasih terhadap orang yang tidak waras, yang bodoh dan yang lemah. Dengan kata lain, kita memperluas pikiran cinta kasih itu ke seluruh dunia. Pikiran apa pun yang tidak menyenangkan muncul dalam meditasi cinta kasih ini dapat ditanggulangi sepenuhnya. Beginilah cara bermeditasi dengan obyek kasih sayang universal, dan ini dapat dilaksanakan dalam kehidupan sehari-hari.

Pada saat bekerja dengan orang lain, dalam aktivitas sehari-hari, jangan sampai kita kehilangan kontrol diri. Justru harus menunjukkan kebaikan hati, karena lewat meditasi kita telah mencoba mengarahkan pikiran kasih sayang terhadap semua makhluk. Dan meditasi ini harus dimasukkan ke dalam kehidupan kita sehari-hari. Orang harus menghindari segala kemarahan, kekerasan dan apatisme. Dengan demikian ia dapat mencapai obyek meditasi yang sebenarnya; ia mempraktekkan esensi meditasi.

Meditasi dalam segala bentuknya memungkinkan kita memperoleh suatu tingkat konsentrasi dan kesatuan pikiran yang lebih tinggi, yang berguna untuk mencapai keadaan-keadaan tertinggi dan tujuan-tujuan tertinggi. Meditasi harus selalu dibawa dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian obyek meditasi menjadi jelas wujudnya. Jika seseorang berkonsentrasi untuk tidak marah —dengan memikirkan dan mengembangkan pikirannya sedemikian itu serta memegang kendali atas dirinya —maka setelah kembali dalam masyarakat, ia mampu tetap tenang sepenuhnya. Dengan begitu berarti ia telah benar-benar mempraktekkan meditasi.

Untuk berlatih meditasi, pada awalnya disarankan agar mencari ketenangan. Karena dalam tahap-tahap awal, jika pikiran tidak menemukan lingkungan yang cocok, ia akan sering kali melompat kian kemari. Orang harus menghindari gangguan. Tetapi jika orang yang berlatih itu telah mencapai konsentrasi penuh, maka apa pun yang terjadi dan seberapa pun banyaknya suara yang berada di sekitarnya, pikirannya tidak akan terganggu.

Kesadaran-diri merupakan hal yang sangat penting. Kesadaran-diri ini penting untuk kehidupan, dan ini pun merupakan suatu bentuk meditasi. Jika kita melakukan sesuatu, kita harus melakukannya dengan sadar. Kita harus sadar akan apa yang sedang terjadi dalam diri kita. Dengan mengamati diri, makhluk yang sadar akan mengembangkan pikiran. Ia harus mengembangkan kesadarannya dan sadar akan hal-hal yang paling sepele sekali pun.

Misalnya, sewaktu makan kita harus sadar akan apa yang sedang kita makan, dan sadar bahwa kita telah makan cukup. Jika duduk, kita harus sadar akan bagaimana dan di mana kita sedang duduk. Jika berdiri, kita harus sadar bahwa kita sedang berdiri; juga pada saat bangun tidur kita harus sadar bahwa kita sedang terjaga. Kita harus berusaha untuk membuat kesadaran kita siaga dalam kehidupan sehari-hari. Jika sedang membaca, sadarilah bahwa Anda sedang membaca. Jika sedang menulis, sadarilah bahwa Anda sedang menulis. Orang harus berkonsentrasi pada hal yang sedang dilakukannya. Jangan melakukan beberapa hal sekaligus pada saat yang hampir bersamaan, karena orang tidak dapat tetap penuh perhatian pada beberapa hal sekaligus. Misalnya, seorang yang membaca sambil makan, tidak akan dapat benar-benar memperhatikan aktivitas membaca atau aktivitas makan. Jika kita tetap hanya sekedar sadar akan sesuatu, ingatan akan menjadi jauh lebih aktif.

Meditasi bukan hanya sekedar cara hidup, melainkan merupakan faktor yang mengontrol kehidupan itu sendiri. Orang bermeditasi untuk menemukan suatu tujuan hidup yang berguna.

Ada suatu sarana konsentrasi yang sangat berguna dengan menggunakan pernafasan sebagai penopang pikiran. Kita adalah makhluk hidup, kita belum mati. Untuk mempertahankan kehidupan ini, kita harus bernafas. Jika bukan karena proses itu, kita pasti sudah mati. Tetapi biasanya tidak sadar bahwa kita sedang bernafas. Kita semua bernafas tetapi kita tidak bermeditasi pada nafas. Jelasnya, kita tidak sadar bahwa kita hidup. Kita tidak mengetahui bahwa kita bernafas. Kita hanya tahu bahwa kita berhubungan lewat kata-kata satu sama lain.

