Sabtu, 23 Juli 2011

BAB XIX (Cara memuja patung linga yang terbuat dari tanah liat dengan mengucapkan mantra Veda)


Rshi Suta berkata :
1.      Selanjutnya yang dijelaskan adalah cara memuja patung linga dengan mantra-mantra Veda. Ritual ini memberikan pahala berupa kebahagiaan duniawi dan pembebasan bagi para sarjana Veda.
2.      Sang pemuja hendaknya melakukan permandian suci seperti yang dijelaskan dalam ajaran Veda. Sebelumnya ia harus melakukan Sandhya puja. Setelah melakukan Brahma yajna yang merupakan salah satu dari lima ritual sehari-hari, maka ia harus melakukan Tarpana (sebuah ritual mempersembahkan air suci pada para leluhur)
3.      Setelah menyelesaikan puja sehari-hari maka ia harus mengenakan abu suci dan kalung Rudhraksha, dan selalu mengingat wujud Shiva. Selanjutnya dengan penuh bhakti ia harus emuja patung linga menurut aturn yang telah ditetapkan untuk mendapatkan pahala yang besar.
4.      satu bagian dengan sloka 3
5.      Puja pada patung linga tanah liat hendaknya dilakukan di pinggir sebuah sungai, didekat sebuah sumber air, dipuncak gunung atau didalam hutan dalam sebuah kuil Shiva. Tempat itu harus senantiasa bersih.
6.      Para brahmana sekalian, ia harus mengambil tanah dari tempat yang bersih dan suci dan dengan hati-hati membuat linga yang dimaksud.
7.      Tanah yang berwarna putih hendaknya dipakai oleh para brahmana, tanah merah oleh para Kshatrya, tanah kuning untuk para Vaishya dan tanah yang berwarna hitam adalah untuk para shudra. Jika tida kditemukan warna yang khusus itu maka tanah warna apa saja bisa digunakan.
8.      Setelah mengambil tanah itu maka ia hendaknya menaruhnya ditempat yang suci untuk kemudian membuat patung linggam.
9.      Setelah membasuh tanah itu dengan air suci maka pengolahannya harus dilakukan secara perlahan-lahan membuat patung linga itu sesuai dengan aturan yang ditetapkan dalam Veda.
10.  Selanjutnya ia harus memujanya dengan penuh pengabdian dan bhakti untuk mendapatkan kebahagiaan duniawi dan pembebasan nantinya.
11.  Bahan yang dipakai untuk membuat patung linga hendaknya dipercikkan dengan air suci, dengan mengucapkan mantra ‘namah Shivaya’ (90). Dengan mantra “Bhurasi” (91) dan seterusnya  maka kesucian seperti sebuah tenpat suci layaknya akan masuk tercipta dari ritual itu.
12.  Air yang dipakai hendaknya disucikan dengan mantra “Aposman” dan seterusnya. Sedangkan ritual “Phatikabandha” hendaknya dilakukan dengan diiringi mantra “Namaste Rudra” dan seterusnya.
13.  Kesucian tempat itu hendaknya ditambah dengan pengucapan mantra “Sambhavaya” dan seterusnya. Pemercikan air pada Pancamrita (95) hendaknya dilakukan dengan diawali mantra ‘namah’.
14.  Peletakan linga yang istimewa handaknya dilakukan dengan penuh bhakti dengan mengucapkan mantra “ Namah Nilagrivaya” dan seterusnya (96) ‘sujud pada dewa berleher biru’
15.  Seorang pemuja yang merupakan penganut ajaran Veda hendaknya mempersembahkan sebuah singgasana yang inda hdengan mantra “Etatte Rudraye” (97) dan seterusnya.
16.  Pembangkitan (Avahana) hendaknya dilakukan dengan mantra “Ma no mahantam” (98) dan seterusnya. Singgasan untuk beliau hendaknya dimantrai dengan mantra “Ya te Rudrena” (99) dan seterusnya.
17.  Dengan mantra “Yamisum” (100) dan seterusnya, digunakan untuk melakukan Nyasa (ritual penyentuhan anggota tubuh yang diiringi dengan pengucapan mantra). Persembahan wewangian hendaknya dilakukan dengan penuh kasih dengan iringan mantra “Adhyavocat” (101) dan seterusnya.
18.  Nyasa pada dewa dilakukan dengan mantra “Asau jiva” (102) dan seterusnya. Ritual untuk mendekati seorang dewa (Upasarpana) dilakukan dengan “Asau Yovasarpati” (103) dan seterusnya.
19.  Air yang dipakai untuk membasuh kaki suci beliau (Padya) hendaknya dipersembahkan dengan mantra “Namostu Nilagrivaya” (104) ‘sujud pada beliau yang berleher biru. Air yang digunakan untuk persembahan hendaknya dipersembah kan dengan Rudragayatri mantra dan menghirup air (Acamana) dilakukan dengan mantra Trayambhaka (106).
20.  Upacara suci permandian untuk patung dewa dengan susu dilakukan dengan mengucapkan mantra “Payah Prtivyam” (107) dan seterusnya. Upacara ritual permandian dengan olahan susu hendaknya dilakukan dengan mantra “Dadhi Kravnah” (108) dan seterusnya.
21.  Upacara permandian dengan mentega dilakukan dengan menggunakan mantra “Ghrtam Ghrtayava” (109) dan seterusnya. Permandian dengan menggunakan madu dan sari gula hendaknya dilakukan dengan mengucapkan tiga jenis mantra yang diawali dengan pengucapan “Madhuvata (110), Madhu naktam (111), Madhumannah (112) dan seterusnya. Demikianlah ritual Pancamrita telah dijelaskan. Atau permandian dengan Pancamrta bisa dilakukan secara langsung dengan mengucapkan mantra “Namostu Nilagrivaya” (113) dan seterusnya.
22.  satu bagian dengan sloka 21
23.  Pengikatan hiasan pinggang itu hendaknya dilakukan dengan mantra “Ma nastoke” (114) dan seterusnya. Kain yang dipakai pada bagian atas tubuh sangdewa hendaknya dipersembahkan dengan mantra “Namo Dhrsnave” (115) dan seterusnya.
24.  Pengikut ritual Veda yang tulus hendaknya mempersembahkan kain (vastrasamarpana) pada Shiva dengan empat mantra yang dimulai dengan “Ya te heti” (116) dan seterusnya.
25.  Penyembah yang tulus hendaknya mempersembahkan wewangian dengan mantra “Namah Shvabhyah” (117) dan seterusnya. Ia harus mempersembahkan Aksata (beras) dengan mantra “Namastakbhyah” (118) dan seterusnya.
26.  Bunga persembahan hendaknya dibuat dengan mantra “Namah Paryaya” (119) dan seterusnya. Pohon Bilva hendaknya dipersembahkan dengan mantra “Namah Parnaya” (120) dan seterusnya.
27.  Dupa dipersembahkan dengan mantra “Namah Karpadine ca” (121) dan seterusnya sesuai dengan peraturannya. Lampu juga dipersembahkan dengan cara tertentu dan mantra “Namah Asave” (122) dan seterusnya.
28.  Naivedya yang istimewa hendaknya dipersembahkan dengan mantra “Namah Jyesthaya” (123) dan seterusnya. Kemudian Acamana dipersembahkan dengan mantra “Trayambhakam” (124) dan seterusnya.
29.  Buah-buahan hendaknya dipersembahkan dengan mantra “Ima Rudraya” (125) dan seterusnya. Semua persembahan yang diberikan pada Shiva dipersembahkan dengan mantra “Namo Vrjyaya” (126) dan seterusnya.
30.  Ia harus membuat persembahan yang terdiri dari sebelas jenis beras mentah pada sebelas Rudra (127) dengan dua mantra “Ma no mahantam” (128) dan seterusnya dan “Ma Nastoke” (129) dan seterusnya.
31.  Seorang penyembah yang terpelajar hendaknya mempersembahkan uang persembahan (Dhaksina) (130) dengan tiga mantra yang diawali dengan mantra “Hiranyagarbha” dan seterusnya dan harus melakukan permandian suci dengan mantra “Devasya tva” (131) dan seterusnya.
32.  Mempersembahkan sebuah ritual Niranjana (melambaikan lampu pada patung suci beliau)  dengan mantra “Namah Asave” (*). Puspanjali (mempersembahkan bunga dalam cakupan tangan) hendaknya dilakukan penuh bhakti dengan mengucapkan mantra yang diawali dengan “Ima Rudraya” (132) dan seterusnya.
