Sabtu, 06 Agustus 2011

GANESHYA (GANAPATI)


Juga dikenal dengan nama Vinayaka, banyak dewa yang paling terkenal secara universal dan dipuja di mana saja di dunia ini, popular sekali di dunia barat, karena merupakan lambang ilmu-pengetahuan duniawi, spiritual dan sains, dan sekaligus menggambarkan manusia dengan segala peri-kemanusiaan, peri-kebinatangan dan peri-kedewaannya secara utuh.Lambangnya hadir di agama Bhuda dalam bentuk swastika merah, sebagai salib dalam kepercayan Nasrani, dan dibalik oleh kaum Ziorus (menjadi istri Ganeshya yang bersifat iblis). Jangan sekali-kali memuja lambang swastika berwarna hitam secara terbalik, iblis cepat sekali datang menyesatkan anda. 
Tidak ada suatu upacara apapun juga dalam Hindhu Dharma yang dapat di mulai tanpa memuja Dewa Ganeshya dulu, karena para dewa-dewi pernah melakukan kesalahan dalam menjaga kelestarian jagat-raya ini, maka mandat sepenuhnya dari Yang Maha Esa diwakili seluruhnya kepada Ganesya, termasuk orang-tuanya harus tunduk kepada tuhan ini.Beliau juga adalah Vighneswara (penetralisir) dan Vignaharja (penghusir bala dan bencana ). Namun bentuknya yang aneh sering mengundang tanda Tanya. 
Sesungguhnya berbagai mantram-matram menyiratkan Ganeshya pada awal mulanya telah hadir di Rig-Veda (2.23.1) dan (10.112.9) sebagai konsep paling dini, yang kemudian lambat-laun berkembang sebagai Ganeshya masa kini,Ganapati-Brahmanaspati (konsep Rig-Veda)lambat-laun mengalami evolusi spiritual dan menjadi Gajavadana-Ganeshya-Veghneswara.Di Rig-Veda beliau juga disebut Brhaspati dan Vasaspati(wujud cahaya).Beliau sering dilukiskan berwarna merah keemas-emasan dan kapak perang kecil adalah senjatanya yang paling ampuh, tanpa karunia dan persetujuan beliau, semua ritus-ritus agama menjadi sia-sia, beliau tidak menerima caru dalam bentuk daging atau makanan berjiwa, namun selalu dalam bentuk manis-manisan saja, seperti buah-buahan dan berbagai jenis sesajen buatan tangan sendiri.Beliau selalu didampingi para gana (grup penyanyi dan penari), beliau juga hadir sebagai penuntun para dewa selain manusia, dan senantiasa menuntun kita samua ibarat bundanya Durga dan Parwati ke arah kebajikan. Selain Subramaniyam, kakaknya yang amat terkenal kesaktianya, beliau juga bersaudarakan para marut (marut-gana) yang pada saat ini kurang popular. 
Ada berbagai versi kelahiran dewa Ganeshya ini:
1.      Suatu saat, para dewa dalam keadaan sulit memutuskan bahwasanya mereka membutuhkan seorang pemimpin baru guna mengkhiri berbagai rintangan, kemudian Dewa Shiva berreinkarnasi melalui Dewi Parwati dan lahir sebagai Ganeshya.
2.      Suatu waktu secara iseng, karena marah kepada suaminya, Dewi Uma membuat sebuah boneka kecil berkepala gajah(ada yang mengisahkan kepada seorang pemuda tampan,ada beberapa versi dari kisah ini sendiri) dan melemparkannya ke sungai Gangga, dan kemudian lahirlah dewa berkepala gajah yang disebut juga Dvaimatura (yang beribu dua).
3.      Konon suatu hari, Dewi Parwati membuat sebuah boneka kecil dari selendangnya, dan memberikan nafas kehidupan kepada boneka ini. Setelah menjelma menjadi seorang pemuda kecil yang tampan, putra ini mendapatkan tugas menjaga pintu rumah Parwati dan menghadang siapapun yang masuk, karena beliau ingin menyendiri memuja Yang Maha Kuasa. Konon Dewa Shiva yang serba tahu kembali ke rumahnya, dan ternyata sang putra tidak mengenalinya karena memang tidak diberitahu oleh ibunya, maka beliau pun dihadang masuk oleh dewa kecil ini,yang mengaku putra Parwati. Dalam kemarahannya maka Shiva sebagai Rudra langsung menebas kepala anaka ini, dan langsung saja kepala tersebut dimakan habis oleh para ganasnya Dewa Shiva. Dewi Parwati sedih sekali akan prihal ini, dan minta anak tersebut dihidupkan kembali. Shiwa yang menyesal  minta maaf kepada putranya dan mencarikan kepala baru yang sesuai dengan kodrat dan misinya berbentuk kepala gajah. Gajah yang sedang mengobrak-abrik sebuah desa ini dipenggal kepalanya untuk diletakkan di atas kepala Ganeshya, yang kemudian mendapatkan sebutan Ganapati, bentuk Rudra yang keras.Ganeshya sendiri adalah bentuk lembut Sang Parwati.
4.      Ganeshya lahir dari bentuk ether Dewa Shiva, karena teramat tampan, ia kemudian menyebab kan dewi Parwati mengutuknya menjadi buruk rupa.
5.      Ganeshya adalah Sri Krishna dalam bentuk manusia, sewaktu sani, seorang dewa planet memandang ke arah Sri Krishna ini, tiba-tiba kepala Sri Krishna terbang ke Goloka, tempat kediaman Sri Krishna(Kreshna) raga tanpa kepala tersebut diganti dengan kepala gajah. 
Konon ada 36 kisah lebih mengenai kelahiran Ganeshya ini, di dalam salah satu kisah tersebut, Ganeshya kehilangan ujung gadingnya yang patah karena melawan Parasurama, kemudian gading patah tersebut digunakan untuk menulis Mahabarata yang didektikan kepada Rsi Vyasa .Gading patah juga menjadi symbol tidak ada ilmu-pengetahuan manusiawi yang abadi,yang abadi, hanyalah ilmu-pengetahuan sejati akan Tuhan Yang Maha Esa (simbolnya gading utuh).Jadi arca Ganeshya memang gadingnya patah satu. 
Ada juga kisah bagaimana ia mengalahkan kakaknya Skanda, dengan mengelilingi kedua orang tuanya, dengan damikian mendapatkan hadiah berupa dua orang putri Riddhi (Riddhi, Dharma) dan Siddhi (kesesatan,adharma) sebagai isteri-isterinya.Tentu saja kisah ini sarat symbol, karena Skanda, kakak Sri Ganeshya sebenarnya adalah seorang panglima perang, namun sangat emosional dan kurang suka berfikir panjang, sebaliknya Ganeshya sangat cerdas.Dalam kontes yang dimaksudkan untuk menguji kedua anak-anak mereka, Shiva dan Parwati ingin menguji kecerdasan mereka, dalam perlombaan ini barang siapa mampu mengelilingi bumi sebanyak tiga kali lebih cepat dari yang lainnya, maka akan memenangkan perlombaan ini.Sewaktu Skanda terbang melesat memutari bumi,Ganeshya dengan santai saja memutari ayah-ibunya karena teringat sebuah sabda suci di dalam sebuah karya shastra, bahwa barang siapa memutari ayah-ibunya penuh hormat tiga kali, akan berpahala sama dengan memutari bumi sebanyak tiga kali, dengan demikian menanglah Ganeshya dalam perlombaan ini. Ganeshya dengan demikian bermakna kecerdasan dan bakti yang penuh dengan kesadaran. 
Bentuk Ganeshya yang umum adalah kemerah-merahan, berbadan manusia yang gemuk pendek dengan berkepala gajah yang bekuping lebar sekali. Bertangan empat dengan salah satu gadingnya patah, bisa kiri bisa kanan.Keempat tangan masing-masing menggenggam Pasa dan Ankusa (kerang-kerang suci), berperut buncit (symbol kekotoran manusia yang ditampungnya setiap hari)menggunakan ikat pinggang berbentuk ular, juga mengenakan tali suci (yajnopavita).Duduk di atas singasana emas dalam bentuk Padmasana, kadang-kadang duduk di atas bunga Padma. Kadang kala salah satu kakinya menjulur ke bawah, busananya senantiasa anggun walaupun bagian atas tidak mengenakan jubah sebagai lazimnya dewa-dewa pria lainnya dan bermahkota bergemelapan. Beliau duduk dengan memandang ke satu arah,dapat ke kanan maupun ke kiri dan gemar menyantap berbagai manisan dan buah-buahan, beliau adalah symbol vegetarian sejati. Sesajen favorit beliau di India adalah semacam onde-onde yang disebut Modaka. Seekor tikus kecil (lambing pencuri) senantiasa menjadi tunggangannya. Kalau anda ingin berhenti merokok, berjudi, bertajen, ingin menjadi vegetarian atau ingin melepaskan diri dari suatu dosa tertentu, maka duduklah dengan tulus di depan sebuah arca Ganeshya, dapat dilakukan di rumah, dengan meletakan sesajen buah dan manisan sedikit secara sederhana, disertai dupa dan bunga sedikit, lalu letakan rokok sisa terakhir, atau uang judi, atau secara simbolis kebiasaan buruk anda, maka mohon kepada beliau agar semua yang berasal dari-Nya dikembalikan kepada-Nya sesuai dengan kehendak-Nya.bacalah mantra”OM NAMO GANESHYA NAMAHA”tiga kali,minumlah tirta suci yang telah anda siapkan sebelumnya, makanlah sesajen yang telah anda Persiapkan sedikit, kemudian bagikan sisanya kepada yang lain-lainnya.Berpuasalah hari itu, atau hari-hari selanjutnya seperti Purnama dan Tilem, maka seandainya tulus, permintaan akan langsung terpenuhi pada saat itu juga. Bagi yang ragu-ragu dan ingin mencoba-coba sebaiknya tidak melakukan sembahyang ini, khusus untuk yang ingin bertobat saja. Selanjutnya kalau terpenuhi dan terhapus kebiasan buruknya, teruskan dengan yoga-meditasi seperti tertera di BAB VI,Bhagawat-Gita.silahkan mencoba, semoga sukses. 