Konsentrasi pada helaan nafas merupakan suatu sarana yang sangat bagus untuk memperoleh kesatuan pikiran. Pernafasan merupakan penopang yang amat bagus untuk konsentrasi. Guna mengetahui bahwa kita sedang bernafas, semua kesadaran mental disalurkan ke nafas. Lalu sedikit demi sedikit, melalui beberapa kali latihan, pikiran menjadi tenang dan mencapai suatu tingkat konsentrasi yang tinggi.

Saya ingin menekankan bahwa semua terminologi ini bisa menyesatkan. Banyaknya label telah menimbulkan prasangka yang besar. Yang menyedihkan adalah bahwa manusia ingat pada kata-kata tetapi lupa pada arti sebenarnya dari kata-kata itu. Sebagai contoh, kita kadang-kadang manaruh perhatian yang berlebihan terhadap label-label. Kita tidak boleh menaruh perhatian yang berlebihan pada label. Kita harus menerima bahwa ajaran-ajaran itu adalah untuk semua manusia. Guru-guru besar menginginkan dunia yang lebih baik, dan untuk alasan itulah mereka menawarkan ajaran-Nya kepada semua orang. Itulah keinginan Sang Buddha, Kristus dan semua guru-guru besar. Pengikut-pengikut merekalah yang mengelompokkan diri mereka sebagai Buddhis, Kristen dan sebagainya, tetapi pemrakarsa-pemrakarsa besar itu sebenarnya memulai kotbahnya untuk semua orang.

Saya tekankan lagi bahwa keinginan dasar para guru besar itu adalah untuk membuat dunia menjadi lebih baik, dan bahwa mereka sama sekali tidak tertarik pada label. Setiap orang dapat mengambil manfaat dari ajaran-ajaran itu untuk diri mereka sendiri, seperti: meditasi cinta kasih universal, meditasi pemikiran yang lebih tinggi, dan meditasi pernafasan. Semuanya dapat digunakan oleh semua manusia, bukan hanya oleh umat Buddha saja. Latihan-latihan meditasi ini memungkinkan kontrol atas pikiran dan penanggulangan agresi, kebingungan, keegoisan dan keinginan-keinginan jahat. Semua musuh ini dapat ditanggulangi. Dan orang dapat mengembangkan welas asih dan cinta kasih universal, keramah-tamahan, kedermawanan dan sifat-sifat positif lainnya.

Saya sungguh mendoakan bahwa hal ini dapat dipahami. Orang Kristen yang mana pun, tanpa melabeli diri sendiri, dapat melatih metode-metode meditasi atau yoga ini, untuk manfaat mereka sendiri. Tidak perlu timbul konflik apa pun dengan ritual-ritual mereka sendiri; tidak ada alasan untuk terjadinya konflik. Apa pun label yang Anda tempelkan pada diri sendiri semuanya itu tidak memiliki nilai. Hal yang paling penting adalah melaksanakan latihan meditasi yang diajarkan oleh Sang Buddha, tanpa ada diskriminasi keagamaan apa pun.

Orang dapat mengikuti agamanya sendiri secara baik dan juga melaksanakan praktek meditasi secara sempurna. Yang ingin saya katakan adalah bahwa satu-satunya kegunaan label hanyalah untuk mengisi formulir-formulir birokrasi. Jika kita mengetahui suatu ajaran yang besar, kita harus melupakan semua label. Inilah yang harus kita lakukan saat mempelajari meditasi atau yoga untuk manfaat kita sendiri. Semua agama harus berdampingan secara harmoni karena tujuan para guru agama adalah membuat agar dunia menjadi lebih baik. Inilah tujuan umum yang cenderung mengokohkan sifat-sifat positif. Karena itulah, tanpa diskriminasi, manusia harus membantu dirinya sendiri dengan suatu metode atau praktek keagamaan yang berguna, tanpa peduli dari mana asal agama itu, tanpa perlu adanya suatu perubahan label. Meditasi meningkatkan moral umat manusia. Setiap orang harus bermeditasi dan menggunakan kehidupan mereka untuk memperoleh kebijaksanaan, karena kebijaksanaan membebaskan kita dari semua penderitaan dan rasa sakit yang disebabkan oleh kebodohan batin.