33.  Selanjutnya ia harus melakukan Pradakshina (memutari patung) dengan mengucapkan mantra “Ma No Mahantam” (132) dan seterusnya kemudain ia harus melakukan Satsanga (bersujud dengan delapan anggota tubuh menyentuh anah) dengan mantra “Ma Nastoke” (134) dan seterusnya.
34.  Ia harus melakukan “Shiva mudra” dengan mantra “Esa te” (135); Abhayamudra dengan amntra “Yato Yatah” (136) dan Jnanamudra dengan Trayambhaka mantra (137).   
35.  Mahamudra hendaknya dilakukan dengan mantra “Namah Sena” (138) dan seterusnya. Selanjutnya maka ia harus melakukan Dhenumudra dengan mantra “Namo Ghobhyah” dan seterusnya.
36.  Setelah melakukan lima mudra ini maka ia harus melakukan “Shivamantra Japa”. Sedangkan mereka yang mahir dalam pengetahuan Veda akan mengucapkan mantra “Satarudriya”
37.  Bagi para sarjana Veda maka ia akan melakukan ritual Pancangapatha. Kemudian ritual akhir (Visarjana) dilakukan dengan mantra yang diawali dengan mantra “Dewa Gatu” (140) dan seterusnya.
38.  Demikianlah ritual pemujaan Shiva menurut Veda telah dijelaskan dengan terperinci. Sekarang dengarkanlah penjelasan tentang ritual Veda secara singkat.
39.  Tanah yang hendak dipakai hendaknya diambil dengan mantra “Sadyo Jatam” (141). Pemercikan air suci dilakukan dengan mantra “Vamadevaya” (142).
40.  Patung linggam itu hendaknya dibuat dengan mantra Aghora mantra (143). Ahvana mantra (pembangkitan sang dewa) hendaknya dilakukan dengan mantra “Tatpurusaya” (144).
41.  Lingam yang merupakan lambang dari Hara (Shiva) hendaknya ditaruh diatas linga dengan Isana mantra (145). Penyembah yang cerdas hendaknya melakukan semua ritual singkat.
42.  Dengan mantra lima suku kata atau mantra lainnya yang diajarkan oleh gurunya, maka penyembah hendaknya melakukan pemujaan dan pengagungan Shiva dan melakukan enam belas pelayanan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. (juga dengan doa dibawah ini)
43.  “Kami bermeditasi pada Bhava, yang merupakan penghancur dari segala keberadaan duniawi, pada dewa yang agung, pada sang Ugra, sang penghancur dosa-dosa yang menakutkan, dan pada Sarva yang berhiaskan bulan sabit.”
44.  Para penyembah yang cerdas hendaknya melakukan puja Shiva dengan mantra diatas atau menggunakan mantra Veda dengan penuh keyakinan dan tanpa kesalahan. Shiva senantiasa akan mencurahkan pahala pada mereka yang telah mengagungkan namaNya.
45.  Dengan melewatkan penjelasan tentang ritual seperti yang disinggung diatas, para brahmana sekalian, kita akan membahas tentang pemujaan yang biasa dilakukan pada Shiva.
46.  Pemujaan ini adalah puja pada patung lingga dengan mengucapkan nama suci Shiva. Para rshi yangagung sekalian, puja seperti ini akan memberikan segala jenis pahala, maka dengarkanlah aku akan menjelaskannya.
47.  Delapan nama Shiva adalah Hara, Maheswara, Sambhu, Sulapani, Pinakadhrk, Shiva, Pasupati, dan Mahadewa harus diucapkan satu persatu dari mengambil, mengolah, manaruh, mengundang sang dewa, permandian suci, puja, memohon anugrah, dan ritual akhir.
48.  Setiap nama itu harus diawali dengan Omkara. Salah satu nama itu diletakkan ditengah dan diakhiri dengan kata ‘Namah’. Setiap ritual itu hendaknya dilakukan satu persatu dengan penuh bhakti dan rasa senang.
49.  Setiap nama suci beliau hendaknya diawali dengan Omkara. Nama beliau diletakkan ditengah dan diakhiri dengan kata ‘Namah’. Setiap ritual hendaknyadilakukan dengan penuh bhakti dan kebahagiaan.
50.  Ritual Nyasa hendaknya dilakukan terlebih dahulu baru kemudian melakukan Angayasa dari dua tangan. Penyembah hendaknya melakukan meditasi dengan japa mantra enam suku kata “OM namah Shivaya”
51.  Pemuja hendaknya bermeditasi pad Shiva dengan membayangkan beliau duduk di singgasana beliau di puncak Kailasa, dengan dipuja oleh Sananda (146) dan yang lainnya. Shiva adalah sebuah hutan api, bagi daun kering kesedihan dan penderitan para pemujanya. Beliau sungguh tidak bisa diukur. Beliau adalah perhiasan dari seluruh semesta ini dengan selalu berdekatan dengan permaisuri beliau yaitu Uma.  
52.  Ia hendaknya bermeditasi pada Shiva dengan mengikuti cara di bawah ini : Shiva bagai pegunungan perak. Beliau mengenakan perhiasan bulan yang indah di dahiNya. Tubuhnya dipenuhi dengan berbagai perhiasan. Beliau memegang kapak, kijang, mudra bulan dan melakukan mudra (Abhayamudra) yang melambangkan jaminan terhadap ketakutan dan kekhawatiran.  Beliau senantiasa bahagia duduk dengan pose teratai (padmasana). Para dewa berkumpul mengelilingi beliau sambil mengucapkan doa-doa pujian padaNya. Beliau mengendarai seekor macan. Beliau adalah mahluk utama, benih alam semesta. Beliau membasmi segala ketakutan. Beliau bermata tiga (147) dan berkepala lima (148).
53.  Setelah melakukan meditasi dan puja pada patung yang terbuat dari tanah, maka ia harus melakukan japa mantra lima suku kata yang diajari oleh gurunya.
54.  Para brahmana sekalian, penyembah yang cerdas akan memuja para dewa dengan berbagai jenis puja mantra dan mengucapkan Satarudriya mantra.
55.  Ia akan menggenggam beras dan bunga dalam cakupan tangannya dan berdoa pada Shiva dengan mantra dibawah ini.
56.  “OM, dewa Shiva yang maha welas asih, Hamba adalah milik anda. Sifat-sifat anda adalah nafas hamba. Pikiran hamba senantiasa terpusat pada anda. Dengan demikian, penguasa para mahluk halus, berkenanlah pada hamba. Sadar ataupun tidak semoga apa yang hamba lakukan dengan Japa atau puja-puji pada anda, semoga membuahkan hasil. Hamba adalah pendosa yang terbesar dan anda adalah penyuci yang tertinggi. Dengan mengetahui hal ini maka terjadilah seperti apa yang menjadi kehendak anda. Dewa yang tertinggi, anda tidak pernah bisa dipahami oleh Veda, purana, aliran filsafat atau para rshi sekalipun. Sadasiva, bagaimana hamba bisa mengetahui anda? Dalam hal apapun, hamba adalah milik anda, dengan segenap jiwaraga hamba. Hamba meminta perlindungan pada anda. Berkenanlah pada hamba”
57.  satu bagian dengan sloka 56
58.  satu bagian dengan sloka 56
59.  satu bagian dengan sloka 56
60.  satu bagian dengan sloka 56
61.  Setelah mengucapkan mantra di atas, maka pemuja hendaknya menaruh beras dan bunga dalam cakupan tangannya tadi pada linga Shiva. Para rshi sekalian, selanjutnya ia harus bersujud pada Shiva dengan penuh bhakti (dengan delapan anggota tubuh menyentuh tanah)
62.  Mereka yangcerdas akan melakkukan Pradhaksina (mengelilingi patung Shiva) sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Selanjutnya ia harus berdoa pada para dewa dengan penuh keyakinan.
63.  satu bagian dengan sloka 62
64.  Para rshi yang utama sekalian, demikianlah aku telah menceritakan tentang prosedur puja pada lingga Shiva yang memberikan kebahagiaan duniawi dan pemenuhan segala keinginan, pembebasan dan meningkatkan keyakinan pada Shiva.
65.  Siapa saja yang membaca bab ini, dengan pikiran murni akan terbersihkan dosa-dosanya. Kisah singkat ini memberikan pahala umur panjang, kesehatan yang baik, nama besar, surga dan kebahagiaan berupa keturunan yang banyak.