Kembali ke Ganeshya yang bermata sipit (lambing meditasi yang berkesinambungan),dengan mata ketiga berposisi di tengah-tengah. Kedua matanya dalam bentuk horizontal. Kepalanya bisa bertambah sampai menjadi lima pada waktu-waktu tertentu, sebuah bentuk Rudra yang menyeramkan kerena berkalungkan tengkorak-tengkorak, symbol kematian adharma, pada saat tersebut dengan sepuluh tanggannya maka jumlah senjatanya bisa menjadi total sepuluh buah atau lebih.Para isteri sering dilukiskan duduk dipangkuannya di kiri dan sebelah kanan.Sedikit penjelasan tambahan untuk symbol-simbol ini:kata Gana berarti katagori, sebuah wujud katagori yang maha utama dan tertinggi.Yang dikhususkan untuk Yang Maha Esa itu sendiri.Gaja berarti gajah,Gajanana atau Gajamukha berarti berwajah adalah sebutan-sebutan lain beliau.Gaja juga mengandung arti khusus sekali yaitu tujuan akhir kehidupan dan alam semesta ini, baik anda sadari maupun tidak.Jadi arti lain dari Gaja adalah:”Dari Dia!untuk Dia!Dan kembali ke Dia!”. 
Beliau adalah tuntunan kita ke Kesadaran yang Tertinggi,dan berupa symbol dari buana alit dan buana agung (Suksmanda dan Brahmanda),dua dalam satu, atau satu adalah kedua-duanya. Kepala beliau melambangkan makro kosmos dengan kata lain makro kosmos ke mikro kosmos dan  sebaliknya adalah siklus kehidupan ini.Raga beliau adalah symbol dunia,mikro kosmos ini yang serba gemerlapan ditandai demi pemuasan berbagai nafsu. Kedua unsur tersebut menyiratkan dengan pasti inti sari Tat-Twam-Asi, kata para resi Upanisad! 
Beliau juga disebut sebagai Vighneswara,Vighnaraja(dewa penghalau berbagai rintangan).Namun beliau juga merintangi jalan spiritual kita dengan mengirimkan isterinya adharma untuk menjegal berbagai yadnya dan upaya yang kurang tulus dan penuh pamrih duniawi dan materi,jadi hati-hatilah dalam memujanya,jangan sampai salah.Di Indonesia kini, mulai lagi pemujaan kepada beliau ini,berbagi pura di Jawa-Bali mulai mengembalikan arca beliau ke Padmasari dan berbagai pura sakral.Syukurlah kalo eling begitu.
Beliau adalah juga symbol Vidya dan Avidya (gading sempurna dan gading patah),sekali lagi isteri-isterinya adalah symbol Dharma dan Adharma, jadi beliau juga memiliki ilmu hitam dan putih.Unsur hitamnya dikenal dengan nama Saktiganapati atau Ucchistaganapati, namun yang lebih dikenal di India adalah unsur putihnya yang disebut Nrttaganapati, di unsur ini beliau adalah penguasa musik dan seni tari,berkat karunia dewa Brahma yang senang kepadanya. 
Ada bentuknya yang bersifat brahmacari yang disebut Varasiddhi Vinayaka. Bentuknya yang feminim disebut Ganesani,Vinayaki, Sarpakarni, Lambha Mekhala, dan berbagai sebutan lainnya. Ingat, semua dewa (unsur cahaya) berasaskan unsur lingga-yoni,setengah pria setengah wanita,setengah keras setengah lembut. 
Ganeshya dipuja dalam berbagai wujud seperti lukisan, linggas, salagramas, yatras, dan kalakas (guci-guci air suci). Salagram adalah benda yang teramat langka. Swastika adalah symbol beliau, swastika yang lengkap dan ampuh adalah yang bertitik empat di tengah-tengah setiap lekukan, ditambah dua garis masing-masing di kiri kanan swastika yang melambangkan dharma dan adharma secara seimbang. Di Bali dilambangkan dengan kotak-kotak hitam putih.Banyak pemeluk Hindhu di Bali dan Jawa,juga saudara-saudara umat yang lainnya yang tidak sadar bahwasanya penjor adalah symbol (lambang) belalai gajah, di Bali malahan maknanya sudah lain sekali.Belalai Ganeshya menandakan bahwa di lokasi tersebut ada upacara.Di India,masih berlaku beberapa tempat dan upacara penjor-penjor yang terbuat dari kainwarna-warni ataupun hiasan janur beserta kelapa bermakna seperti ini.Penjor merah berarti ada upacara pernikahan atau yang berhubungan dengan kejayaan dan ekonomi sosial.Penjor putih melambangkan duka-cita kematian, penjor kuning melambangkan symbol upacara sacral, demikian juga dengan makna payung. Di Indonesia tradisi ini masih hidup, namun untuk penjor duka-cita telah menjadi bendera serta warna kuning bagi yang non-Hindhu, makna kuning saat ini kurang jelas, mungkin hanya mengikuti adat yang sudah ada semenjak dulu kala, namun kurang menguasai makna sesungguhnya. 
Kuil bagi Ganeshya bertebaran di seluruh Indonesia dan India pada zaman dulu bersatu dengan pemujaan Shakti Durga dan Shiwa.Demikianlah sejarah dan peninggalan candi-candi di Indonesia dan India membuktikannya. Melihat bentuknya yang setengah manusia,setengah hewan namun adalah dewa yang tertinggi, maka beliau adalah symbol dari tiga unsur tersebut (vidya-avidya-kesadaran akan Yang Maha Esa) suatu bentuk yang amat bermakna.Dari hewan ke manusia baru ke tahap dewa, sebuah bentuk evolusi yang sempurna.Beliau juga sering di gambarkan menggenggam daun-daun kering tumbuh-tumbuhan yang berkhasiat pengobatan. Inilah faktor yang menyebabkan seluruh jajaran dewa-dewi termasuk orang tuanya menghormati dewa atau unsur ilmu-pengetahuan tertinggi ini, karena di zaman kali ini yang dibutuhkan adalah kesadaran total akan hakekat kehidupan ini, dan kemana akan kita berevolusi sesudah ini, seluruh alam semesta menanti eksplorasi manusia, para dewa akan menuntun, karena sudah menjadi tugas mereka.Namun di Bali, insan Bali hanya sibuk saling berperang dengan sesama saudara dan banyak prihal nonsen menjadi ajang pertarungan, seperti avidya seperti judi, mecaru, melupakan puasa dan tapa-brata. Kalau Ganeshya tidak dikembalikan  dengan segera, mungkin saja pulau dewata ini akan berubah menjadi pulau asura.Tanda-tanda sudah jelas kearah sana. Pariwisata harus dikembalikan lagi,namun pariwisata spiritual yang merakyat dan bukan dengan menjual aset-aset religius kita kepada turis dengan mengorbankan adat budaya dan kesakralan pemujaan kita.Terkutuklah manusia Bali, kalau para dewata marah, dan anak-anak kita berpaling ke agama lain yang lebih praktis sepintas lalu.Penuh dengan karunia Bali dan Jawa ini, seandainya pemujaan ke Hyang Maha Esa, Hyang Widi Wasa diarahkan secara tepat sesuai dengan kaidah Veda, Bhagawat-Gita dan Upanisad yang semuanya adalah Ganeshya itu sendiri. 
Berikut ini adalah nama lain dari dewa Ganeshya:    Dhumraketu, Sumukha, Ekadanta, Gajakarnaka, Lambordara, Vighnaraja, Ganadhyaksa, Phalacandra, Gajanana, Vinayaka Vakratunda, Siddhivinayaka, Supakarna, Heramba, Skandapurvaja, Kapila dan Vighneswara. Dia juga dikenal oleh banyak orang sebagai Maha Ganapati
Mantra-nya adalah om gum ganapataye namah. Para Shadaka yang memuja Ganeshya sebagai dewa mereka merngucapkan mantra itu atau Om Sri Ganeshya Namah.
Para bhakta Ganeshya juga melakukan japa Ganeshya Gayatri sebagai berikut:                                         
                                          Tat purusaya vidmahe
                                          Vakratundaya dhimahi
                                          Tanno denti pracodayat 
Dewa Ganeshya adalah perwujudan dari kebijaksanaan dan kebahagiaan.Dia adalah dewanya para brahmacari.Dia sangat terkenal diantara orang yang selibat (membujang). 
Sebagai tungganganya ia mengendarai seekor tikus.Dia adalah dewa penguasa muladhara cakra, pusat psikhis dalam tubuh di mana kundalini sakti berada. 
Dia adalah dewa yang melenyapkan segala rintangan pada jalan pengikutnya.sehingga ia disebut Vighna Vinayaka. Aksara bija-nya adalah Gum yang memiliki irama yang sama dengan bahasa Inggris”Sung”.Ia adalah dewa keharmonisan dan kedamaian. 
Dewa Ganeshya melambangkan Om atau Pranaya yang merupakan mantra umat dalam agama Hindhu.Tak ada satupun yang dapat dilakukan tanpa mengucapkannya.Ini menjelaskan suatu kebiasaan pemanggilan Ganeshya sebelum melakukan acara atau hal apapun.Dua kakinya melambangkan daya ilmu pengetahuan dan daya kegiatan.Kepala gajah memiliki arti penting karena hanya ia lah satu-satunya figure di alam yang mempunyai bentuk dari symbol”Om”. 
Arti dari menunggangi seekor tikus adalah penaklukan penuh terhadap keakuan.Memegang Akusa melambangkan penguasaannya tehadap dunia.Itu merupakan suatu tanda dari  Bonus Ilahi. 
Ganeshya adalah dewa utama.Dengan menunggangi seekor tikus,salah satu mahluk alam terkecil dan yang memiliki kepala seekor gajah,mahluk terbesar dari segala binatang darat,menandakan bahwa Ganeshya adalah pencipta segala mahluk hidup.Gajah adalah binatang yang sangat bijaksana,yang menadakan bahwa Ganeshya adalah lambang kebijaksanaan.Ini juga menunjukan proses evolusi tikus secara perlahan berevolusi menjadi gajah dan akhirnya menjadi manusia.Inilah mengapa Ganeshya memiliki tubuh manusia,kepala gajah dan mempunyai tunggangan berupa seekor tikus.Ini merupakan filosofis simbolik dari wujud-Nya. 
Ia adalah dewa dari para gana atau kelompok,contohnya kelompok unsur,kelompok indera dan lain-lainnya.Dia merupakan peminpin dari para shandaka Shiva atau pelayan surgawi dari dewa Shiva. 
Para Vaisnava juga memuja dewa Ganeshya.mereka memberinya nama Tumikkai Alwar,yang berarti ke-Ilahian dengan belalai gajah. 
Dua kekuatan Ganeshya adalah Kundalini dan Vallaba atau kekuatan cinta kasih.