Mungkin "meditasi" bukan istilah yang paling cocok untuk menggambarkan ide tentang apa yang ada di balik agama Buddha. Istilah seperti "kultur mental" atau "pengembangan mental" mungkin lebih cocok untuk menggambarkan tujuan itu. Meditasi Buddhis tidak terpengaruh pada tingkat-tingkat proses pikiran biasa, dan tidak juga ditujukan secara langsung untuk menghentikan pikiran. Tujuan dasarnya adalah untuk memperbaiki penerimaan, menyempurnakan persepsi, dan mengembangkan kesadaran. Melalui penerapan perhatian benar, kebingungan pikiran terhindarkan. Kendali pikiran kita yang kendor dapat dikencangkan, dan indera-indera serta nafsu-nafsu kita yang bagaikan kuda liar dapat dikontrol. Energi mental kita dapat disalurkan sehingga sifatnya dapat meningkat dan menjadi sempurna. Dengan meditasi seperti ini, pikiran dapat dilatih agar sampai pada keadaan perhatian yang menyatu. Perlu dipahami bahwa konsentrasi perhatian ini bukanlah proses penambahan, melainkan proses pengikisan bagi gangguan. Meditasi mengajarkan kepada kita perbedaan yang halus antara berpikir dan memiliki buah-pikir. Orang mencari pengetahuan intuisi, bukan hanya sekedar konstruksi analitis. Pengetahuan dapat muncul dengan spontanitas intuisi, dan hanya dengan susah payah pengetahuan semacam itu dapat diungkapkan dalam pemikiran keseharian. Dalam kotbah Sang Buddha yang disebut Satipattana Sutta (D.II.290-315; M.I.55-63) diberikan empat jenis perenungan: perenungan atas tubuh, perenungan atas sensasi, perenungan atas pikiran, dan perenungan atas keadaan pikiran. Dalam kotbah ini Sang Buddha menjelaskan bahwa perhatian murni adalah satu-satunya jalan untuk membebaskan pikiran dari kekotoran batin (kemarahan, keinginan jahat, ilusi, nafsu keinginan, kedengkian, kebencian, dan sebagainya).

Latihan-latihan fisik yang teratur yang digabungkan dengan latihan mental akan sangat bermanfaat, karena ada hubungan yang erat antara tubuh dan pikiran. Waktu muda, saya sendiri mempraktekkan latihan yoga dan saya selalu merasa senang, walaupun karena sudah tua sekarang saya tidak melakukan praktek itu. Meditasi Buddhis terutama berhubungan dengan pikiran. Pikiran adalah faktor yang paling penting karena jika dijaga agar tetap kuat dan sehat, akan nyata terlihat kekuatannya yang melampaui faktor-faktor lain. Banyak penyakit —kulit, jantung, arteri, sakit kepala, ketegangan syaraf dan sebagainya adalah akibat dari keadaan mental yang tidak sehat. Cukup besar prosentasi (kira-kira 80%) di mana keluhan-keluhan tersebut sebenarnya disebabkan oleh penyakit mental.

Tetapi pikiran harus dilatih dan dikembangkan lewat kerja keras dan usaha yang tetap, teratur dan mantap. Tidak ada jalan pintas. Mengherankan sekali jika dilihat betapa banyak orang yang tidak mengetahui fakta bahwa mereka memiliki pikiran yang dapat dilatih seperti halnya otot dapat dilatih. Lewat ketrampilan-ketrampilan yang cocok pikiran dapat dikembangkan, baik kekuatannya maupun fleksibilitasnya.

Salah satu latihan kesadaran mental yang sangat saya anjurkan adalah latihan kesadaran selama proses pernafasan: pada nafas yang masuk dan nafas yang keluar. Latihan ini tidak hanya memurnikan dan meningkatkan organisme secara keseluruhan, tetapi terutama membawa pada konsentrasi pikiran, menuju kesatuan pikiran. Kita memfokuskan perhatian kita pada satu aktivitas yang biasanya tidak diasadari dan bersifat mekanis. Kita harus berlatih dengan tekun untuk mengamati proses-proses itu dan mengamati isi pikiran: mengamati emosi, nafsu keinginan dan perasaan, serta mengamati tubuh, semuanya sebagaimana adanya sesuai realitas. Kita juga harus terampil mengamati semua tindakan-tindakan kita karena semuanya itu bermula dari pikiran. Melalui teknik-teknik pengamatan ini, faktor-faktor negatif dan positif terungkap. Yang negatif adalah: kemewahan dan sensualitas, kebencian dan kemarahan, kelesuan dan kemalasan, ketegangan dan kegugupan, serta kecemasan dan keraguan. Jika selama meditasi faktor-faktor ini muncul dan mengganggu, kita harus mengatasinya lewat konsentrasi pada faktor-faktor yang positif, yaitu: keramah-tamahan, cinta kasih, pengertian, usaha, ketenangan, kepercayaan diri, kesejahteraan, kebahagiaan dan semangat.