66.  Satu bagian dengan sloka 65

90. VS. 16.41
92. Ibid 13.18
93. Ibid 4.2
94. Ibid 16. I
95. Ibid 16. 4. I
96. Lima jenis makanan diantaranya adalah susu, olahannya, mentega, madu dan gula, semua ini disebut sebagai Pancamrita.
97. VS. 16. 28
98. Ibid. 3.61
99. Ibid 16.15
100. Ibid 16. 2
101. Ibid 16. 3
102. Ibid 16. 5
103. Tidak jelas sumbernya.
104. VS 16. 17
105. Ibid 16.8
106. KS 17. II
107. VS 3.60
108. Ibid 18. 19
109. Ibid 23. 32
110. AV 13. I. 24
111. VS 13. 27
112. Ibid 13. 28             
113. Ibid 13 29              
114. Ibid 16. 8
115. Ibid 16. 16
116. Ibid 16.36
117. Ibid 16 II-14
118. Ibid 16.28
119. Ibid 16.27
120. Ibid 16.42
121. Ibid 16.46
122. Ibid 16.29
123. Ibid 16.31
124. Ibid 16.32
125. Ibid 360
126. Ibid 16. 48
127. Ibid 16.44
128. Nama dari sebelas Rudra secara bervariasi disebutkan dalam berbagai purana. Menurut MP (Markandeya purana) sebelas nama beliau itu adalah Ajaikapad, Ahirbudhnya, Hara, Virupaksha, Raivata, Bahurupa, Trayambhaka, Savita, Jayanta, Pinaki, Aparijita. Dalam VP (Vayaviya purana) tiga nama pertama sama dengan ayng disebutkan dalam Markandeya purana sisanya adalah Nirarta, Ishvara, Bhuvana, Angaraka, Ardhaketu, Mrtyu, Sarpa, Kapalin.
129. VS 16.15
130. Ibid 16.16
131. Ibid 13.4
132. Ibid II.28                        ( * ) Ibid 16.31
133. Ibid 16. 48-50
134. Ibid 16.15
135. Ibid 16.16
136. Ibid 9.35
137. Ibid 36.60
138. Ibid 3.60        
139. Ibid 16. 26
140. Namah Shivaya
141. TB 3.7  4.1
142. VS  29.36
143. TA 10.44.I
144. VS. 16.2
145. KS 17.II ; MS 2.9 I : II. 9.7
146. VS 27. 35
147. Sananda adalah salah satu dari empat, tujuh atau sepuluh putra Brahma yang diciptakannya dari kekuatan pikiran beliau.
Dewa Shiva yang bermata tiga disebut demikian karena mata ketiga muncul dari dahi beliau, diceritakan bahwa mata ketiga ini menerangi selurh semesta dan ketika Parwati secara tidak sengaja menutup dahi Shiva dengan tangannya maka alam seemsta tiba-tiba menjadi gelap. Mata ketiga ini sangat kuat dan bersifat mengahancurkan. Mata ketiga iniah yang telah membakar dewa Kama menjadi abu.
148. Shiva berkepala lima : lihat catatan 25
149. Dikisahkan bahwa para Gana dalam wujud kambing sedangkan Daksa menjadi kijang yang akhirnya tertangkap, telah menghancurkan upacara Yajna yang dilakukan oleh Daksa.

BAB XIX (Keagungan pemujaan terhadap patung linga Shiva yang terbuat dari tanah liat)


Para rshi berkata :
1.      Rshi Suta, Tuan, semoga anda panjang umur. Anda adalah pemuja Shiva yang terberkati. Keagungan patung lingga Shiva yang memberikan pahala yang luar biasa telah dengan baik anda jelaskan pada kami. Sekarang jelaskanlah keagungan patung Shiva yang jauh lebih unggul dari semua benda suci lainnya.
2.      satu bagian dengan sloka 1

Rshi Suta berkata :
3.      Para rshi sekalian, dengarkanlah dengan penuh perhatian dan bhakti. Sekarang aku akan menceritakan keagungan paung linggam Shiva yang terbuat dari tanah liat.
4.      Patung linggam Shiva yang adalah ayng paing suci diantara semua benda yang suci menurut Shiva. Banyak brahmana telah mendapatkan kebahagiaan dari puja terhadap patung linggam itu.
5.      Para brahman sekalian, Hari, Brahma, Prajapati dan para rshi lainnya telah mendapatkan berbagai keinginan mereka dengan memuja patung linggam yang terbuat dari tanah liat.
6.      Para dewa, rshi, asura, gandharva, ular, raksasa, dan berbagai mahluk lainnya telah mencapai keagungan dengan memuja patung linggam ini.
7.      Patung linggam yang terbuat dari permata adalah yang terbaik pada jama Kritayuga, yang terbuat dari emas murni adalah terbaik pada jaman Dvaparayuga, dari perak pada jaman Treta, dan yang terbuat dari tanah liat adalah yang terbaik pada jaman Kaliyuga.
8.      Diantara delapan tubuh koemik Shiva, yang terbuat dari tanah adlah yang terbaik. Karena tidak dipuja oleh orang lain maka lingga ini menghasilkan pahala yang sangat besar.
9.      Sebagaimana Shiva adalah dewa yang paling senior dan teristimewa, maka demikianlah patung linggam yang terbuat dari tanah adalah yang terbaik.
10.  Sebagaimana sungai Gangga adalah sungai yang tertua dan yang tersuci, maka demikianlah patung linggam Shiva yang terbuat dari tanah liat adalah yang teristimewa dari semua jenis lingga.
11.  Sebagaimana Pranava dianggap sebagai mantra yang tertinggi, demikian juga patung lingga Shiva yang terbuat dari tanah liat adalah benda tersuci diantara benda suci lainnya.
12.  Sebagaimana Brahmana dikatakan sebagai kasta yang tertinggi dari semua kasta maka demikianlah patung linga yang terbuat dari tanah liat adalah yang tertinggi dari semua benda yang patut dipuja.
13.  Sebagaimana Kasi dianggap sebagai tempat tersuci, maka demikianlah patung lingga tanah liat adalah yang tersuci dari benda lainnya.
14.  Sebagaimana hari raya Shivaratri adalah hari yang tersuci dar semua hari raya maka demikianlah patung linggam ini adalah yang tersuci dari semua benda yang patut untuk dipuja.
15.  Sebagaimana energy dari Shiva dianggap sebagai dewi yang tertinggi maka demikianlah patung lingga ini adalah yang tertinggi dan teristimewa dari semua benda pujaan.
16.  Jika seseorang memuja dewa yang diyakininya dengan mengesampingkan puja pada patung linggam, maka puja yang dilakukannya akan sia-sia. Upacara permandian, pemberian sumbangan dan sebagainya akan sia-sia.
17.  Pemujaan kepada patung linggam adalah ritual yang menyucikan, penganugerah kebahagiaan, umur panjang, pemenuhan keinginan, perkembangan dan keberuntungan. Ritual ini hendaknya dilakukan oleh mereka yang mengejar spiritualitas.
18.  Seorang penyembah yang dikaruniai dengan keyakinan yang mantap, akan memuja patung linggam dan melakukan pelayanan karena ini mudah untuk dilakukan. Ini memberikan pemeunahan segala keinginan.
19.  Ia yang memuja patung linggam setelah membangun sebuah sebuah altar akan berkelimpahan hidupnya dan mendapatkan keagungan hingga akhirnya akan bersatu dengan Rudra.
20.  Ia yang melakukan puja tiga kali setiap hari secara teratur akan mendapatkan kebahagiaan selama duapuluh satu kali kelahiran selanjutnya.
21.  Ia akan dihormati di Rudraloka dalam tubuh manusianya. Wujudnya akan memberikan pahala penghapusan dosa bagi siapa saja dengan hanya melihat atau menyentuhnya saja.
22.  Ia adalah jiwa yang telah mendapatkan pembebasan, ia bijaksana, ia adalah Shiva, dan ini tidak diragukan lagi. Hanya dengan melihatnya saja maka seseorang akan mendapatkan kebahagiaan duniawi dan pembebasan.
23.  Ia yang memuja patung linggam Shiva setiap hari tiga kali maka ia akan tinggal di Shivaloka selama bertahun-tahun Shiva, karena ini berati bahwa ia telah mengunjungi kuil Shiva dalam masa hidupnya. Jika ia ingin lahir kembali maka ia akan lahir sebagai raja yang paling berkuasa dan bijaksana ditanah Bharatavarsha.