GANAPATI


Ganapati atau Ganeshya juga dikenal sebagai Vinayaka, barang kali merupakan Devata Hindhu paling terkenal yang dipuja oleh seluruh bagian dari orang-orang Hindhu.Tak ada kegiatan apapun, baik yang bersifat sakral ataupun sekuler, dapat dimulai tanpa menghormati dan memuja-Nya terlebih dahulu. Ini dapat dimengerti dan diinginkan, karena dikatakan bahwa ia merupakan penguasa halangan (Vighneswara atau Vighnaraja). Namun apa yang tak dapat dipahami dan secara pasti sangat tak diharapkan adalah asalnya yang menjijikan dan wujudnya yang sangat aneh sekali. Bahkan bagi mereka yang mengagumi ketrampilan Shiva dalam seni bedah pencangkokan kepala, akan menjadi sangat sulit untuk mengagumi hasil akhirnya. Sekali kita berhasil menyelidiki rahasia perlambang ini, kejijikan kita akan menimbulkan rasa hormat dan berusaha untuk menghormati dan memuja-Nya. 
Walaupun kenyataannya bahwa Ganapati yang dinyatakan dalam mantra Reg-Veda terkenal,”gananam ganapatim havamahe…”(2.23.1) dan “Visu sida ganapate…”(10.112.9) dan Ganapati yang kita puja sekarang ini saling tak dikenal, semua sarjana objektif sepakat bahwa benih-benih konsep Ganapati sudah ada dalam Reg-Veda itu sendiri. Dalam abad yang akan datang, konsep ini telah melewati ujian dari kitab-kitab “epos” dan Purana untuk menghasilkan Ganapati seperti kita kenal sekarang. Dalam suatu komunitas, perkembangan dari konsep Tuhan dan cara pemujaannya sebanyak produk geografis, histories dan factor-faktor budaya dari pengalaman mistis dan realisasi spiritual dan orang - orang yang sangat berkembang. Masih dapat dipahami untuk menduga bahwa Ganapati-Brahmanaspati dan Reg-Veda secara bertahap bermetamorfosis ke dalam Devata, ”Gajavadana-Ganeshya-Vighneswara. 
Dewata Regveda Ganapati-Brahmanaspati yang juga disebut Brhaspati dan Vacaspati- Mewujudkan dirinya melalui berkas sinar yang besar. Ia berwarna merah keemasan Kapak merupakan senjata padanya. Tanpa anugrahnya, tak ada kegiatan upacara keagaman yang dapat berhasil. Dia senantiasa dalam kelompok (gana=kelompok) para penyanyi dan penari. Dia menunudukkan musuh para deva, melindungi para bhakta yang tulus dan menunujukkan jalan yang benar.
Kelompok devata Regveda lainnya yang dikenal sebagai Marut atau Marut-gana, dilukiskan sebagai anak –anak Rudra, juga memiliki ciri-ciri yang mirip. Sebagai tambahan, merak dapat menjadi dengki terhadap mereka yang menimbulkan rasa benci mereka dan dapat menyebabkan kehancuran seorang gajah liar. Mereka dapat menempatkan rintangan di jalan manusia bila tak berkenan dan melepaskannya bila disenangkan.  Mereka mandiri dan tidak tunduk pada kekuasan apapun (Arajana = Vinayaka). 
Pembicraan tentang dua uraian ini akan terpaksa membawa kita pada keputusan yang jelas bahwa Ganapati merupakan bentuk metamorfosis dari dewata Brhaspati – Marutgana, tak ada yang aneh dalam hal ini, khususnya bila kita dapat menyadari trnsformasi yang telah berlangsung diantara berbagai dewata Veda, karena mereka secara bertahap terserp diantara para dewa, Pantheon Hindu yang belakangan. Dahulu, indra yang maha kuasa dan maha perkasa diturunkan kedudukannya pada tingkat dewata rendahan yang hanya mengatur salah satu arah saja, letnannya Wisnu ditingkatkan pada tempat utama dalam Tri Murti, Rudra yang menakutkan menjadi Siwa yang menguntungkan. Banyak dewata lain seperti ; Dyaus, Aryaman, dan Pusan secara dim-diam diutus, menjadi terlupakan.
Walaupun kenyataannya ganapati sangat dihormati dan merupakan dewata Maha Kuasa, Kepalanya sering menjadi suatu misteri bagi yang lainnya. Tak diragukan lagi, kontroversi semacam itu, seseorang mungkin tertarik pada penyimpulan yang menggelikan bahwa ia bukanlah dewata bangsa arya sama sekali, tetapi kemungkinan besar diimport dari Mongolia! Oleh karena itu lebih baik untuk bermain yang aman, menyelamatkan yang terbaik dari padanya guna kehidupan spiritual kita.
Bentuk Ganapati yang paling umum diterima, menggambarkannya berwarna  merah dan dalam wujud seorang manusia dengan kepala gajah dari dua gadingnya, salah satunya patah. Dia memiliki empat tangan. Dua tangannya memegang Pasa (jerat) dan Angkusa (kait gadjah). Dua tangan lainnya memperagakan Abhaya dan Varada Mudra. Perutnya buncit dan dihias dengan sabuk ular. Ada juga Yajnopvita atau benang suci kerohanian, baik berupa benag ataupun ular. Ia mungkin duduk dalam sikap Padmasana (sikap kembang Padma). Bila perutnya tak menijinkan hal ini, kaki kanannaya mungkin terlihat bengkok dan tergeletak pada tempat duduk.
Terpisah dari jubah dan perhiasannya yang indah, Ia menggunakan mahkota yang teruikir cantik. Belalainya mungkin mengarah kekanan atau kekiri. Secara normal, ia tampak melayani dirinya pada jumlah modaka (sejenis manisan) yang berlimpah.
Seekor tikus yang ukurannya kecil sangat lucu, terlihat didekatnya mengerogoti bagian manisan, mungkiun berharap untuk mendapatkan kkuiatan yang cukup untuk megangkut majikannya !
Mata ketiganya kadang-kadang dpat ditasmbahkan di dahinya, di renmgah-tengah kedua alis mata. Jumlah kepalanya dapat ditingkatkan hingga lima. Lengannya dpat bervariasi dari dua hingga sepuluh buah. Kembang teratai, buah dellima, mangkuk air, kapak perang , kecapi, patah gading, batang tebu, bulir padi, busur dan anak panah, petir koma, tasbih, buku, ini adalah beberapa benda lain yang terlihat ditangannya. Saktinya sering terlihat dengannya duduk di pangkuannya. Kadang –kadang dua sakti Riddhi dan Siddhi juga tampak.
 Sekarang marilah kita berdoa untuk mengungkapakan perlambangan ini.
Gana berarti = Kategori. Segala sesuatu yang kita pahami melalui panca indera kita atau melalui pikiran kita dapat dinyatakan dalam istilah jenis atau katagori. Prinsip yang menjadi sumber sgala katagori itu mewujudkan dirinya adalah Ganapati peguasa katagori. Dalam akibatnya, itu berarti asla mula dari segenap ciptaan, yaitu tuhan sendiri.
Kata sanserketa yang umuim, untuk menyatakan gadjah adalah “Gaja”, sehingga nama gajanana atau gajamuka (yang bermuka gadajh )ditujukan bagi Ganapati. Tetapi kata gaja “memilikimkonotasi yang lebih dalam. “GA” menyatakan “Gat”, - tujuan akhir.Sebagai tujuan dari segenap ciptaan, Apakah disadari atau tidak.”Ja” menyatakan “Janma” , - lhir atau asal mula.Karena itu,”Gaja”menyatakan Tuhan sebagai asal mula dunia dan tujuan kermajuaannya,yang pada akhirnya terserap ke dalam-Nya.Dengan demikian yang berkepala gajah secara murni melambangkan dan menunjukan pada kebenaran ini.
Faktor lain yang kita amati dalam ciptaan ini adalah dua bidang manfestasinya sebagai mikrokosmos(Suksmada)dan makrokosmos(Brahmanada).Masing-masing merupakan replica dari yang lainnya.Mereka merupakan kesatuaan dalam yang dua dan dua dalam yang satu.Kepala gajah menyatakan makrokosmos dan badan manusia bagi mikrokosmos.Du bentuk dalam satu unit.Karena makrokosmos merupakan tujuan dari mikrokosmos,bagian gajahnya telah diberi penonjolan lebih besar dengan menjadikan kepala.
Barangkali pernyataan paling tegas yang  berkaitan dengan kebenaran filosofis yang pernah dibuat terkandung dalam pernyataan ringkas dan tajam dari Chndogya Upanisad:”Tat-Tvam-Asi”,-Itu adalah Engkau”.Itu berarti bahwa : Engkau individu yang nampaknya terbatas, pada intinya merupakan kebenaran kosmis, Yang Mutlak”.Bentuk manusia gajah dari Ganapati adalah pernyataan ikonografis dari dictum agung Vedantik .Gajah menyatakan kosmis,sementara manusia menyatakan individu.Gambaran tunggal mencerminkan identitas mereka.
Diantara berbagai mitos yang berkenaan dengan asal mula Ganapati,salah satun yang menyatakan berasal dari daki atau kotoran yang diambil dari badan Parwati tampaknya paling dikenal secara luas,dan dianggap sebagai aneh dan menjijikan.Karena itu ada gunanya untuk menyelidiki lebih dalam rahasianya.
Salah satu julukan Ganapati yang paling terkenal dan dipuja adalah Vighneswara atau Vighnaraja(penguasa halangan).Dia adalah penguasa segala yang menggangguatau menahan, yang menghalangi atau mencegah.Dengan berbagai derajat dan perbedaan dari daya penggunanya di bawah pengendaliannya,dia dapat menciptakan suatu neraka kesulitan bagi kita bila ia menghendaki!.Menurut pernyataan mitologis,dalam kenyataannya tujuan dari ciptaannya ini adalah untuk mengganggu kemajuan di jalan kesempurnaan
Bagaimana ia melakukannya?Bila tidak ia dipuaskan dengan pemujaan sepantasnya,maka segala kegiatan,baik yang sacral maupun yang sekuler,akan bertemu dengan demikian banyak halangan yang mereka hanya akan secara perlahan-lahan.Hal ini untuk menunjukan bahwa tak ada satupun yang dapat berhasil tanpa anugerahnya.Bila dia disenangkan dengan pemujaan dan pelayanan,dia akan menggoda pemujanya dengan keberhasilan dan kemakmuran(Siddhi dan Riddhi)di mana rasanya secara bertahap dapat membawanya menjauhdari jalan spiritual.Mengapa melakukan hal itu?Untuk menguji mereka dengan menyeluruh sebelum memberi mereka berkah spiritual terbesar dari Moksha.Menjadi penguasa segala seni dan ilmu-pengetahuan,dan khasanah dari segala pengetahuan,dengan mudah ia dapat memberikan keberhasilan atau kesempurnaan pada salah satu hal ini.Namun ia tidk berkehendak untuk membri pengetahuan spiritual yang membawa pada pengalaman spiritual tertinggi,supaya tampaknya tidak muda mendapatkannya di mata manusia.Lagi-lagi keburukan dan cobaan.Jalan kebaikan dipenuhi dengan rintangan  yang tak terhitung banyaknya.”Sreyamsi bahuvignani”.Hanya pahlawan terbaik sajalah yang dapat menghadapi cuaca paling kasar yang patut diberkahi dengan hal itu.Mahluk manusia secara alamiah cenderung menuju kenikmatan akan daging dan mabuk kekuasaan serta kekayaan.Hanya satu dalam sejuta orang berpaling pada Tuhan.Diantara roh-roh yang banyak semacam itu,sangat jarang yang bertahan dalam perjuangan dan mencapai tujuan(lihat Gita 7.3).
Bila dibandingkan dengan kebijaksanaan spiritual tertinggi,yang satu-satunya benar-benar merupakan tujuan yang harus dicari,bahkan Riddhi dan Siddhi(keberhasilan dan kemakmuran)bagaikan kotoran atau Mala.Karena pendamping Ganapati adalah Riddhi dan Siddhi(personifikasi dari kekuatan, keberhasilan dan kemakmuran),maka Ganapati dilukiskan tercipta dari daki badan Parwati
Disamping itu,”Mala”tidak perlu memiliki suatu kejijikan tentang itu.Bila Shiva menyatakan Paramapurusa,Pribadi utama,Parwati menyatakan Parama Prakrti.Alam utama yang diangap sebagai daya-Nya,tak terpisahkan dengan-Nya.Dalam bahasa filosofi,Dia adalah Maya-prakrti,yang terdiri dari Triguna-Sattva,Rajas dan Tamas.Sattva dinyatakan murni dan bila dibangdingkan dengannya,Rajas dan Tamas dikatakan sebagai tidak murni.Karena ciptaan tidak mungkinberasal dari Sattva murni,seperti halnya emas murni tak membiarkan dirinya untuk dibentuk menjadi perhiasan,kecuali dia dicampur dengan logam dasar,maka I harus dicampur dengan Rajas danTamas untuk mempengaruhinya.Ia tampaknya menjadi masukan cerita tentatang”ketidak murnian’substansi yang digunakn Ibu Parwati untuk membentuk Ganapati.
Sekarang marilah ,mencoba untuk menafsirkan factor lain yang berkembangdakam simbologi dari deva ini.Telinganya lebar,cukup lebar untuk mendengar perrmohonan dari siapapun,tetapa seperti keranjang penampi yang mampu mengayak apa yang baik bagi para pemohon dari apa yang tidak baik.Dari  kedua gading,salah satu yang merupakan keseluruhan menyatakan kebenaran,satu tanpa ada yang kedua.Gading yang patah,yang tak sempurna, menyatakan dunia yang berwujud,yang tampak menjadi tak sempurna karena dari  ketidakpantasan bawaannya.Namun alam semesta berwujud dan kesatuan yang tak berwujud ini keduanya merupakan atibut dari Absolut yang sama.Belalai yang bengkok merupakan pernyataan dari Omkara atau Pranava,sebagai lambang Brahman Ynga Mutlak yang menyatakan bahwa Ganapati adalah Brahman sendiri.Perut buncitnya menyatakan bahwa seluruh dunia ciptaan terkandung padanya
Pasu(jererat) menyatakan Raga(keterikatan)dan Ankusa(kait gajah)untuk Krodha(kemarahan).Seperti jerat,keterikatan membelenggu  kita.Kemarahan menyakiti kita seperti kait gajah itu.Bila Tuhan tidak puas dengan kita,keterikatan dan kemarahan kita akan bertanbah besar, yang membuat kita menderita. Satu-satunya jalan untuk melepaskan diri dari tirani ini adalah berlindung pada Tuhan. Atau itu dapat berrarti bahwa jauh lebih aman bagi kita untuk menyerahkan keterikatan dan kemarahan kita kepadanya. Bila mereka ada di tangannya kita selamat.
Bagaimana kita beraharap agar Ganapati memilih tikus besar sebagai tunggangannya,namun kenyataanya adalah sebaliknya hak hak istimewa itu telah diberikan pada seekor tikus kecil.Kata Musaka(tikus)diambil dari akar kata “Mus”yang berarti”mencuri”.Seekor tikus secara diam-diam masuk ke dalam barang sesatu dan menghancurkannya dari dala,demikian pula halnya keakuan msuk tanpa diperhatikan ke dalam pikiran kita dan secara diam-diam menghancurkan seluruh perbuatan kita.Hanya apabila ia dikendalikan dengan kebijaksanaan Ilahi,ia dapat dimamfaatkan pada saluran yang berguna.Atau tikus yang mencuri dapat menyatakan kasih sayang yang mencuri hati manusia selama kasih sayang manusia dipertahankan pada tingkat rendah,ia dapat menciptakan malapetaka.Sekali ia diarahkan menuju yang Ilahi,ia akan meningkatkan kita.Tikus yang bisa melihat di dalam segala benda dapat menyatakan kecerdasan yang tajam.Karena Ganapati merupakan penguasa kecerdasan,tepatlah bila ia memilih tikus sebagai tunggangannya.