Kebanyakan manusia dewasa ini diserang oleh kecemasan ini atau itu. Sebanarnya merasa cemas adalah suatu kelemahan yang tidak berguna, suatu aktivitas yang sangat negatif, karena kecemasan hampir tidak pernah berhubungan dengan masa kini di mana kita hidup. Kecemasan adalah hal yang tidak penting karena didasarkan pada proyeksi mental ke masa lampau dan masa depan, serta menyiratkan tidak adanya hidup dan konsentrasi pada masa kini. Jika kita memiliki masalah yang dapat kita pecahkan sekarang ini, kita harus segera bekerja keras untuk memecahkannya. Selama usaha, sama sekali kita tidak akan merasa cemas jika kita memusatkan seluruh perhatian pada proses yang membutuhkan perhatian itu. Inilah yang seharusnya kita lakukan.

Sebaliknya, jika kita dihadapkan pada suatu masalah di mana kita tidak dapat melakukan apa pun sekarang, maka karena tidak dapat dihindarkan dan belum dapat dipecahkan, kita harus memusatkan seluruh perhatian kita pada masa kini, pada situasi nyata. Tidak seharusnya kita memproyeksikan pikiran ke sana-sini, atau mengikuti dan terhanyut sepanjang alur-alur pikiran yang tidak memberikan hasil, tidak nyata, dan melemahkan.

Kemungkinan-kemungkinan terapi apa yang dapat kita pertalikan dengan meditasi Buddhis? Meditasi dapat dipraktekkan dengan berhasil jika pikiran dan tubuh sehat. Jika seseorang menderita infeksi atau penyakit, ia harus disembuhkan dahulu. Itu penting.

Adalah salah jika berpikir bahwa penyakit yang serius dapat dengan mudah disembuhkan lewat meditasi. Untuk sakit fisik, orang harus berkonsultasi dengan seorang spesialis. Dan dalam kasus gangguan mental, orang harus berkonsultasi dengan psikiater. Orang harus disembuhkan dahulu, baru kemudian praktek meditasi, dengan jaminan bahwa penyakit itu tidak akan kambuh. Saya sendiri, setelah terserang penyumbatan jantung, stroke, yang terjadi setelah terkena influensa beberapa saat yang lalu, berhasil melewati proses penyembuhan yang dipercepat karena serangkaian pengobatan medis dan meditasi, dan saya bisa sembuh total. Saya yakin bahwa banyak penyakit, seperti yang saya sebutkan di atas, dapat dihindari melalui latihan meditasi yang tekun.
Meditasi membawa kita menuju kegembiraan dan suka cita, menuju keramah-tamahan dan kebenaran, menuju kecantikan serta kesehatan. Meditasi meningkatkan pengendalian yang kuat atas pikiran dan memperbaiki watak. Praktek ini bahkan membantu kita untuk bisa tidur lebih nyenyak, melenyapkan mimpi-mimpi yang tidak menyenangkan serta menggantikannya dengan yang menyenangkan. Mimpi-mimpi buruk, yang negatif sifatnya, terkikis sedikit demi sedikit jika kita meningkatkan sifat meditasi kita. Bila mimpi negatif yang berisi konflik mengganggu kita, siapakah sebenarnya yang kita hadapi? Dengan siapakah kita berdebat? Siapakah yang kita takuti? Kita melarikan diri dari siapa? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu dapat kita tanyakan kepada diri sendiri selama meditasi. Dan akan kita lihat dengan jelas bahwa kita menghadapi dan berdebat dengan aspek-aspek kita sendiri. Kita takut dan melarikan diri dari aspek-aspek itu yang dipersonifikasikan lewat berbagai bayangan mimpi. Kebenaran hal ini begitu sederhana sehingga diabaikan oleh psiko-analisa modern, yang sering mencari penjelasan dari luar untuk masalah-masalah yang muncul, tanpa menyadari bahwa semua pemecahan masalah itu dikendalikan dari alam.

Sedikit demi sedikit, melalui meditasi, kita memperoleh pemahaman yang lebih besar atas diri kita sendiri. Tak pelak lagi, meditasi akan memperluas pemahaman kita.
Sumber :
[ Dikutip dari Pengabdian Tiada Henti, 20 th Abdi Dhamma Sangha Theravada Indonesia. Naskah Asli: Health and Happiness through Meditation - Vesak Sirisara, Sri Saddharmadana Samitiya —Srilangka.]