24.  satu bagian dengan sloka 23
25.  Jika seseorang memuja patung lingga Shiva yang terbuat dari tanah liat setiap hari tanpa ada keinginan yang lain, maka ia akan mencapai pembebasan dan tinggal di Shivaloka selamanya. Ia akan mencapai pembebasan jenis Sayujya.
26.  Jika seorang brahmana tidak memuja patung linggam yang terbuat dari tanah liat maka ia akan jatuh ke neraka dimana senjata Trishula mencabik-cabik tubuhnya.
27.  Dengan segala cara hendaknya, patung linggam ini dihias seindah mungkin. Ritual Pancasatra hendaknya dilakukan dengan patung linggam ini.
28.  Patung lingga ini hendaknyadubuat dalam satu kesatuan tanpa ada sambungan. Jika dibuat bersambung atau ada banyak sambungan maka ia tidak akan mendapatkan pahala apa-apa dari puja yang dilakukannya.
29.  Terbuat dari permata, emas, perak, kristal, atau Pusparaga atau bahan apa saja, patung lingga ini hendaknya dibuat sebagai satu kesatuan tanpa ada sambungan.
30.  Semua lingga yang bisa dipindah-pindah harus terdiri dari satu kesatuan. Sedangkan patung linggam yang menetap di suatu tempat hendaknya terdiri dari dua bagian (linga dan yoni terpisah, namun dalam posisi linga diatas yoni). Ini adalah aturan membuat patung linggam yang bergerak atau yang menetap.   
31.  Yoni atau alas linga adalah Maya yang agung ; sedangkan lingga itu sendiri adalah Shiva. Oleh karena itulah untuk linggam yang menetap maka disarankan untuk membuat lingga yang terpisah atau terdiri dari dua bagian.
32.  Ini telah dinyatakan oleh mereka yang mengetahui budaya Shaiva bahwa patung linga yang menetap hendaknya terdiri dari dua bagian.
33.  Hanya mereka yang telah diliputi oleh ketidaktahuan saja yang membuat patung linggam yang bergerak dengan dua bagian dan yang menetap terdiri dari satu bagian. Para rshi yang mahir dalam aliran Shaiva dan kitab suci tidak membenarkan hal ini.
34.  Mereka yang membuat patung linga yang bergerak dengan dua bagian dan linga yang menetap terdiri dari satu bagian adalah orang yang kurang cerdas. Karena mereka tidak akan mendapatkan pahala dari puja yang mereka lakukan.
35.  Oleh karena itulah seseorang hendaknya dengan senang hati membuat linga yang bergerak dengan satu bagian dan yang menetap terdiri dari dua bagian. Karena ini adalah aturan yang ditetapkan dalam kitab suci.
36.  Memuja patung linga bergrak yang terdiri dari satu bagian akan memberikan pahala penuh dari puja yang dilakukan, sedangkan memuja patung linga bergerak yang terdiri dari dua bagian akan membawa bencana bagi sang pemuja.
37.  Ini telah ditetapkan oleh kitab suci dan mereka yang mengetahui berbagai aturan tentang linga, bahwa puja pada linga yang mentap yang terbuat dengan satu bagian tidak hanya mengahalangi adanya pahala namun juga membawa berbagai halangan pada sang pemuja.
89. Srimad Bhagavatam memberikan versi berikut ini tentang wujud Siva : “Ketika prinsip hidup termanifestasikan, ia tidak memiliki nama, sehingga ia menangis. Prajapati memberinya nama Rudra, Sarva, Pasupati, Ugra, Asani, Bhava, mahadeva dan Isana. Dari konsep inilah purana mengembangkan konsep Astamurti Siva.

BAB XVIII (Sifat dari ikatan dan pembebasan dan keagungan lingga Shiva)


Para Rshi berkata
1. Yang terutama diantara mereka yang mengetahui segalanya, mohon jelaskan tentang sifat dari ikatan dan pembebasan itu.

Rshi Suta berkata :
            Aku akan menceritakan tentang ikatan, pembebasan, dan cara untuk mencapai pembebasan. Mohon dengarkanlah dengan penuh perhatian.
1.     Sebuah jiwa dikatakan terikat jika ia masih terikat pada delapan indera yang utama, Prakriti dan sebagainya. Jika ia sudah terbebas darinya maka ia bisa disebut telah mencapai pembebasan.
2.     Kendali yang sempurna dan penaklukan Prakriti menghasilkan pembebasan. Sebuah jiwa yang berada dalam ikatan disebut sebagai jiwa yang terbebas.
3.     Delapan hal yang mengikat itu adalah Prakriti, Budhi, Ahamkara, dan lima tanmatra (lima prinsip kosmik seperti ether dan sebagainya)
4.     Tubuh manusia terbungkus dalam delapan pembungkus ini. Tubuh melakukan aktivitas. Aktifitas melahirkan tubuh. Demikianlah kelahiran dan aktifitas berhubungan seperti sebuah seri.
5.     Tubuh manusia terdiri dari tiga wujud yaitu yang kasa, halus dan tubuh kausal. Tubuh jasmani (kasar) bertanggung jawab atas segala perbuatan dan tindakan, tubuh halus menghasilkan kenikmatan dan kesenangan indera. Sedangkan tubuh Kausal adalah untuk mengalami baik atau buruknya kegiatan yangdilakukan oleh jiva. Jiva mengalami kebahagiaan karena kebajikan yang dilakukannya dan mengalami penderitaan karena perbuatan buruk yang dilakukannya.
6.     satu bagian dengan sloka 6
7.     Jiva terikat oleh tali kegiatan dan senantiasa berputar-putar selamanya bagaikan sebuah roda gila yang merupakan tempat dari tuga tubuh ini melakukan kegiatannya masing-masing.
8.     Pencipta dari perputaran ini harus dipuja untuk menghentikan aktivitas dari roda perputaran itu. Prakriti dan sebagainya membentuk perputaran roda gila ini dan Shiva berada jauh mengatasinya.
9.     Pencipta perputaran itu adalah dewa Shiva. Beliau berada diluar Prakriti. Sebagaimana seorang nak yang meminum atau memuntahkan airsesuka hatinya, demikianlah Shiva menjaga Prakriti dan sebagainya, sesuka hati beliau. Beliau digelari sebagai Shiva karena kemampuan beliau untuk mengatasi dan mengendalika Prakriti (Vasikrata). Hanya Shiva sajay ang mahatahu, sempurna dan terbebas dari segala keinginan.
10. satu bagian dengan sloka 10
11. Kekuatan batin yangdimiliki oleh Maheswara hanya bisa diungkapkan oleh kitab Veda sebagai mahatahu, mahamengatasi, tanpa pemahaman awal, berdiri sendiri, tidak pernah gagal dan kekuasaan yang tidak terbatas.
12. Maka dari itulah Prakriti dan sebagainya hanya bisa dikendalikan atas berkah Shiva. Sedangkan untuk mendapatkan berkah Shiva maka seseoran harus memujaNya terlebih dahulu.
13. Jika seseorang bertanya “bagaimana bisa ada pemujaan yang tidak mementingkan diri sendiri dari sebuah mahluk yang sempurna?” jawabannya adalah “sebuah aktifitas yang ditujukan untuk Shiva akan menyenagkan beliau” 
14. Dengan senantiasa membayangkan wujud Shiva dalam pikirannya maka seorang penyembah hendaknya memuja Shiva atau para penyembah beliau yang taat. Ia harus memuja para penyembah Shiva dengan pelayanan, pikiran, dan sumbangan dan sebagainya.
15. Shiva, dewa yang mahaagung, yang mengatasi Prakriti akan senang dengan pemujaan yang dilakukan pada beliau dan secara khusus akan memberkati penyembah itu.
16. Dengan berkah Shiva, Karma dan sebagainya akan bisa dengan mudah dikendalikan. Diawali dari Karma dan diakhiri dengan Prakriti, jika semuanya telah bisa dikendalikan maka jiva bisa dikatakan telah mencapai pembebasan dan akan bersinar sebagai jiwa pribadi yang mandiri, cemerlang dalam kesejatiannya. Dengan berkah dewa Shiva, jika tubuh ini yang merupakan gabungan dari berbagai tindakan (karmadeha) telah dikendalikan, maka penyembah akan masuk kealam Shivaloka. Ini disebut sebagai pembebasan berbentuk Salokya. Jika elemen halus telahdikendalikan maka pemuja akan mengalami kedekatan dengan Shiva.