GAMBARAN ( PATUNG ) GANAPATI 
Ada beberapa variasi dari patung-patung Ganapati dalam kuil dan monumen-monumen arkiologis kita.Apakah berjumlah 71,50,31atau 21 yang pasti bahwa ada beberapa aspek dari Devata ini.Hanya beberapa dari padanya dapat diuraikan di sini.
Ganbaran Balaganapati dan Tarunaganapati melukiskan masing-masing sebagai seorang anak dan pemuda.Vinayaka tampak dengan empat tangan yang memegang patahan gading,kait gajah,jerat dan tasbih.Dia membawa Modaka manis pada belalainya.Dia dapat berdiri ataupaun duduk.Herambaganapati memiliki lima kepala,sepuluh tangan,tiga buah mata pada masing-masing wajah dan menunggangi seekor singa.Viraghness menampilkan semangat gagah berani dengan beberapa.senjata yang dipegang sepuluh tangan-Nya.”Saktiganapati” beberapa variasi yang diuraikan  dalam kitab-kitab Tantra tampak dengan Sakti-Nya,yang secara beragam disebut “Laksmi RiddhiSiddhi,Pusti dan lain sebaginya Dengan memuja aspek ini dikatakan memberikan kekuatan khusus atau memberikan hasil yang diinginkan dengan cepat
Salah satu variasi dari” Saktiganapati”ini disebut “UcchistaganapatiGanapati yang dikaitkan dengan hal-hal kotor seperti baranh rongsokan dimana yamg memujanya termasuk golongan Vamacara(jalan yang berhaluan kiri,yaitu jalan kotor dan heterodoks)dan yang dikatakan memberikan hasil yang cepat.Tak ada sesuatupun kekawatiran atau langkah mundur dalam konsep ini barang-barang kotor merupakan bagian alam yang sama dengan bersihnya.Tetepi bukanlah para pemulung dan para dokter menanganinya dengan cara higienis dan melayani orang-orang ? Bukankah semua oarng wajib menjadi para pemulung dalam berbagai tingkatan? Mengapa hal ini tidak dilakukan secara agamais,seperti halnya pelayanan dan pemujaan? Alam merubah hal-hal yang bersih menjadi kotor dan sebalaliknya,dengan demikian Ganapati menjiwainya dan menangani kekotoran secara ilmiah dn agamais,juga dapat menjadi suatu disiplin spiritual.Hal ini nampaknya menjadi filosofi dibalik konsep ini.
Nrttaganapati merupakan patung indah yang memperlihatkan seeorang sedang menari.Itu nampaknya dahulu Brahma menemui Ganapati dan menunduk padanya dengan Bhakti dan penghormatan.Puas dengan hal ini Ganapati mulai menari dengan riangnya.Itulah sebebnya mengapa Ganapati dinyatakan sebagai penguas musik dan tarian
Varasiddhi Vinayaka merupakan aspek yang dipuja selama perayaan Ganeshya Caturthi yang terkenal itu.Dia dikatakan sebagai seorang yang membujang.
Ganapati kadang-kadang dilukiskan sebagai Shakti(dewata wanita) dengan nama Ganesani,Vinayaki,Surpakarni,Lambamekhala dan lain sebagainya
Ganeshya dipuja bukan hanya dalam bentuk patung,tetapi juga pada lingga,Salagrama,Yantra(diagram geomatris) dan Kalasa(mangkuk air).Namun Ganapati Salagrama sangatlah jarang.Svastika juga dipakai sebagai lambing grafis dari Ganapati
Kuil-kuil dan tempat pemujaannya dibaktikan pada Ganapati sangatlah banyak.Tersebar diseluruh negara  India.Dia juga nampak di halaman-halaman kuil dari devata-devata yang lain.

SANG HYANG GANESHYA


SANG HYANG GANESHYA
KETERANGAN DAN CARA PEMUJAAN
BERBAGAI MANTRAM GANESHYA
Vinneka Tunggal Eka   
(Untuk permujaan, meditasi, dan sebagainya)
  
Sri Ksipraganapati Dhyanam
OM
Danta-kalpalata-pasa

Ratnakumbham-suko-jwalam

Bandhuka-kamaniyabham
Dhayet ksipraganadhipam

(Kami bermeditasi kepada Ksipra Ganapati,yang mulia,yang menggengam gading,seutas tanaman merambat,seutas tali,kendi permata.Yang bersinar terang ibarat kuntum bunga Bhanduka berwarna merah)
Mantram ini khusus untuk meditasi tanpa pamrih.

Sri Wijavaganapati Dhyanam
 OM
Pasam-kusah swadantagra phalawa-nakhuwahana,
Nihanto sarwawighnanam rakta-warnom-vinayakah.

(Kami bermeditasi kepada Wijaya Ganapati yang berkulit merah,penghancur berbagai rintangan,yang mengendarai wahana tikus,yang membawa seutas tali,pengait,gading dan buah-buahan digenggamannya).
Mantra ini khusus untuk menghalau bala,rintangan,kesialan,black magic dan sebagainya.Sebaiknya sang bhakta berpuasa satu hari penuh tanpa makan dan minum dari pukul 4 subuh sampai pukul 6 sore,kemudian menghaturkansesajan sedikit,beras,bunga,10 lembar daun sirih,dupa atau sedikit buah-buahan.Setelah selesai beryadhnya(meditasi),bukalah puasa dengan memakan buah-buahan dan makan vegetarian pada hari itu.

Sri Haridra Ganpati
OM 
Haridrabham caturbhahum haridrwanam prabhum
Pasan-kusa-dharam dewam modakam dantamewa ca
Bhakta bhaya pradataram dewam vighna-winasanam
Dewadewam jagad-wandhyam haridra-Ganapatin bhaje

(Kami memuja Haridra Ganapati yang bersinar iibarat kuning kunyit, wajahnya  gilang gemilang dengan cahaya kekuningan, yang memiliki empat lengan ,yang menggenggam tali,kuch dan yang memberikan perlindungan kepada para bhakta-Nya,yang menghancurkan semua ketakutandan kekawatiran mereka)
Mantra ini untuk menghalau rasa kawatir ,takut dan sebagainya.

Sri Dhundignapati Dhyanam
OM
Aksanala-khutaram ca
Ratna-pa’Swadantakam,
Dhatte karai-rwidhnarajo
Dhindi-nama mude’Stu nah

(Semoga Dhundi Ganapati yang memegang Aksamala(tasbih),kapak,cupu perhiasan,sudi menganugrahkan kebahagiaan nan abadi kepada kita semua)
mantra ini demi memohon kebahagiaan dan pengetahuan Ilahi.

 Doa-doa sehari-hari 
Om Sri Ganeshya namaha                                     cukup 3x setiap pemujaan
Atau 108 kali dengan Aksamala untuk meditasi
Om Gum Ganapataye Namaha                            Seperti di atas.sebaiknya memuja Ganeshya demi pengetahuan(widya)

Hanya Brahman Yang Ada, tak ada yang lain.


Hanya Brahman Yang Ada, tak ada yang lain.
Dicuplik dan diterjemahkan oleh Ngurah Agung dari: Essays on the Upanishads.
Kabir Sahib: Sebuah Pelajaran Universalitas Keagamaan, Carilah Tuhan
di Dalam Dirimu

Kabir Sahib seorang Guru suci Kenamaan (1440-1518 M) yang hidup di
Benares dan mengkhotbahkanpraktek Yoga Surat Shabda.Kabir Sahib
menerangkan secara terperinci apa yang telah lihat di dalam tubuh. Ia
berkata “ Aku kan menceritakan kepadamu apa yang telah Tuhan tempatkan
di dalam tubuh.Tubuh kita adalah sebuah istana, dimana jiwa adalah
bagaikan seorang istri tercinta dan Tuhan adalah suaminya. Mereka
berada dalam rumah itu selama berabad-abad, tetapi tak pernah saling
bertemu” . Ini adalah pengalaman semua orang suci di berbagai agama
monotheisme yang telah menjelajah Jalan Rohani dan telah bertemu muka
dengan Tuhan.