Meditasi dengan gayatri mantra


Om bhur bhuvah svah,
tat savitur varenyam,
bhargo devasya dhimahi,
dhiyo yo nah pracodayat.

artinya:
O cahaya bersinar yang telah melahirkan semua loka atau dunia kesadaran, O Tuhan yang muncul melalui sinarnya matahari sinarilah budi kami.


Inilah makna dari mantra yang memiliki semua bija-mantra yang kesemuanya melambangkan dari kekuasaan Brahman dalam cahaya suciNya. Om melambangkan Tuhan, Bhur mewakili bumi, Bhuvah melingkupi semua bagian dari daerahnya dewata-dewata dan setengah dewata sampai kepada matahari. Sedangkan Svah mewakili dimensi alam ketiga yang diketahui dengan nama svargaloka dan semua loka-loka yang cemerlang dia atasnya.

Gayatri mantra ini mempunyai getaran sangat kuat sehingga seseorang dalam pencaran rohaninya apabila tulus mengucapkan Gayatri mantra ini akan membawa
kepada pencerahan bathin. Banyak buku yang mengulas bagaimana kehebatan dari Gayatri mantram tersebut, namun tidak ada guru yang bisa memberikan pelajaran secara sistematis sehingga tidak ada pegangan yang kuat bagi murid-murid untuk mencapai kesadaran yang lebih tinggi.

Gayatri mantram pada dasarnya bekerja secara otomatis dalam kesadaran rohani manusia. Ini di sebabkan mantram tersebut mewakili dari setiap elemen dasar
manusia dan alam.

Manusia memiliki tiga bagian badan yaitu badan fisik, badan energy (aura atau cahaya) dan badan roh (atma) ketiga bagian badan ini saling terkait satu sama
lainnya. Badan fisik berhubungan dengan napas dan prana, dan badan roh berhubungan dengan kesadaran Brahman.

Dijaman yang serba tidak pasti ini, banyak sekali bermunculan suatu masalah dalam kehidupan seperti contoh agama, ekonomi, sosial dan lain-lain dan yang
lebih parah lagi adalah banyaknya kasus penyakit. Tidak bisa disangkal lagi bahwa jaman ini materi menjadi tujuan yang paling utama, karena materi bagi seseorang menjajanjikan sebuah kebahagiaan.

Karena pencitraan yang sangat kuat ini, banyak orang pada jaman sekarang melakukan perbuatan yang berorientasi pada harta, segala cara pun dilakukan
asalkan terpenuhi nafsunya serta ambisinya. Tidak di dunia ekonomi saja terjadi seperti itu, di dunia energy pun banyak orang menggunakan kekuatan mistik
hitam untuk mencelakai secara halus, ini terlepas dari percaya atau tidak dengan hal ilmu hitam. Banyak bermunculan duku-dukun serta paranormal yang
menjajanjikan serta menjual berbagai macam kebolehan serta asesories untuk kedigjayaan atau kesaktian. Apabila tidak kuat iman, bisa dipastikan jaman
sekarang akan menjadi budak dari sekian pencitraan yang mencekam dalam kehidupan ini.

Lalu haruskah kita lari dari kehidupan ini dan mengasingkan diri untuk pergi ke hutan atau gua dan apakah kita mengambil jalan singkat bunuh diri?
Kedua-duanya adalah jalan yang konyol, kita harus menghadapi gelombang badai tersebut, namun dengan cara yang sangat halus serta bijak.

Apa yang disebut dengan suara karena kita mempunyai otak serta indra mata. Anadaikan saja seseorang buta dan tuli sejak lahir pasti baginya dunia ini tidak
ada, inilah yang disebut dengan ikatan indra dengan alam sementa. Untuk bisa terhindar dari masalah tersebut, tidada jalan lain kecuali mencari masalah
itu jauh ke dalam hati dan pikiran sebab di sanalah kemelut itu bercokol.

MEDITASI DENGAN GAYATRI MANTRA

Sudah dikatakan Gayatri mantram mempunyai vibrasi sangat kuat terhadap otak dan batin asalkan tahu bagaimana cara menggunakan mantra tersebut. Meditasi
pada hakekatnya berhubungan dengan pikiran, kesadaran, serta spirit dan sangat dibutuhkan guru yang khusus. Apabila anda ingin menjadikan Gayatri Mantra sebagai bagian dari meditasi anda harus melakukan puasa putih(tanpa garam, dan tidak minum susu) selama dua hari untuk memohon berkat kepada Maha Dewi.