17. satu bagian dengan sloka 17
18. satu bagian dengan sloka 17
19. Kemudian ia akan mencapai kesamaan dengan Shiva dalam hal atribut dan kegiatan. Ini disebut sebagai Sarupya. Jikia sang penyembah telah mencapai anugrah yang tinggi, maka kecerdasan kosmik (Budhi) juga akan menjadi dibawah kendali.
20. Kecerdasan kosmik ini hanyalah sebuah refleksi dari Prakriti. Kendali intelek disebut sebagai Sarsti – sebuah bentuk pembebasan dimana penyembah mendapatkan kedudukan yang sama dengan Shiva. Kemudian perlahan-lahan atas berkh Shiva maka jiva akan mengatasi dan mengendalikan prakriti.
21. Selanjutnya segala kekuatan bathin yang dimiliki oleh Shiva tidak akan sulit untuk didapatkan. Setelah mendapatkan segala kemahakuasaan Shiva maka jiva itu akan bersinar dalam kecemerlangannya. Ini disebut sebagai keadaan Sayujya (persatuan yang sempurna) oleh mereka yang ahli dalam ilmu Veda dan Agama (naskah kitab suci tradisional). Dengan melalui semua tahapan inilah seseorang akan mencapai pembebasan dengan memuja patung linggam Shiva.
22. satu bagian dengan sloka 22
23. Maka para penyembah hendaknya memuja Shiva dengan melakukan upacara suci dan sebagainya untuk mendapatkan berkah dari Shiva. Upacara suci Shiva, tapabrata Shiva, dan Japa dengan mantra suci Shiva.
24. Pengetahuan tentang Shiva dan meditasi padaNya akan terus dilakukan dengan sendirinya. Ini akan berlangsung hingga waktu terakhir dimana ia akan menuju ketempat pembaringan terakhir maka yang direnungkannya hanyalah Shiva.
25. Ia akan memuja Shiva dengan mantra “Sadyo” dan bunga. Maka ia akan mencapai kesejateraan.
26. satu bagian dengan sloka 26
Para rshi berkata :   
            Tuan rshi yang istimewa dalam segala pelaksaan upacara mohon jelaskanlah pada kami,  tentang cara untuk memuja Shiva dalam wujud lingga dan wujud-wujud beliau yang lainnya.
Rshi Suta berkata :
            Para brahmana sekalian, dengarkanlah dengan penuh perhatian karena aku akan menceritakan tentang cara untuk memuja lingga. Linggam yang pertama yang akan memberikan pemenuhan semua keinginan.
27. Jika pranava ini berwujud Niskala maka disebut sebagai Suksma pranava. Sedangkan yang kasar disebut sebagai sthula pranava jika berwujud Sakala dan terdiri dari lima suku kata.
28. Pemujaan kepada dua hal ini disebut sebagai sebuah tapabrata. Keduanya akan membawa seseorang pada pembebasan. Ada banyak sekali linggam dari Paurusha prakriti.
29. Hanya Shiva yang sanggup menjelaskan hal ini dengan sangat jelas. Tidak ada orang lain yang sanggup melakukannya. Linggam yang masih bisa ditemukan atau kasat mata dibumi ini yang akan aku ceritakan pada kalian.
30. Itu semua ada lima jenisnya : (1) Svayambhu, (2) Bindhu, (3) Pratisthita, (4) Cara, (5) Gurulinga.
31. Jika ia diberkati dengan berkah para dewa dan rshi maka Shiva dalam wujud Nada mengambil wujud sebuah benih yang masuk ke dalamtanah dan tiba-tiba menembus permukaan tanah seperti sebuah tunas tanaman, beliau memanifestasikan diriNya keluar dan merasakan kehadirannya seniri. Karena Lingga itu berdiri atau ada sendiri maka disebut sebagai Svayambhu lingga.
32. satu bagian dengan sloka 32
33. Dengan melakukan pemujaan kepadanya, pemuja akan mendapatkan pahala pengetahuan yang meningkat dengan otomatis. Di atas sebuah piringan emas atau perak atau didalam ruangan altar pemuja hendaknya menggambar sebuah patung linggam, pranava mantra dan membangkitkannya dengan puja Pratistha dan Avahana.
34. satu bagian dengan sloka 36
35. Perwujudan Bindu dan Nada, yang diam atau yang bergerak, keduanya adalah milik Shiva.
36. Dimana saja Shiva diyakini hadir, maka disanalah Shiva memberikan berkahnya pada mereka yang yakin. Pemuja bisa membangkitkan berkah eliau dengan memuja beliau dalam sebuah patung atau gambar, atau ukiran bergambar Shiva dengan melakukan enam belas pelayanan dan Homa. Ia akan mencapai kekuasaan yang tertinggi dan dengan latihan mendapatkan pengetahuan.
37. satu bagian dengan sloka 37
38. Jika patung beliau didirikan dengan pikiran yang tulus murni dalam sebuah altar atau altar yang telah disucikan oleh para rshi atau para dewa disebut sebagai Paurusa dan ini termasuk dalam patung lingga yang dibuat atau didirikan.
39. satu bagian dengan sloka 39
40. Dengan puja yang dilakukan secara teratur, sang pemuja akan mendapatkan semua Paurusa Aisvarya (kekayaan manusia). Jika seorang raja atau orang kaya menyiapkan sebuah patung lingga dan dihias dengan berbagai hiasan maka itu disebut sebagai Pratisthita dan Prakrta. Ini akan memberikan pahala berupa Prakrta Aiswarya (kekayaan alami).
41. satu bagian dengan sloka 41
42. Yang penuh kekuatan dan abadi disebut sebagai Paurusa. Sedangkan yang lemah dan tidak tetap disebut sebagai Prakrta.
43. Wujud pergerakan spiritual diwakili pergerakan dengan anggota tubuhnya seperti penis, pusar, lidah, ujung hidung, paha dan sebagainya.
44. Pegunungan termasuk ke dalam golongan Paurusa dan permukaan bumi disebut sebagai golongan Prakrta. Pepohonan dan sebagainya disebut sebagai Paurusa dan semak disebut sebagai Prakrta.
45. Beras Sastika disebut sebagai Prakrta dan beras Sali dan tepung adalah Paurusa. Aishvarya adalah Paurusa. Paurusa ini memberikan anugrah berupa kekuatan Siddhi seperti Anima dan sebagainya.
46. Prakrta linga memberikan anugrah berupa wanita yang baik, kekayaan dan sebagainya sesuai dengan kepercayaan. Sekarang aku akan menceritakan Rasalinga diantara jenis Caralinga. (Rasalinga disebut sebagai yang utama diantara semua linga yang bergerak)
47. Rasalinga adalah penganugrah segala keinginan pada para Brahmana. Sedangkan Banalinga yang suci adalah penganugrah kerajaan pada para Kshatrya.
48. Sebuah Linga emas memberikan kekayaan yang berlimpah pada seorang Vaishya yang membuatnya. Silalinga akan memberikan kesucian pada para Shudra.
49. Sebuah linga yang terbuat dari Kristal dan sebuah Banalinga akan memberikan segala jenis keinginan. Jika seorang pemuja tidak memiliki linga milik pribadi, maka tidak ada ruginya jika ia menggunakan linga orang lain untuk melakukan puja.
50. Sebuah linga yang terbuat dari tanah akan digunakan oleh para wanita khususnya mereka yang suaminya masih hidup. Jika mereka menjanda dan terlibat dalam kehidupan duniawi, maka ia sebaiknya membuat linga dari crystal.
51. Para rshi sekalian yang mahir dalam berbagai ritual, jika ada seorang janda, baik masih muda maupun sudah tua, sebuah Rasalinga disarankan jika mereka masih melanjutkan melakukan pujanya.
52. Sebuah linga yang terbuat dari crystal murni memberikan segala jenis kenikmatan duniawi pada para wanita. Pemujaan kepadaYoni memberikan kenikmatan duniawi dan pemenuhan segala keinginan.
53. Seorang pelaku upacara suci hendaknya melakukan puja dalam sebuah perahu. Pada akhir upacara Abhiseka (upacara permandian) Naivedya yang berisikan nasi beras Sali harus dipersembahkan
54. Jika upacara ritual telah selesai maka linga hendaknya ditaruh pada sebuah peti atau kotak dan ditaruh pada tempat terpisah dari rumah. Orang yang memuja lingga milikinya hendaknya mempersemabahkan semua jenis makanan yang biasanya ia makan sebelum memakannya, ini dilakukan setelah ritual berakhir.