Tubuh ini terbagi menjadi empat alam, yaitu Pinda/tubuh jasmani/
bendawi: Anda, alam bendawi-rohani:Brahmanda ,alam bendawi-rohani yang
lebih luhur dan Sach Khand, alam roh murni yang terluhur dan paling
sempurna. Sach Khand adalah alam satu2nya yang kekal
Bagaimana kita dapat naik ke Sach Khand? Kabir menjawab “ tutuplah
mata,telinga dan mulut dan dengarkan suara jangkerik”. Tutuplah mata
jasmani anda dan lihatlah dengan mata rohani. Demikian pula,tutup
telinga jasmani anda dan dengarkanlah dengan telinga rohani. Bila anda
telah melakukan hal itu dan perhatian kita terkumpul di pusat mata,
maka cahaya akan tampak. Jalan rohani ini/ sant Mat dimulai dari mata
ketiga ini. Guru Nanak berkata /” jala menuju Tuhan adalah
sepersepuluh tebal rambut. Para Suci yang lain menyebut jalan ini
lebih halus atau lebih sempit dari lubang jarum. Dalm islam jalan ini
dilakukan dengan zikrulloh ismul adhom= simran dan bhajan Nam dhun
atmak-nama Tuhan yang tak dapat dikatakan/ atau asma ul husna yang ke
seratus seperti Ruzbihan Baqli dan Para Sufi Qadiri-Chistiya India
Selatan

Pemujaan sejati adalah merenungkan Nam
Tanpa Nam tidak ada pemujaan
Kita memandikan berhala dari luar
Namun jika sebaliknya kita mencuci pikiran
Maka pembungkus ego akan lepas
Dan kita memperoleh keselamatan
Oleh Guru Nanak


Kisah kematian Kabir Sahib

Suatu pagi setelah memberi penjelasan/kajian pelajaran kepada para
muridnya yang beragama hindhu dan muslim, Kabir beristirahat di
gubuknya dengan sebuah intruksi bahwa dia tidak boleh diganggu selam
istirahat. Ketika sampai sore hari , Kabir tidak kunjung keluar,
beberapa muridnya ragu dan hendak melihat beliau dan menanyakan
kondisinya. Ketika melihat bahwa sang guru sudah meninggal tergeletak
dengan kain yang menutupi tubuhnya, para muridnya, dari kalangan
muslim dan hindhu saling berdebat. Ada yang menghendaki di kubur
secara islam, ada yang menghendaki dikubur secara hindhu. Setelah
melewati perdebatan yang panas dan melelahkan. Sultan Vir Baghela
Singh menghendaki secara hindhu sedangkan Nawab Bijli khan menghendaki
secara muslim. Akhirnya muridnya hendak menganbil jasad sang Guru
Kabir, apa daya Jasad sang guru telah menghilang dan ganti menjadi
kumpulan bunga yang segar.inilah akhir dari perdebatan di antara
murid2nya. Kabir Sahib menekankan pelajaran bathin bagaiman seharusnya
manusia bertemu Tuhhannya selam masih hidep di dunia,zdia tidak peduli
dengan formalitas keagamaan yang bersifat formal baik hindhu ataupun
muslim.semua agama mengajarkan kebaikan kebaikan ,tetapi yang penting
menurut Kabir Sahib temuilah Tuhanmu selagi masih hidup


Jumpailah Tuhan Kekasihmu Di Dalam Dirimu Sendiri
Oleh Kabir Sahib

Pandanglah kekasimu dengan mata rohani
Di tempat dimana Ia bersemayam
Lepaskan nafsu berahi.ketamakan,kemarahan, dan kesombongan
Gantikan dengan pengendalian diri
Pengampunan,kebenaran, dan kepuasan
Wahai pikiran yang licik,hindarilah mabuk dan makanan daging
Dan dengan menunggangi kuda pengetahuan
Tinggalkanlah sandiwara palsu yang fana ini

Setelah melakukan Dhoti,Neti dan wasti
Duduklah bersila dalam padmasana
Setelah khumbak selesai,mulailah dengan rechak
Dan setelah membersihkan ganglion bawah itu
Selesailah seluruh tugasmu

Padma berkelopak empat melai merekah di taman muladhar
Disan suara “kilyng”terdengar ,warna merah merona
Disan ,Dewa Ganesha yang kesaktiannya terwujud
Melalui ridhi dan sidhi, di atasnya kipas meliuk-liuk

padma berkelopak enam
Terletak di ganglion seks
Disana Nagin hidup terjungkal
Hancur leburkan dia hingga mati
Disana irama Onkar terdengar
Kata itu selalu diulang-ulang

di pusar,padama merekah,delapan jumlah kelopaknya
Di ats singgasana putih,Wisnu bersinar megah
Suara merdu “hiring” mengalun,dari mulut dewa yang cemerlang
Daripadnya Syiwa dan Laksmi, si Kembar, selalu bergantung

padma berkelopak dubelas,merka di ganglion jantung
Disan tampakbentuk Syiwa,Jung dan Gauri
Iram sabda seperti”Sohang” mengalun
Pekikan kemenangan keluar. Dari para Ganas

padma berkelopak dua terletak di kerongkongan
Disan ,Dewi Avidya meresapi dengan dirinya
Brahma,WIsnu dan Syiwa mengipasinya
Dan keluarlah aluna lagu “Shirhyng”

di atas situ wahai saudara.
Pandanglah padma Madu Surgawi
Dua bentuk terlihat- putih, dan yang lain bercorak hitam,
Di balik mata ia terletak
Disana Nij Man memerintah dalam kebesaran

terungkap sudah rahasia padma padma itu
Dalm batas Pinda ,semua ciptaan ini terletak
Sekarang, hadirilah satsang
Dapatkan guru sejati
Yang akan mengulang-ngulang Satnam
Dan Ia akan menunjukkan jalannya

tutup matamu,mulut dan telinga
Dengarlah suara cengkerik/jangkrik
Sebagai iram Anhad
Satukan kedua manik matamu, masuk;lah ke dalam
Pandanglah taman berbunga

satukan bulan dan matahari
Renungkan Sukhman
Bersatulah dengan Firman di Tribeni
Dengan menyeberangi alam itu
Ilusi akan menjauhimu

Gong dipukul,siput laut ditiup
Dan mengalunlah musik ilahi
Dari padma berkelopak seribu
Terangnya bagaikan pasar malam
Yang penuh dengan lampu
Disana pencipta tinggal
Penguasa dari semua yang ada di bawahnya
Masukilah terowongan bengkok
Keluarlah dari sana

Dak”ni ,Sak”ni berteriak nyaring
Kaki tangan Yama dan malaikattul maut
Menjerit dan memekikj
Mendengar Satnam,mereka semua lari
Bila Firman Satguru kau ucapkan

Dalam batas alam surga
Terdapat sumur terbalik
Daripadanya ,para Gurumukh dan Mistik
Minum sekenyang-kenyangnya
Tetapi mereka yang tidak berguru
Tidak mmemiliki ragi rohani
Sehingga mereka tetap kekeringan dan kehausan
Kemurungan menyelimuti pikiran, ia tinggal di kegelapan

Trikuthi adalah istana
Sumber pengetahuan
Diman petir dan genderang menjadi tandanya
Warna merah matahari senja
Memancarkan kemilauan
Padma berkelopak empat ada disana
Dimana lagu Onkara selalu berkumandang

Barangsiap mencapai alam ini
Seorang Sadhu sejati lah ia
Rahasia kesembilan pintu tubuh
Terungkap baginya
Ia sekarang melejit melewati pintu ke sepuluh
Yang selalu terkunci

Svetsun treletak diatas nya
Mandilah di Mansar
Temuilah para Hansa, jadikan dirimu Hansa
Sekarang,hidup dari madu, minumlah itu selalu

Suara Harpa dan mandolin, kecapi semua nya terdengar
Dimana Akshar Brahm senantiasa bertahta di Sunn
Cahayanya seperti 12 matahari
Memancar dari masing-masing Hansa
Kata “Rarankar” memancar dari padma berkelopak delapan

Lautan Maha Sunn penuh dengan bahaya
Tanpa Satguru, tidak ada yang meneukan jalan keluarnya
Serigala dan singa mencari mangsanya: Ular ular siap mematuk
Di san suara Sehaj Achint
Mengelegar, mengalun dan mengimbau

Di Par Brahm wahai saudara
Terdapat padma berkelopak delapan
Di sebelahnya kanannya ada yang berkelopak dua belas yaitu Achint
Dis ebelah kirinya adalah Sehaj yang berkelopak sepuluh
Begitulah susunan padma padma itu

kelima Brahm, semua terbungkus dalam telur.
Dan kelima-limanya, kitasebut Neh-akshar.
Di sana tersembunyiempat alam
Yang dihuni oleh para tawanan Purush.

Pandanglah titik pertemuan dua gunung,
Dari Bhanwar Gupa, para Suci menyambut Para Hansa.
Di sana satguru bertahta.

Di sana 88.000 pulau diciptakanoleh sang Pencipta
Tempat-tempat bertatahkan batu permata yang melingkar.
Di sana lagu seruling dan biola terus terdengar.
Dan kata “Sohang” selalu berkumandang.

Bila perbatasan sohang telah kau lewati, wahai Saudara,
Masukilah alam Sat Lok.
Di sana bau-bauan yang harum senantiasa memancar,
Sungguh gaib dan tak terlukiskan.

Masing-masing hansa bermandikan cahaya enambelas malaikat matahari.
Dan musik seruling menabjubkan selalu terdengar.
Kipas para hansa melambai-lambai
Di atas mahkota raja.
Begitulah istana Raja itu, yakni Sat Purush.

Sinar sepuluh juta matahari
Dan sepuluh juta bulan terlihat suram,
Bila dibandingkan dengan kecermelangan
Satu helai rambut-Nya.
Di sana Alakh, Tuhan yang tak terlihat, memerintah.

Di atas situ, istana yang penuh takjub
Dihuni dan dipelihara oleh Agam Purush.
Dengan penuh kemulian.
Setiap pori-Nya memancarkan kecermelangan.
Di hadapa-Nya,
Cahaya setrilyun matahari seakan padam.
Begitulah cahaya-Nya,
Tak terlukiskan, tak terpahamkan.

Di atas itu, wahai saudara, terletak akeh Lok.
Yang dihuni oleh Anami Purush.
Hanya merekalah yang mengetahui, yaitu
Yang telah mencapainya.karena tiada kata-kata yang dapat
mengungkapkannya.

Dengan demikian, rahasia tubuh manusia telah diungkapkan.
Semua ciptaan ini terdapat dalam tubuh kita ini.
Dengan sengaja, maya telah menebarkan jeratnya,
Ia adalah pencipta cerdik yang langka.

Maya dengan cerdiknya telah menciptakan
Sandiwara palsu yang dipantulkan ke Pinda.
Mula-mula ia menciptakan duplikatnya di anda
Yang kemudian dipantulkan ke Pinda.

Aku terbang laksana burung dengan sayap Firman,
Kata Kabir; Aku bebas, Satguruku telah membebaskanku.
Kesadaranku bangkit.
Hanya Firmanlah yang berkumandang
Dan setelah melewati Pinda dan Anda,
Aku menemukan rumah Sejatiku.

note :
apa itu Sach khand ?
yaitu alam al Haq atau kebenaran abadi/kedamaian/kebahagiaan.di maqam
ini jiwa memiliki cahaya seperti enambelas matahari. Bila Jiwa telah
mencapai ala mini, ia akan bebas dari kelahiran dan kematian / samsara
–istilah hindhu.Para suci yang dating di dunia ini tiidak mendirikan
agama baru dan mereka tidak mencampuri agama-agama yang sudah ada.
Mereka selalu menasihat untuk bertemu dengan sang pencipta selagi
masih hidup. Para suci mengasihi semua bangsa dan semua agama, karena
mereka yakin bahwa setiap orang mempunyai jiwa murni dan cemerlang
dalam dirinya.
Sach khand terdiri dari tiga alam yaitu alakh loka/alam tak
terlihat,ghibul ghuyub ; agam loka yaitu alam yang tak terjangkau ;
anami loka yaitu alam tanpa nama,tempat bersemayam sang pencipta.
Tentang anami loka ini, para suci hanya terdiam dan bungkam tanpa kata-
kata.Ia tidak mempunyai awal dan akhir.tidak munkin dijelaskan dengan
kata-kata . Semua alam tadi adalah warisan jiwa kita yang merupakan
harta karun di dalam diri setiap manusia.