Lakukan puasa mulai hari Rabu (pagi) sampai Jumat (pagi) hanya makan nasi putih dan air putih saja dan lakukan puja Gayatri setiap pagi menghadap matahari
terbit, siang hari, dan malam hari. Dalam mengucapkan Gayatri mantra enam kali untuk pagi hari, empat kali untuk siang hari, dan dua puluh sembilan kali untuk
malam hari. Lakukan puasa dan puja Gayatri dengan ketulusan hati jangan memohon suatu daya-daya sakti tertentu sebab belum tentu keinginan anda akan
terpenuhi. Setelah melakukan puasa dan puja gayatri selama dua hari barulah anda di perkenankan untuk melakukan meditasi ternadap Gayatri mantra sebab api spirit anda sudah menyala.

Tambahan:
Dalam penjelasannya puasa putih ini dapat dilakukan sehari saja tapi harus pada hari kelahirannya. Misalnya lahir hari Senen, maka puasa dilakukan pada Senen pagi hingga Selasa pagi.

TEORI MEDITASI

Sebelum meditasi cucilah muka, tangan, serta kaki, atau anda mandi untuk membersihkan badan dari kotoran sekaligus membuat badan menjadi segar. Duduklah dengan memakai alas dari kain, tikar, atau selimut, posisi punggung tegak lurus dan tangan diletakkan dipangkuan dalam posisi relek. Pejamkan mata, serta tenangkan pikiran berberapa detik, setelah itu ucapkan mantra "

OM Bhur, OM Bhuvah, OM Svah"

ucapkan dengan suara lambat serta santai jangan tergesa-gesa sebanyak lima
kali, ini bertujuan untuk membersihkan lapisan pikiran.

Pada saat mengucapkan mantra ini arahkan pikiran pada mantra dan suara bukan pada bayangan pikiran. Setelah baca mantra selesai tutuplah mulut serta tenangkan pikiran lalu ucapkan Gayatri mantram

" OM Bhur, Bhuvah, Svah, tat savitur varenyam, bhargo devasya
dimahi, dhiyo yo nah pracodayat"

dengan lambat dan tenang di dalam hati. Arahkan pikiran serta getaran suara mantra pada jantung, anda cukup meniatkan saja bukan membayangkan.

Meditasi dengan Gayatri mantram sangat efektif untuk berbagai macam keperluan seperti melindungi diri dari energy negatif, kecantikan, kekuatan batin, kecerdasan
dan lain-lain. Kekuatan Gayatri mantra tidak bisa berfungsi apabila disertai niat kurang baik. Meditasi Gayatri mantra apabila dilakukan dengan baik serta
tulus akan banyak muncul keajaiban-keajaiban yang tidak bisa kita sangka. Gayatri mantra bukan bekerja pada maksud si meditator namun, karunia, energy,
rahmat, dari Maha Devi Gayatri yang berhak menentukan. Bagaikan mobil, sang supirlah yang tahu kemana tujuan dari mobil itu, bukan tujuan dari mobil tersebut yang dituruti sang supir.


Energy Gayatri masuk dari ubun-ubun melalui tulang belakang serta menyebar keseluruh tubuh fisik, tubuh energy, dan atma. Banyak guru-guru suci yang tercerahkan mengatakan "pencerahan akan kalian dapatkan pada Gayatri mantra. Pada jaman kali yuga ini tiada yang mampu melepaskan lapisan kekotoran pikiran
selain getaran halus dari Gayatri mantra.

TIPS

Apa bila anda merasa ada sakit yang disebabkan oleh ulah niat jahat seseorang, dan kalau percaya dengan hal ini anda bisa menggunakan cara berikut ini. Sediakan air bersih , higienis, untuk diminum, lalu jemurlah air tersebut pada cahaya matahari serta cahaya bulan di malam hari. Setelah air tersebut dijemur oleh kedua unsur cahaya tersebut berdoalah pada Tuhan sambil membaca Gayatri mantram 11 kali, setiap habis membaca gayatri mantram tiupkan nafas anda pada air tersebut. Air tersebut bisa diminum atau dipakai campuran obat, mandi dan lain-lainnya. Dengan kekuatan ini segala macam bentuk energy jahat dari seseorang akan hancur oleh kekuatan dari mantra tersebut, hal ini sering terbutkti di daerah-daaerah terpencil. Ada banyak lagi cara-cara yang bisa dijadikan renungan, betapa Gayatri mantra mempu untuk menghadapi dilema dalam hidup ini.