55. Mereka yang bukan orang ritual hendaknya memuja linga yang halus. Di tempat yang digunakan untuk persembahan yang berupa bunga-bungaan dan tanaman maka disana harus ditempatkan abu suci untuk persembahan.  
56. Mereka harus memuja dan menjunjung tinggi linga itu selamanya. Abu suci yang dipakai itu terdiri dari tiga jenis yaitu, dari api biasa, dari api Veda dan dari api Shiva.
57. Abu yang berasal dari perapian biasa hendaknya dipakai untuk membersihkan atau menyucikan benda-benda yang terbuat dari tanah, kayu, logam, dan bahkan bahan makanan.
58. Benda untuk melakukan puja seperti biji-bijian, kain, dan benda-benda yang sudah usang hendaknya dibersihkan dengan abu.
59. Demikian juga dengan benda-benda yang telah tercemar oleh binatanag seperti anjing dan sebagainya. Abu yang digunakan bisa dicampur dengan air atau tidak sesuai dengan kebutuhan.
60. Abu yang merupakan hasil dari upacara suci hendaknya dipakai di dahi. Karena abu itu telah disucikan oleh berbagai mantra yang diucapkan dalam ritual itu maka dengan sendirinya abu itu menjadi suci. Dan hasil dari upacara itu adalah dalam bentuk abu suci.
61. Oleh karena itulah memakai abu suci berarti sebuah tanda adanya hubungan antara upacara suci dengan kesadaran Atman yang ad adalam diri seseorang. Ranting pohon Bilva hendaknya dibakar dengan mengucapkan mantra Atma Aghora. Api suci yang dihasilkan disebut sebagai Shivagni. Sedangkan abu suci yang dihasilkan adalah Shivagnija. Kotoran sapi, khususnya sapi Kapila, dibakar dahulu lalu dicampur dengan ranting Sami, Asvattha, Palasa, Vata, Aragvadha atau Bilva hendaknya dibakar. Abu yang dihasilkannya disebut sebagai Shivagnija. Atau ranting ini juga bisa dibakar dalam api Darbha dengan mengulang-ulang Shiva mantra. Setelah mengumpulkan abu suci itu dengan sebuah kain maka hendaknya abu itu ditaruh pada sebuah pot yang baru.
62. satu bagian dengan sloka 62
63. satu bagian dengan sloka 62
64. satu bagian dengan sloka 62
65. Untuk mendapatkan kecemerlangan maka abu ini hendaknya dipakai. Kata Bhasma berarti sesuatu yang dihormati dan dipuja. Shiva juga melakukan hal ini sebelumnya.
66. Seorang raja akan mengambil beberapa dari kekayaan rakyatnya dalam bentuk pajak, sedangkan manusia membakar tanaman untuk mendapatkan sari-sarinya.
67. Api pencernaan membakar berbagai jenis makanan dan sebagai hasilnya maka adalah perkembangan tubuh.
68. Demikian juga dengan dewa Shiva, pencipta alam semesta ini, membakar seluruh semesta dan mengambil abunya sebagai saripatinya.
69. Setelah membakar seluruh semesta maka beliau melumuri tubuhnya dengan abu itu. dengan perannya sebagai penghacur maka beliau mengambil sari dari penghancuran yang dilakukanNya.
70. Beliau memakai sari alam semesta itu di tubuhNya. Sari dari ether (Akasa) diwakili dengan rambut beliau. Sari dari angin membentuk wajahNya.
71. Sari dari unsur api membentuk hatiNya, sari dari unsur air membentuk tubuhnya dan saru unsur tanah membentik lutut dan bagian tubuh lainnya.
72. Tripundraka (tiga garis abu yang horisonta yang menghiasi dahi beliau) adalah sari dari prinsip Tritunggal : Brahma, Vishnu dan Rudra. Demikian juga Maheswara juga memakai Tilaka di dahiNya sebagai perlambang dari sari segala unsur.
73. Kata Bhasma berarti sesuatu yng mengendalikan segala unsur seluruh semesta. (Bha = esensi yang mengambangkan, Sma = Swayam. Manyate = menganggap sebagai miliknya)
74. Kata Shiva berarti ia yang mengendalikan segalanya, sesuatu yang tidak ada yang mengendalikannya, sebagaimana kata Simha (singa) yang melambangkan mahluk yang memangsa mahluk lain, yang tidak bisa diserang atau disakiti oleh mahluk lain. Kata Shiva juga diberikan interpretasi lain. Huruf ‘S’ melambangkan kebahagiaan yang abadi. Huruf ‘I’ melambangkan Purusa (energi utama dalam wujud laki-laki), sedangkan suku kata ‘Va’ berarti Shakti (energi utama dalam wujud wanita). Jika digabungkan maka akan membentuk kata Shiva. Oleh karena itulah maka penyembah harus mengharmoniskan diri dengan memuja Shiva.
75. satu bagian dengan sloka 75
76. satu bagian dengan sloka 75
77. Pertama-tama abu itu harus dibuat dalam bentuk debu lalu dipakai dalam bentuk Tripundraka. Pada saat puja maka air hendaknya ditambahkan sedikit pada abu itu. Kalau hanya untuk penyucian maka tidak usah menggunakan air.
78. Para penyembah, baik pria maupun wanita, siang ataupun malam, hendaknya memakai abu suci yangtelah dicampur dengan air dan mengenakan Tripundraka pada saat melakukan puja.
79. Ia yang mengenakan simbol Tripundraka dengan abu suci dan melakukan pemujaan maka ia akan mendapatkan semua pahala penuh dari upacara yang dilakukannya.
80. Dengan memakai abu suci dengan diiringi mantra Shiva maka ia telah menembus batas-batas Ashrama (tingkatan hidup). Ia disebut sebagai Sivasrami karena dianggap sebagai satu-satunya yang mengabdi dengan tulus pada Shiva.
81. Setelah menjadi pemuja Shiva dan melakukan semua upacara suci yang ditujukan pada Shiva maka ia tidak akan terkena pengaruh ketidaksucian jika ada keluarga yang meninggal atau lahir dalam keluarganya. Ciri khusus dari seorang penyembah Shiva adalah ia memiliki sebuah tanda titik bulat yang dikenakan oleh gurunya atau dikenakan sendiri pada dahinya. Kata Guru berarti orang yang membasmi segala sifat buruk dan tidak baik.
82. satu bagian dengan sloka 82
83. Beliau menghapuskan segala pengaruh buruk dari sifat Rajasik. Beliau adalah Shiva sendiri. Beliau berada mengatasi tiga guna dan mengambil wujud sebagai seorang guru dan menghapuskan segala pengaruh buruk yang ada dalam diri seorang murid dan memberinya kesadaran Shiva.
84. satu bagian dengan sloka 84
85. Oleh karena itulah seorang penyembah yang cerdas hendaknya menyadari bahwa tubuh phisik seorang guru adalah sebuah Gurulinga, puja dan penghormatan yang diberikan padanya adalah sebuah guru puja.
86. Kata ‘pelayanan’  berarti sebuah ketaatan pada perintah dengan menggunakan tubuh, pikiran, dan perkataan.  Seorang pemuja yang dengan jiwa yang suci hendaknya mempertaruhkan jiwa dan semua miliknya untuk melakukan perintah seorang guru meskipun perintah itu diluar kemampuannya untuk melakukannya.
87. satu bagian dengan sloka 87
88. Dengan mengabdikan seluruh miliknya, bahkan dirinya sendiri, pada gurunya maka seorang murid hendaknya mempersembahkan makanannya pada gurunya terlebih dahulu baru kemudian mengambil makanannya atas ijin gurunya.
89. Demikian juga seorang murid yang bijak dan senantiasa melakukan semua disiplin yang diperintahkan gurunya akan menjadi seperti anak dari guru itu sendiri. Sebaliknya, guru akan mentransfer mantra suci kepada muridnya dan mengangkat mantra putra padanya. Sedangkan seorang putra seperti itu hendaknya memperlakukan dan memuja gurunya seperti seorang ayah. Ayah kandung, yang melahirkan seseorang mungkin saja akan menuntun putranya kearah keduniawian. Namun seorang ayah spiritual dalam wujud seorang guru hanya akan menuntun putranya menuju ke arah kebenaran dan pembebasan. Seorang murid hendaknya menyadari perbedaan keduanya dan memuja gurunya dengan tulus.