Kabir Sahib mengatakan bahwa Ia telah memberikan penjelasan yang
terperinci kepada kita tentang alam-alam rohani yang luhur di dalam
diri kita. Seluruh harta yang tak ternilai itu telah disediakan Tuhan
di dalam tubuh kita. tetapi kuasa jahat yaitu Kal, bersama-sama dengan
kekuatan Maya/ilusi ,telah menebar jaringan yang luas dan rapat untuk
menghalangi perkembangan spiritual jiwa. Perjuangan Kal untuk menahan
perkembangan jiwa manusia, maka Kal melakukan tapabrata sebanyak dua
kali, yang pertama tapabrata selamatujuh puluh yuga/silkus waktu
kemudian yang kedua, tapabrata selama enampuluh empat yuga. Kal
sungguh2 dalam perjuangan nya untuk menghadang setiap jiwa yang akan
menaiki tangga spiritual.

FILSAFAT YANG TERKANDUNG DI DALAM YAKSHOPAKHYANA


Oleh:
Sri Swami Krishnananda Sarasvati. 
Kebaikan dan kejahatan saling berlawanan, baik di dalam setiap individu maupun di seantero alam objektif ini. Pertempuran antara keduanya  merupakan suatu perjuangan berlanjut demi kemenangan Kebenaran atas Ketidak-benaran. Kebaikan adalah bergeraknya ego ke arah Kebenaran, apakah itu melalui pemikiran, ucapan pun tindakan. Pada sisi lain, kejahatan adalah proses penegasan ego melalui pemeliharaan-diri dan proklamasi-diri. Semakin dekat ego dengan Kebenaran, semakin besar cahaya yang diterimanya dari Kebenaran. Oleh karena itu, kebaikan dibimbing oleh Ketuhanan. Kuasa kebaikan senyatanya adalah kuasa dari Sang Atman di dalam. Kuasa, kebesaran dan kemuliaan dari sosok individu sama sekali bukanlah kepunyaan dari individu itu sendiri. Mereka pinjaman dari Sang Atman, dari Sang Diri-Jati; individu hanya dilewati untuk suatu ciptaan agung, meskipun sesungguhnya ia tidaklah besar. Hanya rasa bangga dan kesombongannya sajalah yang membuat seseorang merasa bahwa ia punya kebesaran, pengetahuan ataupun kekuasaan. Proklamasi-diri kerdil ini harus enyah secara total sebelum Ketuhanan bisa direalisasikan.
Kisah tentang penampakan Yaksha di dalam Kenopanishad menggambarkan pemadaman dari rasa bangga-diri ini. Pemadaman rasa bangga-diri ini sangat diperlukan, sebelum realisasi dari perwujudan Ketuhanan itu sendiri terjadi. Penghentian total individualitas— melalui sebentuk pemutusan ego menggunakan pengetahuan —diperlukan sebelum realisasi Diri-Jati terwujud. Tanpanya, seseorang tidak layak bagi pengalaman yang teramat agung ini.
Di dalam kisah ini, Yaksha mewakili Brahman Yang Tertinggi. Agni mewakili suara atau sabda. Vayu mewakili prana atau daya-vital ataupun pikiran. Indra mewakili ego itu sendiri. Dan Dewi Uma mewakili pengetahuan. Namun, untuk Kesaksian Agung itu, sabda dan prana tidak dapat berbuat apa-apa. Pikiran tidak bisa berpikir; para dewa degan kemegahannya tidak mampu mengguncangkan hanya sehelai jerami. Sabda dan prana dikatakan mendekati Yaksha atau Brahman, tetapi mereka tidak mampu memahami mahluk itu. Sabda memang dapat menyatakan, prana-pun dapat mempertunjukkan, dan pikiran dapat berpikir tentang suatu aspek dari Kebenaran, suatu aspek tentang  penjelmaan-Nya dalam Yaksha itu misalnya. Tetapi sabda, prana dan pikiran tidak bisa mengetahui Kebenaran ini. Mereka boleh saja menunjukkan kesombongan mereka di dalam berusaha memahami Kebenaran, tetapi usaha mereka akan gagal kendati hanya untuk memahami yang berhubungan dengan aspek terkecil-Nya— seperti seutas jerami yang disajikan di hadapan mereka itu— sekalipun. Ini dimaksudkan untuk mengatakan bahwa setetes pengetahuan intuitif-pun tidak diberikan kepada sabda, prana ataupun pikiran guna memahami-Nya. Mereka kembali tak berdaya di hadapan-Nya.
Ketika Indra atau ego, mendekati Makhluk Ilahi itu, ia lenyap; ia menarik format manifestasinya. Tidaklah mungkin bagi ego untuk datang secara langsung berhadap-hadapan dengan Yang Absolut. Ini tak-ubanya sebuah boneka garam yang masuk ke dalam samudra. Tidaklah mungkin bisa mempertahankan wujud apapun. Wujud akan lenyap dari penglihatan. Lebih dari itu, karena ego adalah pusat kesombongan dan kebanggaan diri, Beliau tidak akan menjelmakan-diri-Nya di hadapan ego. Pada sisi lain, kalaupun ego tetap berusaha untuk mengetahui Kebenaran ini misalnya, dimana ia tidak mengalami kegagalan, dengan sangat tekun mengupayakannya, atas kemurahan-hati-Nya, Dewi Pengetahuan akan diturunkan juga kepadanya.
Pengetahuan diwakili oleh Dewi Uma; beliaulah Kuasa Ilahi yang nampak duluan; bukan Beliau Sendiri. Pengalaman yang pertama bukanlah Ketuhanan itu sendiri, melainkan berasal dari sattva-guna. Sebuah guna adalah suatu gaya dari Prakriti, dan oleh karena itu, ia digambarkan sebagai wanita, sebagai sosok Sakti, atau suatu ekspresi Ketuhanan. Dewi Uma-lah yang memberitahu Indra tentang Yaksha, ketika Indra ada dalam status sattva, ego dibersihkan dari semua bentuk kebanggaan diri dan iapun bisa mengenali sifat alami Tuhan. Ini masih selangkah di bawah Pengalaman Ilahi. Manakala Dewi Uma-pun lenyap—yang adalah manakala sattva-guna ditransendensikan juga—sifat alami dari Yaksha-pun terungkap. Hadir perwujudan Brahman ketika semua gunatamas, rajas dan sattva—berturut-turut dibuang. Di dalam Pengalaman Diri-Jati, ego hancur.
Indra berbicara tentang pengetahuan Brahman kepada Agni dan Vayu. Ini merupakan penggambaran dari pengalaman di dalam tentang disampaikannya pengetahuan itu dengan menyalurkannya kepada ucapan, pikiran, dan yang lainnya. Fungsi-fungsi eksternal hanya mungkin bila dikarenakan oleh pengalaman di dalam—oleh Agni, Vayu dan Indra—yang dianggap sebagai yang terbaik di antara para dewa; tidaklah mungkin bagi fungsi-fungsi kita yang lainnya untuk menyatakan Makhluk Ilahi itu, kendati hanya sedikit saja. Hanya ucapan, prana dan pikiran atau ego sajalah yang mempunyai sejenis hubungan dengan-Nya, meskipun ini tidak bisa juga sepenuhnya menyatakan-Nya.
Pelajaran lain yang juga diberikan oleh kisah ini adalah, bahwa Brahman Itu Ada. Jika Beliau tidak ada, maka hal lain mesti ada. Apa yang lain itu? Mungkin saja alam semesta atau dunia dipegang orang sebagai ada. Dan karena alam semesta adalah suatu koleksi dari individu-individu, maka ini berarti bahwa individu adalah riil. Akan tetapi nyatanya individu ini hanyalah suatu titik-tekan dari sang ego. Jika ego adalah riil, maka ia haruslah berhasil dalam setiap usahanya. Namun faktanya tidaklah demikian. Dan ini secara konstan menunjukkan kalau ia sebetulnya tidaklah riil. Lebih dari itu, ego setiap saat mesti tunduk; apakah itu dikarenakan oleh agen-agen internal ataupun eksternal.
Suatu hari nanti, semua ego akan terkikis habis. Duka-cita di dunia ini adalah pengalaman atau pembelajaran akan proses pengikisan ego itu. Tidaklah perlu bagi-Nya untuk menjelma ke dalam sebentuk wujud yang luar biasa besar untuk menundukkan ego seseorang. Dia akan menjelmakan-diri-Nya dengan pasti, dalam  sebentuk wujud yang dibutuhkan oleh sejenis egoisme tertentu. Ego yang tinggi kadarnya memerlukan kuasa-kuasa yang lebih tinggi, dan yang lebih rendah hanya butuh kuasa-kuasa rendahan demi penaklukannya. Dia nampak mengambil sebentuk wujud tertentu bukan lantaran berkeinginan untuk mewujud seperti itu, melainkan wujud itulah yang dibutuhkan oleh orang-orang sebagai rekan pendamping ego-nya dalam rangka mengintegrasikan diri mereka dengan cara ditiadakan oleh wujud jelmaan itu. Dengan kata lain, setiap bentuk pengalaman adalah ungkapan suatu kebutuhan yang dirasakan di dalam.  
Kegagalan ego untuk menyatakan kemerdekaannya menunjukkan bahwa Kesujatian haruslah non-ego. Non-ego berarti tak terbatas, yang memastikan fakta akan keberadaan Brahman Yang Tertinggi. Brahman nampak sepertinya bisa dipahami dalam tataran ucapan, pemikiran dan dan tindakan. Terasakan adanya sejenis pengetahuan akan realitas manakala fungsi-fungsi individu ini berlangsung dengan senang-hati. Ini adalah arti dari visi Yaksha oleh Agni dan Vayu.
Namun, pengertian akan Brahman melalui fungsi-fungsi individu ini hanya dangkal saja; bahkan ketika Agni dan Vayu dapat menyaksikan Yaksha itu mereka tidak bisa memahami-Nya. Ketika fungsi-fungsi individu ini dikalahkan, dimana mereka kembali dengan menanggung malu, menerima kekalahan mereka—yaitu ketika mereka merasa tidak besar lagi dan oleh karenanya menghentikan usaha mereka lebih lanjut—Indra atau ego memulai penyelidikannya sendiri akan Brahman. Tetapi ego tidak bisa punya pengetahuan Brahman—kendati yang superfisial—seperti yang dipunyai oleh fungsi-fungsi eksternal lainnya itu sekalipun. Ketika ego mendekati Brahman, saat itu nampak seperti terjadi kehilangan semua objek pengetahuan; Yaksha lenyap dari penglihatan. Indra mempermalukan dirinya sendiri; ego mesti binasa, jika sifat alami-Nya hendak diungkap. Makanya, disini ego nampak kurang dibanding fungsi-fungsi lain. Ia nampak tidak seberuntung fungsi-fungsi lainnya, yang setidak-tidaknya  mengalami visi akan Yaksha itu. Tetapi sesungguhnya, lenyapnya pengetahuan objektif ini merupakan tanda dari kehadiran Pengetahuan Absolut. Proses pemutusan individualitas nampak seperti matinya segenap kesadaran, meskipun itu merupakan pintu gerbang menuju kesadaran abadi. Kebahagiaan yang terbesar didahului oleh sakit yang terbesar pula. Panunggalan Absolut senantiasa didahului dengan hancurnya multiplisitas dan dualitas. Objek persepsi harus luluh; Yaksha mesti sirna kalau Brahman hendak terrealisasikan. Kemunculan dari keserbatahuan adalah suatu status tengah-tengah, di antara pengalaman individual dengan Pengalaman Absolut, dimana status pertengahan itu diwakili oleh kemunculan Dewi Uma.
Perlu dicatat juga bahwasanya, kemunculan Yaksha hanya terjadi setelah menangnya para dewa atas para asura; yang berarti bahwa, pengetahuan itu hanya mungkin setelah kemenangan dari kebajikan atas kejahatan —yang adalah tatkala kecenderungan-kecenderungan hewani sepenuhnya tertaklukkan.
Kisah ini mengajarkan kita bahwa, kecuali pengetahuan Brahman, semuanya hanyalah hal yang remeh-temeh saja. Kemuliaan dunia ini kurang dari seutas jerami. Yang terbesar di antara para dewa sekalipun tiada artinya di hadapan Brahman. Bahkan raja dari para dewa (Indra) tidak ada apa-apanya di hadapan-Nya. Kisah ini juga menunjukkan bahwa sangat sukar untuk menyadari Brahman, bahkan yang terbaik di antara para dewa saja gagal dalam usaha mereka. Lebih jauh lagi, itu menunjukkan kalau Agni, Vayu dan Indra hanya menjadi besar melalui pengetahuan Brahman. Brahmajñana adalah kebesaran dan kemuliaan tertinggi. Adalah sia-sia untuk berpikir bahwa individu manapun punya kuasa untuk bertindak atau untuk menikmati.