Sabtu, 23 Juli 2011

BAB XXIII (Keagungan pohon Rudhraksha dan nama Shiva)


Para rshi berkata :
1.      Tuan rshi Suta, murid rshi Vyasa yang amat beruntung, sujud kami pada anda. Mohon  jelaskanlah pada kami tentang keagungan abu suci, Rudhraksha dan nama Shiva. Dengan penuh kasih anda jelaskanlah pada kami agar pikiran kami bisa senang.
2.      satu bagian dengan sloka 1
Rshi Suta berkata :
3.      Bagus jika kalian telah menanyakan hal yang bisa membuat kebaikan pada seluruh dunia. Kalian terberkati, suci, dan menjadi permata dari keluarga kalian, karena kalian telah memiliki Shiva sebagai dewa tertinggi kalian. Kisah-kisah ayng berhubungan dengan Shiva akan senantiasa menjadi kesenangan kalian.
4.      satu bagian dengan sloka 3
5.      Mereka yang memuja Shiva akan terberkati dan senantiasa puas. Kelahiran mereka berguna dan keluarga mereka akan terangkat.
6.      Dosa tidak akan pernah menyentuh merekayang dari multunya senantiasa mengalir nama Shiva, Sadasiva dan sebagainya selamanya, sebagaimana kita tidak akan berani menyentuh bara api pohon Khadira.
7.      Jika sebuah mulut terbuka dan berkata “Sujud kami pada anda Shiva yang maha suci” maka mulut itu adalah sebuah benda suci yang akan menghancurkan segala dosa.
8.      Sudah bisa dipastikan pahala yang didapatkan dari melakukan Tirtayatra akan didapatkan oleh mereka yang memandang wajah Shiva dengan penuh bhakti.
9.      Para brahmana sekalian, tempat dimana ketiga hal ini bisa ditemukan adalah tempat yang tersuci. Hanya dengan kontak pribadi saja dengan tempat seperti itu maka sama saja dengan mendapatkan pahala melakukan permandian suci di sungai Triveni yang suci.
10.  Nama Shiva, abu suci dan biji Rudhraksha adalah tiga benda suci yang sejajar kesuciannya dengan sungai Triveni * (pertemuan tiga sungai suci Gangga, Yamuna dan Saraswati, terletak di Prayaga, sekarang menjadi Allahabad)
11.  Penampakan orang yang memiliki tiga hal suci ini sungguh jarang terjadi. Jika ini bisa ditemukan maka akan menghapuskan segala dosa.
12.  Samasekali tidak ada beda antara kedua hal ini melihat orang suci atau melakukan permandian suci di Triveni. Orang yang tidak menyadari hal ii tentu saja adalah seorang pendosa.
13.  Orang yang tidak memakai abu suci di dahinya, tidak memakai biji Rudhraksha, dan tidak menyebutkan nama Shiva harus dianggap sebagai orang jahat.
14.  Sebagaimana yang dinyatakan oleh Brahma, nama Shiva adalah sama sucinya dengan sungai Gangga, abu suci sama dengan Yamuna, dan Rudhraksha yang menghapuskan segala dosa, seimbang dengan kesucian Saraswati.
15.  Brahma pernah menguji kehebatan pahala dari orang yang memakai tiga hal tadi dengan orang yang melakukan permandian suci di Triveni dan mendapatkan bahwa keduanya memiliki berat yang sama. Oleh karena itulah par sarjana Veda atau mereka yang melakukan disiplin spiritual hendaknya memakai tiga benda tadi
16.  satu bagian dengan sloka 15
17.  Sejak saat itulah Brahma, Vishnu, dan para dewa yang lainnya memakai tiga benda itu. Dan walau hanya penampakan mereka akan menghancurkan segala dosa.
Para rshi berkata :
18.  Tuan rshi yang bijak, anda telah menjelaskan pahala dari tiga hal seperti nama Shiva dan sebagainya. Mohon jelaskanlah lebih terperinci lagi.
Rshi Suta berkata :
19.  Para rshi sekalian, anda sekalian ada lah penyembah Shiva yang taat da ndianugrahi dengan kecerdasan yang tinggi. Anda adalah yang utama diantara para bijak. Maka dengarkanlah penjelasan ini dengan penuh bhakti akan keagungan.
20.  Para brahmin sekalian, penjelasan ini tersembunyi dalam semua kitab suci, Veda dan Purana. Karena kasihku pada kalian maka aku akan mengungkapkannya pada kalian.
21.  Yang utama diantara para Brahmana, Siapa lagi yang bisa mengetahui makna sebenarnya dari rahasia ini selain Shiva sendiri yang mengatasi segala bentuk semesta?