90. satu bagian dengan sloka 90
91. satu bagian dengan sloka 90
92. Cara-cara untuk memuja seorang guru ada beraneka jenisnya. Beliau bisa diberikan sumbangan berupa uang atau dilayani secara phisik sedangkan uang yang diberikan hendaknya didapatkan dari jerih payah sang murid. Karena setiap anggota tubuh seorang guru adalah benda suci maka dengan memijat, menyediakan alas kaki, memandikan, mempersembahkan makanan dan berbagai pelayanan hendaknya dilakukan untuk menyenangkan beliau.
93. satu bagian dengan sloka 93
94. Dengan demikian, puja dan pelayanan yang dilakukan pada seorang guru spiritual adalah puja yang dilakukan pada Shiva sendiri. Lalu apa yang akan terjadi jika seorang guru mengambil makanan yang hendak dimakan oleh muridnya ? Maka ini akan menyucikan sang murid. Sebagaimana Shiva yang mencicipi makanan persembahan dan sisanya harus dibagikan pada para penyembah, demikian juga seorang murid hendaknya mengambil sisa gurunya. Bahkan sisa makanan dan air, para brahmana sekalian.
95. satu bagian dengan sloka 95
96. Tanpa ijin dari seorang guru, apapun yang diambil oleh seorangmurid dianggap sebagai pencurian. Seorang murid hendaknya memperlakukan gurunya sebagai orang yang mengetahui segala hal yang khusus.
97. Pembebasan dari kebodohan dan ketidaktahuan adalah tujuan utama. Hanya mereka yang cerdas dan mahir bisa mendapatkannya. Untuk melakukan sebuah tugas atau sebuah upacara suci maka segala jenis halangan harus dihalau. Sebuah upacara ritual yang dilakukan tanpa adanya halangan akan menghasilkan buah yang istimewa. Upacara tambahan juga harus dilakukan. Oleh karena itulah maka bagi mereka yang cerdas akan memuja Ganesha pada awal ritual yang hendak dilakukannya.
98. satu bagian dengan sloka 98
99.       Bagi mereka yang cerdas akan memuja semua dewa untuk menghindari segala jenis halangan yang mungkin ada. Ada tiga jenis halangan yang pertama adalah Adhyat mika adalah halangan yang disebabkan oleh gangguan badan, seperti demam dan berbagai jenis penyakit.
100.   Jenis yang kedua adalah Adhibhautika adalah halangan yang disebabkan oleh adanya campur tangan alam dan unsur lain. Ini misalnya adalah kerasukan jin dan mahluk halus, ketidak harmonisan dalam rumah, rumah dihui ular berbiasa, pohon berbunga tidak pada musimnya, kelahiran bayi pada waktu yang tidak baik, semua ini adalah pertanda yang tidak baik yang mungkin akan membawa penderitaan. Oleh karena itulah ini kemudian disebut sebagai Adhibhautika. Halangan jenis yang ketiga adalah Adhidaivika (bencana yang merupakan kehendak Tuhan) Jika halilintar tiba-tiba menggelegar, wabah penyakit merajalela, kolera, thypus, dan berbagai jenis penyakit lain menyerang dan juga terdapat mimpi-mimpi buruk, planet buruk mempengaruhi kelahiran seorang anak, maka halanagan seperti ini disebut sebagai Adhidaivika. Untuk menghapuskan halangan seperti ini pada saat seseorang harus menyentuh orang mati, seorang chandala dan sebagainya maka ia harus melakukan Shanti yajna untuk menghalau pengaruh buruknya.
101.   satu bagian dengan sloka 101
102.   satu bagian dengan sloka 101
103.   satu bagian dengan sloka 101
104.   satu bagian dengan sloka 101
105.   satu bagian dengan sloka 101
106.   Dalam sebah wilayah Pura, kandang sapi, sebuah tempat suci atau halaman rumah sendiri hendaknya diperksa terlebih dahulu sebelum dipakai untuk melakukan upacara suci. Tempat itu hendaknya berada dalam jarak dua hasta dari tanah. Tempat itu harus dihias seindah mungkin. Padi seberat satu Bhara harus disebarkan diatas tanah untuk membuat sebuah lingkaran yang besar. Diagram yang terbuat dari bunga teratai ditaruh ditengah dan diempat penjuru di perbatasan garis. Sebuah pot bundar yang mana diikatkan sebuah benang padanya, dan delapan pot yang sama juga ditaruh pada delapan penjuru. Semuanya harus dipenuhi dengan Ganggulu.
107.   satu bagian dengan sloka 107
108.   satu bagian dengan sloka 107
109.   Dalam delapan pot itu hendaknya diisi daun mangga yang ditaruh pada rumput Darbha. Pot-pot itu hendaknya dipenuhi dengan air yang telah disucikan dengan mantra dan berbagai persembahan.
110.   Berbagai jenis permata berharga hendaknya ditaruh pada sembilan jenis pot setiap pot berisi satu permata. Ia yang melakukan upacara ini hendaknya meminta gurunya untuk menjadi pendeta pemimpin. Pendeta pemimpin hendaknya didampingi oleh istrinya. Beliau hendaknya adalah orang yang menguasai berbagai seni ritual.
111.   Patung dewa empat penjuru arah dan Vishnu yang terbuat dari emas, hendaknya ditaruh pada tempat yang berbeda. Selanjutnya Vishnu harus dipuja dan diletakkan ditengah.
112.   Masing-masing penjaga penjuru arah hendaknya dipuja sesuai dengan tempat patungnya berada, menggunakan mantra tertentu yang diakhiri dengan kata ‘namah’.
113.   Puja pembangkitan sang dewa hendaknya dilakukan oleh pendeta pemimpin. Bersama para ritvik maka ia harus mengucapkan mantra bersangkutan sebanyak seratus kali.
114.   Pada akhir sebuah japa, Homa hendaknya dilakukan disebelah barat pot. Menurut tempat dan adat yang berlaku, persembahan yang dituangkan dalam ai suci terdiri dari satu crore, seratus ribu, seribu, atau seratus jumlahnya. Ini harus dilakukan selama satu hari, sembilan hari atau empatpuluh hari.
115. satu bagian dengan sloka 115
116.   Ranting kayu yang dipakai untuk upacara persembahan hendaknya terdiri dari kayu Sami jika ritual itu dimaksudkan untuk Shanti atau menghapuskan segala pengaruh buruk atau dari pohon Palasa jika ritual itu dimaksudkan untuk mendapatkan penghidupan. Nasi masak dan mentega juga bisa digunakan. Persembahan itu hendaknya dibuat dengan mengucapkan mantra atau naman suci dewa yang dimaksud.
117.   Benda persembahan yang dipakai hendaknya digunakan dari awal hingga akhir. Pada akhir upacara hendaknya dilakukan Punyahavacana dan air suci yang dipakai dipercikkan pada anggota keluarga.
118.   Sebanyak jumlah benda persembahan yang dibuat maka sebanyak itu pula brahmana, orang suci, para sarjana Veda, para guru dan pendeta utama yang diundang untuk membagi persembahan itu.
119.   Seluruh ritual itu hendaknya diselesaikan jika sudah melakukan upacara ritual menyembah sembilan planet. Permata dan berbagai hadiah yang berharga hendaknya diberikan pada para Ritvik (yang bertugas menyusun pelaksanaan upacara)
120.   Berbagai jenis hadiah hendaknya diberikan pada mereka yang membutuhkan, anak-anak yang telah mendapatkan benang suci, pada para pelaku rumah tangga, para rshi, perawan, dan janda. Sedangkan bahan-bahan untuk upacara diberikan pada para pendeta.
121.   satu bagian dengan sloka 121
122.   Yama adalah dewa yang menguasai segala jenis halangan dan rintangan, kesedihan, penyakit dan sebagainya. Maka untuk membuat Yama berkenan seseorang hendaknya melakukan ritual Kaladana.
123. Patung atau gambar Kala (dewa kematian) dalam wujud seorang manusia yang membawa jerat kematian dan tongkat harus dibuat dengan emas dengan menghabiskan seratus atau sepuluh Nishka (keping emas). Ini juga harus diberikan bersamaan dengan hadiah berupa uang, dan biji-bijian juga harus diberikan dalam rangka utuk mendapatkan pahala berupa kekuatan dan umur panjang.
124. satu bagian dengan sloka 124
125. Mentega atau cermin hendaknya diberikan untuk mendapatkan penyembuhan dari berbagai penyakit. Bagi mereka yang kaya hendaknya menjamu seibu orang brahmana. Sedangkan mereka yang kurang mampu memberi makan pada seratus orang brahmana. Mereka yang sama sekali tidak mampu hendaknya melakukan ritual semampu mereka. Untuk menghalu segala pengaruh jahat hendaknya seseorang memuja Bhairava.