Kamis, 04 Agustus 2011

YOGA ~ SATU-SATUNYA JALAN


Yoga; kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahkan yang disebut Hatta-Yoga telah sejak dahulu mendunia, sampai ke-dunia Barat. Yoga merupakan sistem yang amat luas spektrum manfaatnya di segala aspek kehidupan manusia.
Dari usianya yang panjang; mendahului semua ajaran agama dan kepercayaan, ia seakan telah menjadi ‘Agama Universal’; walaupun ia sama sekali bukan agama, menurut pengertian kita selama ini. Yoga hanyalah suatu konsep universal untuk mendekatkan diri pada Yang Maha Esa; asal-muasal dari segala sesuatu, sebab dari segala sebab yang berakibat.
Dapat ditelusuri dan dibuktikan bahwa semua Nabi, Maharshi, Bhagawan Besar yang dikenal umat manusia adalah seorang Yogiçwara. Yoga adalah jalan (marga) menuju kesempurnaan untuk kembali kepada asal dengan sempurna, untuk selama-lamanya.

Keagungan YOGA.

Yoga merupakan Shakti dari Yang Maha Kuasa. Semua peradaban besar, sekte serta kepercayaan apapun (termasuk Babilonia dan Mesir Kuno) mengindikasikan adanya pemanfaatan kekuatan Yoga. Dikatakan, bahwa Yoga diajarkan untuk pertama kalinya oleh Hyang Çiwa Natharaja, seorang pertapa di pegunungan Himalaya, pada sekitar 7000 tahun yang lampau. Beliau dikenal sebagai Dewa Çiwa oleh umat Hindu, itulah penghormatan besar (yang pertama) bagi seorang Yogi sebagai hasil dari usahanya didalam memuja dan berbhakti pada Yang Esa.
Setelah itu disusul oleh Avatara, yang diyakini sebagai “inkarnasi Tuhan ke dunia”. Sri Krishna, yang diperkirakan hidup sekitar 3500 yang lampau, adalah Avatara di Jaman Dwapara. Avatara yang terakhir hingga kini, terakhir terlahir lebih dari 2500 tahun yang lampau di suatu negara kecil di Timur Laut India, bernama Kapilavattu (Kapilawastu).
Pada suatu ketika pernah datang Iskandar Zulkarnaen ke lembah Sindhu; sang Kaisar mencatat bahwa saat itu telah berkembang Yoga dengan semaraknya. Bahkan disebutkan, Sang Kaisar sendiri meninggal akibat kutukan dari seorang Yogi, yang menjadi marah demi mengetahui negerinya dan bangsanya dirampok dan dibantai oleh Zulkarnaen. Kaisar Zulkarnaen, yang juga dikenal sebagai Iskandar Yang Agung nan perkasa telah mati muda akibat kutukan dari seorang Yogi di Lembah sungai Shindu.
Tiada maksud saya untuk mengatakan bahwa Yoga itu untuk mengutuki orang, tetapi saya bermaksud menyampaikan bahwa Yoga telah diketahui eksistensi dan keampuhannya oleh dunia-barat sejak ribuan tahun yang lampau. Betapa perkasapun seorang Kaisar, tidaklah dapat dibandingkan dengan seorang Yogi yang hidup sederhana sebagai pertapa.

HINDU dan BUDDHA sebagai INSPIRATOR.

Seorang filsuf besar Yunani Pythagoras (580-500 SM) bahkan menunjukkan adanya pengaruh ajaran Hindu, jauh sebelum jaman Nasrani dan lebih jauh lagi dari jaman Islam di Timur-Tengah. Kenapa Timur-Tengah mempunyai peradaban dan agama yang jauh di belakang peradaban di India?
Setelah ribuan tahun keberadaan Hindu dan Buddha, peradaban dan agama Nasrani (Kristen) baru terlahirkan di Timur-Tengah. Menurut hemat saya, kebudayaan tinggi kurang berkembang dalam alam dengan kondisi geografis yang tidak ramah. Ketidakramahan iklim gurun, seperti di Timur Tengah menyulitkan makhluk hidup apapun untuk bertahan hidup. Kalau untuk hidup saja sulit, bagaimana sempat memikirkan masalah rokhani.
Awal-awal peradaban tinggi di Nusantara ditunjukkan oleh kedatangan Aji Çakka di awal tahun-tahun Masehi. Ada yang menyebutkan bahwa sekitar tahun 78 Masehi telah berkembang peradaban dan telah dikenal huruf dan ilmu astronomi serta kalender di Nusantara. sedangkan tahun Hijriah baru dimulai kurang lebih 500 tahun kemudian.
Jadi Budaya Nusantara telah eksis dan berkembang kurang lebih 500 tahun sebelum kelahiran Islam di tanah asalnya. Dari sini bisa kita lihat betapa budaya kita telah demikian tuanya dan telah mengalami perkembangan yang terus menerus disempurnakan dari tahun ke tahun hingga kini.
Memang sejak abad ke-16 terjadi perubahan radikal melalui cara-cara kekerasan/barbaris terhadap budaya Nusantara yang mapan ribuan tahun lamanya, yang dimotori oleh “Sembilan Wali” (secara mithologis).
Sejak itu pula secara ber-angsur budaya nusantara yang telah sedemikian tinggi —seperti yang bisa kita lihat pada Prambanan dan Borobudur itu— semakin surut dan terdesak. Hingga kini, dianut hanya kurang dari 3% (tiga persen) warga negara Indonesia.

Tragedi KEMANUSIAAN dan SLOGAN SAKTI.

Tragedi budaya pernah terjadi di tanah tumpah darah kita tercinta Indonesia. Para leluhur kita telah menjadikannya besar, dan para leluhur kita pulalah yang telah memporak-porandakan kebesaran itu. Demikianlah drama manusia di sepanjang peradabannya. Ada kalanya pasang, ada kalanya surut, ada kalanya terang, ada pula saatnya gelap.
Berbicara masalah gelap, dan surut, kegelapan masa pembrontakan PKI dulu (34 tahun yang lalu) kini terulang kembali dengan ribut-ribut reformasi. Semakin lama, sejak dicetuskan, ia kini kian menjadi wabah penyakit ketimbang obatnya sendiri. Ini tampak dengan jelas melalui kerusuhan-kerusuhan, penjarahan-penjarahan kebrutalan-kebrutalan yang merendahkan martabat kemanusiaan, bahkan kesulitan ekonomi yang parah, akibat dari ulah sementara pihak provokator pengacau yang berkedok “Reformasi”.
Setiap jaman mempunyai “Kata Sakti”, bila pernah ada selogan “Revolusi” dan “Nasionalisme” yang melahirkan Negara Republik Indonesia Merdeka. Menyusul didengungkan kata sakti “ANTI-KOMUNIS” dan “PEMBANGUNAN”. Dan kini, sedang kita alami apa yang tersebut “ANTI-KKN” dan “REFORMASI”.
Masing-masing jaman ada slogan saktinya, dan masing-masing jaman punya pemimpinnya. Jaman apa berikutnya lagi? Biarlah jaman yang menjawabnya. Kita harap jaman itu jauh lebih baik; walaupun ketika itu terjadi, saya dan saudara telah tiada, dikenang sebagai almarhum kakek/nenek atau sebutan lainnya.

YOGA, anugerah kekal-abadi bagi MANUSIA.

Yoga; hingga kini tetap eksis dan tidak akan pernah almarhum. Kenapa? Sebab ia milik kita, milik manusia. Selama umat manusia menghuni bumi ini, selama itu pula ada Yoga; agama universal untuk seluruh umat manusia.
Hinduisme, Buddhisme, Nasrani, Jnanaisme, Islam, ajaran Taurat, Kong Fu cu, Taoisme, Sinto dan lain-lainnya dapat mengalami pasang-surut (bahkan mungkin bisa punah), namun Yoga tidak. Selama ada manusia di muka bumi ini selama itu juga Yoga tetap bertahan; bahkan diyakini bahwa alam semesta beserta isinya, tercipta melalui Tapa-Yoga dari Yang Maha Pencipta. Kenapa? Karena Yoga itulah yang memungkinkan proses Penciptaan, Pemeliharaan dan Pralina itu; Yoga satu-satunya jalan untuk kembali pada-Nya.
Yoga istilah yang bagi sementara orang terdengar seram, dan membuat jerih. Padahal sama sekali tidak demikian adanya. “Yoga”; istilah yang selama ini berkonotasi hebat dan hanya dijalani oleh orang-orang tua, atau para “sulinggih” (alim ulama-Hindu), sebetulnya tidak lebih dari ilmu praktis yang amat rasional, logis dan ilmiah secara kejiwaan.
Apabila dijalankan amatlah praktis dan mudah dilakukan bagi siapa saja (asal manusia), kecuali binatang (dalam arti luas). Inilah satu-satunya syarat bagi pemraktek sistem Yoga ini, yaitu syarat utamanya adalah “Manusia”. Sebab “hanya Manusia, yang bisa ber-Yoga”. Tentu saja Anda bukan binatang; saya tahu persis itu. Hingga kini belum pernah saya dengar binatang yang bisa membaca huruf latin, entahlah kelak saya tidak tahu.
Yoga sistem praktis tidak jauh dengan “Technical Manual” yang amat aplikatif didalam IPTEK, yang sangat akrab dengan kita semua. Tidak lebih dari petunjuk praktis pengendara sepeda motor bahkan sepeda gayung. Apabila kini hampir semua orang dapat mengendarai sepeda dan sepeda motor; saya yakin “setiap orang dapat mempraktekkan Yoga”. Namun apabila monyet/simpanse bisa mengendarai sepeda, Yoga hanya bisa dipelajari dan dilaksanakan oleh manusia, hanya itu bedanya, tidak lebih dari itu. Oleh karena itu Anda tidak perlu berkecil hati karenanya. Apalagi “Japa-Yoga”, dapat diterapkan bahkan bagi mereka yang buta huruf sekalipun (tentu dengan bimbingan).

Awalnya perlu GURU.