22.  Secara singkat aku akan menceritakan pada kalian tentang keagungan nama-nama itukarena kasihku pada kalian. Para brahman sekalian apakah kalian bersedia mendengarkan penjelasan dari keagungan : sang penghapus segala dosa.
23.  Tumpukan dosa dosa yang besar akan terbakar menjadi abu seperti kebakaran hutan yang dilahap oleh api nama Shiva. Semua dosa itu akan menjadi abu dalam waktu sekejap. Ini adalah nyata adanya, tida kdiragukan lagi bahwa semua ini adalah kebenaran.
24.  Saunaka, berbaagi derita akibat dosa bisa dihancurkan hanya dengan mengucapkan nama Shiva dan tidak bisa dilakukan dengan nama lain.
25.  Orang yang menyibukkan diri dengan melakukan japa pengulangan nama Shiva didunia ini adalah seorang penganut Veda yang sebenarnya, sebuah jiwa yang penuh pahala, dan sarjana yang terpelajar.
26.  Para rshi sekalian, pahala yang seketika adalah hasil lain dari ritual yang dilakukan oleh mereka yang penuh keyakinan pada Japa nama Shiva.
27.  Para rshi, begitu banyak dosa yang dilakukan oleh manusia didunia, maka yang menjadi obatnya hanyalah nama Shiva.
28.  Para rshi, nama Shiva yang diucapkan oleh seseorang, seketika itu juga akan menghancurkan tumpukan dosa yang dilakukannya bahkan dosa membunuh brahmana sekalipun.
29.  Mereka yang menyeberangi lautan keduniawian dengan perahu nama Shiva sudah pasti akan menghancurkan segala dosa yang menjadi akar dari kesadaran duniawi itu.
30.  Para rshi yang agung, akar dari kesadaran duniawi yangberupa dosa-dosa akan segera dipotong oleh kapak nama Shiva.
31.  Nektar nama Shiva hendaknya diminum oleh mereka yang menderita dan sedih oleh derita dosa. Tanpanya, orang yang disengat oleh penderitaan dosa tidak akan pernah memiliki kedamaian.
32.  Mereka yang telah meminum nektar nama Shiva tidak akan pernah merasa tidak enak atau gelisah dalam gejolak keduniawian.
33.  Jiva-jiva yang agung yangtelah memiliki pengabdian yang tulus pada nama Shiva, dan merekayang seperti jiva-jiva itu, akan mencapai pembebasan yang sempurna segera.
34.  Penguasa dari para rshi, pengabdian pada nama Shiva, yang menghancurkan segala dosa bisa didapatkan oleh mereka yang telah melakukan tapabrata selama berkali-kali kelahiran.
35.  Pembebasan dengan mudah bisa didapatkan oleh mereka yang memiliki bhakti yang istimewa dan tidak terpatahkan pada nama Shiva. Aku yakin akan hal ini.
36.  Meskipun ia telah melakukan banyak dosa, seseorang yang memiliki rasa bhakti pada Japa nama Shiva, sudah pasti akan terbebas dari segala dosa.
37.  Sebagaimana pepohonan dalam hutan yang habis dibakar oleh api yang besar demikian pula tumpukan dosa akan dibakar oleh nama Shiva.
38.  Rshi Saunaka, ia yang senantiasa secara teratur memakai abu suci ditubuhnya,dan melakukan japa nama Shiva, akan sanggup menyeberangi lautan keduniawian yang paling ganas sekalipun.
39.  Orang yang melakukan japa pada nama Shiva tidak akan tersentuh oleh dosa bahkan oleh dosa mencuri milik brahmana ataupun membunuh banyak brahmana sekalipun.
40.  Setelah meneliti semua isi kitab Veda, maka para leluhur kita mengambil kesimpulan akhir bahwa cara yang termulia untuk mengarungi lautan keduniawian adalah dengan melakukan japa nama Shiva.
41.  Para rshi yang mulia, perlukah aku mengatakan lebih banyak lagi? Dengan satu sloka aku hars menjelaskan keagungan nama Shiva yang sanggup menghancurkan segala dosa.
42.  Kekuatan nama Shiva dalam menghancurkan dosa-dosasungguh sangat jauh dari bayangan manusia.
43.  Para rshi sekalian, pada jaman dahulu, raja Indradyumna yang sebelumnya adalah seorang penjahat besar kemudian menjadi seorang jiva yang agung melalui nama Shiva.
44.  Para rshi sekalian, seorang brahmana wanita yang terikat melakukan dosa yang amat besar tiba-tiba mencapai kesucian yang tinggi, hanya melalui nama Shiva.
45.  Para brahmana yang istimewa sekalian, demikianlah aku telah menceritakan pada kalian tentang keistimewaan nama Shiva. Sekarang dengarkanlah pada keagungan abu suci, yang tersuci diantara segala benda suci.