126. satu bagian dengan sloka 126
127. Pada akhir upacara maka hendaknya dilakukan upacara Mahabhiseka dan Naivedya pada Shiva. Maka selanjutnya memberi makan pada para brahmana yang harus dilakukan.
128. Dengan melakukan upacara seperti ini maka seseorang akan terhindar dari segala pengaruh buruk dan merugikan. Shanti yajna ini hendaknya dilakukan pada bulan Phalguna setiap tahunnya.
129. Jika ada mimpi dan pertanda buruk maka upacara ini hendaknya segera dilakukan atau paling tidak satu bulan selanjutnya. Jika seseorang melakukan dosa besar, maka harus dilakukan puja pada Bhairava.
130. Jika terjadi penyakit parah seperti Lepra dan sebagainya. Maka hendaknya seseorang melakukan sebuah janji tertentu agar penyakit itu sembuh maka baru kemudian melakukan upacara. Orang yang kurang mampu hendaknya memberikan hadiah atau persembahan berupa lampu untuk patung dewa.
131. Namun jika ia tidak mampu melakukan hal ini, maka ia bisa melakukan permandian pada patung dewa dan memberikan hadiah lain. Atau ia harus bersujud pada dewa Matahari sebanyak seratus delapan kali dengan mengucapkan mantra beliau.
132. Sang penyembah harus melakukan bersimpuh dan sujud sebanyak seribu, sepuluh ribu, seratus ribu kali, atau satu crore. Semua dewa akan berkenan jika seseorang melakukan hal ini.
133. Sujud dilakukan dengan doa, “ Oh Tuhan, anda adalah yang maha agung, dan hamba bersujud padaMu. Intelek hamba diabdikan untuk anda. Keangkuhan dan kesombongan tidak ada artinya bagi anda. Hamba tidak lagi angkuh dan sombong. Sekarang hamba dalah budakMu. Semua keangkuhan yang ada dalam diri hamba telah luluh oleh penampakan dan pengetahuan tentang diriMu”
134. satu bagian dengan sloka 134
135. Namaskara, sebuah persembahan pada jiva,  harus dilakukan sesuai dengan kemampuan. Benda-benda persembahan dan daun sirih hendaknya dipersembahkan pada Shiva.
136. Sang pemuja sendiri hendaknya melakukan seratus delapan kali mengelilingi patung Shiva. Pemutaran patung Shiva seperti itu hendaknya dilakukan sendiri dan tidak boleh diwakili oleh siapapun juga.
137. Segala jenis dosa akan terhapus dengan sendirinya jika seseorang melakukan pemutaran patung Shiva. Penyakit phisik maupun mental adalah asal dari semua penderitaan dan dosa adalah asal dari segala jenis penyakit mental dan phisik itu.
138. Dosa bisa diimbangi dengan kebajikan. Sebuah upacara suci yang dilakukan dengan membayangkan Shiva akan mengahancurkan segala dosa.
139. Diantara segala jenis upacara ritual untuk Shiva, maka pemutaran patung beliau adalah yang utamadan pertama daripada yang lainnya. Pranava dalam wujud Japa dan pemutaran patung beliau adalah ritual Phisiknya.
140. Rantai kelahiran dan kematian membentuk perputaran Maya yang tidak pernah ada putusnya. Balipithashiva adalah simbol dari Mayachakra ini.
141. Dari dasar lingga pemuja berputar setengah jalan dan kembali lagi ke dasar lingga. (lalu berjalan berbalik arah jarum jam ketempat ia berhenti sebelumnya dan kembali lagi ke dasar linggam maka ia telah membuat satu putaran penuh. Demikianlah cara untuk melakukan upacara memutari patung linga Shiva. Jika terjadi sebuh kelahiran, dengan bersujud pada kelahiran itu akan mencegah kelahiran pada kehidupan selanjutnya.
142. satu bagian dengan sloka 142
143. Rantai kelahiran dan kematian membentuk Maya dari Shiva. Dan setelah melakukan sujud dan penghormatan akan mencegah kelahiran selanjutnya.
144. Selama masih ada tubuh maka Jiva akan terikat pada kegiatan phisik, dan dalam keadaan ini Jiva dikatakan masih terikat. Namun jika tiga wujud tubuh ini telah terkendali maka itu disebut sebagai ‘pembebasan’.
145. Siva, penyebab utama dari segala penyebab, adalah pencipta dari Mayachakra. Beliau membasmi Dvandva - rantai kelahiran dan kematian- yang bersumber pada MayaNya.
146. Dvandva ini dipahami dan diciptakan oleh Shiva. Maka oleh karena itulah keduanya harus diabdikan pada Shiva. Para rshi sekalian, hendaknya selalu diingat bahwa ritual memutari patung Shiva adalah yang paling disukai oleh Shiva.
147. Ritual memutari patung lingga dan sujud, jiwa yang agung dan pemujaan dilakukan bersama ritual enam belas pelayanan akan memberikan segala jenis pahala.
148. Tidak ada dosa yang tidak bisa disucikan oleh ritual ini. Maka dari itu seseorang hendaknya melakukan ini untuk menghapuskan dosa-dosanya.
149. Orang yang melakukan puja Shiva hendaknya melakukan ritual tidak berbicara dan melakukan salah satu dari ritual ini yaitu Japa, ritual suci, tapabrata, puasa, meditasi dan sebagainya. Ia juga harus senantiasa melakukan perbuatan baik dan bijak.
150. Segala jenis kekayaan, tubuh ilahi, pengetahuan, pengungkapan tabir ketidak tahuan, dan kedekatan dengan Shiva adalah hasilnya dari melakukan berbagai ritual suci ini.
151. Pelaksanaan upacara suci akan menghasilkan pahala. Pahala ini akan menghancurkan segala bentuk kegelapan dan kebodohan, ini juga menghalau kelahiran selanjutnya. Dengan mendapatkan pengetahuan yang sejati, maka penderitaan tidak lagi dirasakan sebagai penderitaan dan semua tampak seolah-olah tidak ada.
152. Seorang pemuja Shiva yang sejati harus melakukan berbagai ritual suci sesuai dengan tempat, waktu, keadaan, dan kemampuannya pada Shiva.
153. Seorang penyembah Shiva hendaknya tinggal ditempat suci, dan menghindari kekerasan terhadap sesama mahluk, tidak melibatkan dirinya dalam ketegangan-ketegangan tertentu manggunakan uang yang diperolehnya dengan jalan yang benar.
154. Bahkan air yang telah dimantrai dengan mantra limasuku kata akan mengasilkan kepuasan seperti memakan nasi yang dimasak. Bahkan sumbangan yang didapatkan oleh orang miskin bisa dipakai untuk mendapatkan pengetahuan yang sempurna.
155. Sumbangan makanan yang diberikan oleh seorang pemuja Shiva akan meningkatkan pengabdian pada Shiva. Para Shivayogi menganggap persembahan seperti itu sebagai persembahan pada Shiva.
156. Para penyembah Shiva hendaknya selalu menjaga ketat kesucian makanan yang dimakannya, dimanapun ia berada, dan apapun yang dimilikinya. Ia harus selalu bersikap pendiam dan tidak membuka rahasia apapun.
157. Kepada para penyembah Shiva ia harus selalu mengagungkan Shiva. Hanya Shiva yang tahu rahasia Sivamantra. Tidak ada yang mengatahuinya selain beliau.
158. Para penyembah Shiva harus selalu menyimpan patung linggam Shiva. Para brahmana sekalian seseorang bisa menjadi Shiva dengan menyimpan patung linggam Shiva.
159. Dengan memuja patung linggam Shiva yang bisa dipindah-pindah seperti itu maka pembebasan akan dijamin padanya. Demikianlah para brahmana, Aku telah menceritakan segala hal yang bisa dicapai dan cara untuk mencapainya.
160. Apa yang telah didengar oleh Rshi Vyasa dan apa yang telah aku ketahui dari beliau telah kalian dengarkan tadi. Kesejahteraan akan menjadi milik kalian. Semoga pengabdian kalian pada Shiva akan semakin kukuh.
161. Para sarjana sekalian, siapa saja yang membaca bab ini dan siapa saja yangmendengarkan penuturan dari bab ini, atas berkah Shiva akan mendapatkan pengetahuan tentang Shiva.