Di awal tulisan ini, saya coba memperkenalkan apa yang disebut dengan Japa-Yoga, Yoga praktis untuk siapa saja. Tidak ada batasan umur, tingkat intelektual, agama, suku, ras (SARA pokoknya), jenis kelamin dan kebangsaan. Kemudian dijelaskan mengenai syarat-syarat untuk mengikuti jalan ini, yang jelas “manusia” adalah syarat mutlak. Tentu saja sehat jasmani dan rohani, sebab yang sakit ingatan, buta atau tuli-bisu tidak mungkin dapat mengikutinya.
Guru atau pembimbing sebetulnya dapat diperoleh dimana saja ditempat (kota maupun desa) Anda berada. Namun yang umumnya sulit adalah mengetahuinya, kecuali Anda tanyai semua penduduk desa atau kota dimana Anda tinggal, dan tentu itu tidaklah mungkin.
Jadi khusus Japa-Yoga ini segala kemudahan Anda bisa peroleh karena amat-amat sederhana dan praktis. Kalau untuk sekolah taman kanak-kanak pun perlu bayaran, Japa-Yoga tidak perlu uang bayaran, bahkan untuk mendaftar sekalipun. Asal dapat diyakini Anda “sehat lahir batin”, langsung diterima sebagai peserta Japa-Yoga. Memang sedemikian mudahnya bagi Anda, itulah Japa-Yoga.

HATI-HATI, JANGAN MUDAH TERKECOH!

Apabila kemudian Anda juga diperkenalkan dengan Japa-Yoga, namun syarat-syaratnya sulit dan aneh-aneh, maka berhati-hatilah kawan sebab itu bisa saja ajaran sesat yang menyelewengkan Yoga untuk kepentingan-kepentingan pribadinya. Oleh karena itu, berhati-hatilah kawan. Apalagi dimana krisis moneter seperti ini, pikiran orang jadi macam-macam dan aneh-aneh.
Mengenai hasil yang dapat Anda harapkan “terutama” adalah kesehatan Anda secara jasmani dan rohani menjadi betul-betul “prima”. Penyakit-penyakit yang secara medis tidak terdeteksi, apalagi diobati, termasuk “penyakit perasaan” dan “penyakit pikiran ringan” dapat disembuhkannya.
Dengan menggunakan peralatan seadanya yang Anda miliki, hanya itu. Namun secara menyeluruh, spektrum dari hasil amat luas, bisa segala macam aspek kehidupan kita sebagai manusia. Jadi amatlah luas lingkupnya.
“Setiap pencapaian atau hasil tergantung usaha kita sendiri”; tidak mungkin kita ke Jakarta dengan tiket Surabaya. Atau hampir tidak mungkin ke Jakarta dengan berjalan kaki bukan? Apalagi hasil-hasil yang bersifat spiritual, tentu dibutuhkan kesungguhan dan tekad yang kuat, disamping ketabahan dan kesabaran yang memadai.
Untuk belajar awalnya harus dengan bimbingan Guru atau pembimbing (instruktur). Tempatnya bisa dimana saja, asal ada pembimbing senior. Namun sebaiknya adalah; ketemu dengan Guru barang sekali saja, setelah itu lewat surat, faximille atau telepon dan sarana komunikasi lainnya yang memungkinkan; hal itu bisa-bisa saja.

AMAT SEDERHANA dan benar-benar PRAKTIS.

Jadi amat praktis; asal pernah ketemu dengan Guru, walaupun Anda ada di Kanada atau Peru sekalipun dapat dibimbing lewat telepon. Bertemu Guru itu penting dan mutlak perlu; hanya itu syarat untuk belajar; dan untuk menemui beliau tidak ada birokrasi maupun dipungut bayaran apapun.
Ber-Yoga sendiri di rumah, dimungkin apabila telah bertemu dan mendapat restu Sang Guru. Apabila hal ini dilanggar walaupun Anda jauh dari Guru Anda, beliau akan mengetahuinya. Aturan ini hanyalah demi keselamatan dan kebaikan Anda. Bukan siapa-siapa; jadi tidak ada birokrasi disini. Demikian juga kolusi dengan Sang Guru tidak mungkin; sebab beliau tidak menarik bayaran juga beliau tidak butuh apa-apa dari Anda; Andalah yang butuh beliau.
Nah... prakteknya secara garis besar adalah duduk dengan tenang dan berkonsentrasi pada sesuatu. Sesuatu itu dapat “berbentuk atau tidak berbentuk”, setelah Anda diberikan objeknya oleh Sang Guru secara langsung Anda dapat melakukannya sendiri.
Berselang beberapa lama, Anda akan diberikan petunjuk-petunjuk berikutnya, sampai Anda dapat melakukannya sendiri dan tanpa bantuan intensif dari Pembimbing atau Guru Anda. Demikian prakteknya, amat sederhana bukan?
Kini marilah kita mulai menyimaknya satu-per-satu di dalam uraian yang lebih lengkap. Perlu dipahami sebelumnya bahwa, tulisan ini tidak mengantarkan Anda kemanapun apalagi kepada tujuan akhir. Tulisan ini hanya memperkenalkan apa itu Japa-Yoga; selanjutnya Anda dapat menghubungi pembimbing terdekat atau guru secara langsung, bilamana belum memilikinya. Saya ingatkan kembali bahwa dalam Yoga, tidak ada sama sekali yang disebut “KKN”, murni “reformasi” di dalam diri Anda sendiri.

APAKAH JAPA-YOGA ITU?

Singkatnya, Japa-Yoga adalah praktek Yoga (yoga-sadhana) dengan menggunakan Japa. Yoga adalah upaya menghubungkan dan menyatu dengan Yang Maha Esa. Sedangkan Japa adalah mantra pendek yang diucapkan dengan bersuara ataupun di dalam hati, secara berulang-ulang.
Japa dapat berupa apa saja berbentuk (rupam) ataupun tidak berbentuk (arupam). Japa tentu dipilih sedemikian rupa, sesuai dengan yang dianggap paling sesuai bagi seorang Sadhaka; yang jelas, Japa merupakan sepatah kata atau lebih, yang umumnya merupakan nama/sebutan Tuhan.
Japa ataupun Mantra umumnya menggunakan bahasa sansekrta. Bahasa kawi, untuk di Indonesia, kwalitas spiritualnyapun tidak kalah dibanding bahasa sanskrta. Ia mempunyai banyak persamaan dan kedekatan dengan bahsa induknya. Bukankah sansekrta merupakan nenek moyangnya bahasa-bahasa di dunia?
Untuk pemahaman mengenai Yoga, berikut disuntingkan uraian dari Swami Satya Prakas Saraswati berikut ini.
Yoga adalah penghubungan, pengaitan atau persatuan jiwa individual dengan Beliau Yang Maha Esa, mutlak dan Tak Terhingga.
Jadi gagasan tentang Yoga bertolak dari adanya banyak satuan-satuan individual yang sadar, biasanya dikenal dengan sebutan “diri-jati”. Diri-jati umumnya berhasrat untuk dihubungkan dengan Tuhan. Perpisahan diri-jati bersifat sementara dan disebabkan oleh ketidaktahuan atau avidya, sebagai akibat dari ikatan-ikatan terhadap Prakrti.
Jadi, sebetulnya bukanlah Tuhan yang terpisah dari kita, melainkan kita yang terpisah dari Beliau. Keterpisahan ini bersifat “Uni-direksional”, yakni hanya mengenal satu jurusan; maksudnya, “kitalah yang melupakan Beliau, bukan Beliau yang melupakan kita”. Secara proporsional, demikianlah kondisi kita yang belum menemukan Diri-jati.

YOGA HARUS DILATIH.

Kita berdiri jauh dari Beliau sejak lama; oleh karenanya untuk mendekati Beliau lagi tidaklah mudah. “Divergensi”, kita dari Beliau harus diganti dengan “konvergensi”, dengan perkataan lain kita harus bergerak “menuju” Beliau.
Yoga menyediakan kita suatu proses untuk mencapai konvergensi itu. Untuk itu diperlukan latihan yang intens dan senantiasa “waspada” di pihak kita. Dapat diibaratkan, kita sedang berenang ke hulu dengan melawan arus.
Tidak ada dispensasi untuk memperpendek jalan; upaya ini memerlukan suatu disiplin. Anda dapat menipu siapa saja, tetapi Anda tidak dapat menipu diri sendiri, apalagi Tuhan. Nah, demikialah seharusnya pandangan kita dalam melangkah di jalan ini.
Banyak di antara kita,yang dapat dengan cepat menangkap ajaran, sementara lebih banyak yang agak lambat. Memang ada yang seolah-olah terlahirkan sebagai “Yogi” ataupun “siddha”, sementara orang lain memerlukan banyak waktu hanya untuk mempelajari awal dari Yoga. Ini berkaitan erat dengan sancita karma masing-masing.
Jenis penyatuan, yang dimaksudkan dalam ilmu Yoga sukar untuk digambarkan. Mungkin lebih mudah untuk mewujudkannya secara mandiri melalui praktekm langsung. Akan tetapi, janganlah berkecil hati. Setiap usaha betapapun kecilnya, tetap ada manfaatnya.
Mendekati Beliau dengan Cinta dan Bhakti, amat menjanjikan. Beliau akan membantu Anda dalam setiap langkah Anda menuju Beliau. Kita semua disayangiNya. Dalam Upanisad, antara lain disebutkan:
“Diri Tertinggi ini tidak dapat dicapai dengan perintah saja.
Juga tidak melalui intelek atau dengan banyak belajar.
Beliau hanya dicapai oleh mereka yang Beliau pilih.
Kepada orang demikian, Beliau menganugrahkan Diri-jati”.

Dan apakah yang terjadi, bilamana suatu penggabungan, seperti yang dimaksudkan dalam sistim YOGA telah terwujud? Disinipun Upanisad membantu kita seperti berikut ini.
“Seperti sungai mengalir ke dalam samudra.
Lenyap, meninggalkan nama dan wujud.
Begitulah yang mengetahui, bebas dari nama dan wujud.
Memasuki Pribadi Suci, lebih tinggi daripada yang Tinggi”.

Mereka yang mencapai tahap tertinggi dalam Yoga, menjadi penguasa diri sepenuhnya, mencapai bentuknya yang murni, tak ternoda dan tak tercemar oleh modifikasi-modifikasi Prakrti; ia sebagai penikmat Kebahagiaan Utama.

YOGA ~ JALAN SATU-SATUNYA.

“Just as one thread penetrates all flowers in a garland,
so also one Self penetrates all these living beings. Behold the one Self in all.
Serve all. Love all. Give up the idea of diversity.
You will be established in Brahman.
When one Atman dwells in all living beings, then why do you hate others?
Why do you use harsh words?
Why do you try to rule and dominate others?
Why do you exploit others? 
Why are you intolerant?
Is this not the height of folly;
is it not sheer ignorance?”
~Sri Swami Sivananda.
Dengan hadirnya wacana dari Sri Swami Sivananda, yangsaya kutipkan dari “Sivananda Day-to-Day”, maka serial posting “Yoga ~ jalan satu-satunya” pun saya akhiri sampai disini.
Menerapkan Dharma, tak berarti hanya mempelajari kitab-kitab suci, ataupun hanya mengandalkan kekuatan fisik semata. Ia jauh dari itu, ia mesti didasari ‘pengetahuan’ (vidya) yang memadai. Pengetahuan mana tidak kita peroleh hanya melalui menghafal berbagai kitab/ pustaka suci. Praktek langsung dalam berbagai Sadhana adalah pengabdian itu sesungguhnya. Disanalah kita menemukan apa itu yang disebut Sanatana Dharma.
Semoga kita semua senantiasa dibimbing dalam jalur Dharma dan senantiasa melangkah menuju pada-Nya.
________________
*Tulisan ini merupakan kumpulan serial tulisan yang dikirimkan ke milis Hindu-Dharma Net pada sekitar pertengahan bulan Oktober 1999, dan disunting kembali pda tanggal 1 Agustus 2006.